Wisata Berujung Duka, Mengapa?

Aktivis Muslimah, Devita Deandra

Oleh: Devita Deandra

Pasca ambrolnya seluncuran Waterpark di Surabaya yang sempat viral beberapa waktu yang lalu, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji pun meminta semua fasilitas hiburan dicek kelayakannya, hal itu disampaikan pascakejadian ambrolnya seluncuran di Waterpark Kenpark, Kenjeran, Kota Surabaya, Sabtu, 7 Mei 2022. Insiden ini mengakibatkan 16 orang cedera.

"Kami meminta agar dilakukan pengecekan terhadap fasilitas umum tempat hiburan baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta agar tidak menimbulkan kejadian serupa di kemudian hari," kata Armuji di Surabaya, Sabtu, 7 Mei 2022.

Sementara itu, Pengelola Kenjeran Water Park di kawasan Kenpark Surabaya, Jawa Timur, mengungkap perosotan kolam renang ambruk diduga karena overload, Pengelola mengklaim selalu rutin melakukan perawatan.

"Karena overload yang naik, kita selama ini sudah melakukan perawatan," kata perwakilan pengelola Kenpark Surabaya, Bambang Irianto, seperti dilansir detikJatim, Sabtu (7/5/2022).

Menanggapi kejadian ini memang sungguh sangat disayangkan jika pelaku usaha mencukupkan hanya melakukan mengecekan, sementara kelayakan dan keamanan tidak menjadi prioritas, seharusnya jika memang tempat tersebut memiliki standar keamanan, maka harus diperhatikan keselamatan pengunjung. Mulai dari kapasitas dan lain sebagainya, sebab dengan adanya kejadian tersebut tentu saja ini tidak lepas dari kelalaian pengelola, yang kurang memperhatikan dan memberlakukan ketertiban sehingga terjadi yang namanya overload.

Terjadinya musibah memang tidaklah diinginkan oleh siapapun, namun yang harus dipahami ketika sebuah kecelakaan itu terjadi pastilah ada sebab, disamping ada qodho Allah disana. Kejadian ini tentu menjadi pertanyaan, benarkah tempat tersebut sudah memaksimalkan keamanan pengunjung pada saat kejadian? karena faktanya overload pun terjadi, padahal pengelola tentu paham kapasitas tempat yang dikelola. Namun membludaknya pengunjung tentu juga menjadi alasan kurangnya perhatian pengelola dalam hal keselamatan dan ketertiban.

Dari sini semakin membuka mata kita, bahwa lagi-lagi keselamatan ditempat umum tidak terjamin. Yang lebih disayangkan para pelaku usaha hari ini lebih mengutamakan keuntungan dari pada keselamatan para pengunjungnya. Memanglah dalam kehidupan yang materi dan untung rugi menjadi tolak ukur akan terus terjadi yang namanya ketidak pedulian antar sesama. Inilah sistem hidup kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini, yang juga menghilangkan peran negara sebagai pengontrol utama dan memastikan terjaminnya rakyat dalam segala hal, termasuk tempat wisata dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. Sebab negara/pemerintah seharusnya menjadi penanggung jawab utama dalam hal keselamatan, meskipun pengelolaan diserahkan kepada pihak swasta seharusnya pemerintah juga berperan aktif dalam mengontrol dan memberi sanksi terhadap para pengusaha-pengusaha yang tak mematuhi peraturan maupun melakukan kelalaian. Bukan hanya sekedar hadir sebagai regulator dan fasilitator yang memuluskan usaha para pemodal namun mengabaikan keselamatan masyarakat.

Padahal jelas keselamatan dan keamanan rakyat adalah tanggung jawab negara dan pemerintah, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Imam adalah perisai. Di belakangnya umat berperang, dan kepadanya umat berlindung.” (HR. Muslim) .

Namun akibat penerapan sistem yang memisahkan agama dari kehidupan inilah fungsi negara dan pemimpin yang sesungguhnya menjadi hilang. Akibatnya, nyawa manusia pun begitu murah, keuntungan demi keuntungan selalu menjadi prioritas utama bagi para pelaku usaha begitu pun negara yang seharusnya menjadi pengayom hanya menyerahkan urusan keselamatan kepada pihak pengelola atau swasta.

Sungguh hidup dalam sistem kapitalisme sekuler hanya semakin membawa kesengsaraan sebab tidak adanya perlindungan dan kepedulian dari penguasa yang menjadi pemimpin dalam sebuah negara. Jauh berbeda ketika penguasa dalam negara tersebut menerapkan sistem Islam, sebab sistem Islam begitu menjaga nyawa, keselamatan dan keamanan menjadi prioritas sebab itu merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi oleh negara selain kebutuhan primer lainnya, sebab keselamatan merupakan hak setiap rakyat.

Untuk itu kita sebagai umat Islam yang hidup dinegeri muslim terbesar sudah selayaknya memperjuangkan kembali tegaknya sistem Islam. Sebab selama khilafah atau sistem pemerintahan Islam belum tegak berdiri sebagai “junah” (perisai) bagi umat, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua, kaum muslimin untuk terus memperjuangkan keberadaannya. Agar kehidupan menjadi lebih baik, memperbaiki kerusakan-kerusakan yang selama ini terjadi dalam setiap lini. Tidak hanya masalah pariwisata dan fasilitas publik lainnya yang mampu diperhatikan negara namun juga seluruh kebutuhan rakyat seperti halnya keamanan dan keselamatan pun mampu negara penuhi. Dengan adanya negara dan juga pemimpin yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Wallahu A'lam

*) Penulis adalah Aktivis Muslimah