oleh

Walhi: Neoliberalisme Adalah Akar Dari Permasalah

RadarKotaNews, Jakarta – Perubahan iklim adalah sesuatu kegagalan ekonomi global kita lihat alam ini ketika paradigma pembangunan mereka mengeksploitasi perempuan dan alam, yang mana adanya perbudakan karena murahnya upah yang mereka bayar.

Hal tersebut di sampaikan Wahana Lingkungan Hidup Nasional (WALHI Nasional) Khalisah Khalid saat diskusi di Gedung LBH jakarta.

Menurut Khalisah, Penggunaan kekuasaan semua aktor negara dan korporasi selalu menggadang jargon pertumbuhan ekonomi diusut sebagai bicara soal kesejahteraan, namun, bagaimana untuk menyokong ekonomi negara tersebut, tapi saya kira itu adalah gagal karena adanya praktek kerakusan.

“Kita tunjuk sebagai sebuah kegagalan dan apa yang mereka perbuat dengan menjadikan suatu gerakan besar karena krisis iklim kita sebut itu adalah gerakan politik anak muda,”jelasnya

Sementara, adanya perubahan sistem yang tidak adil karena krisis iklim, mereka merubah pola pikir pimpinan negara karena adanya gerakan Justice Sistem, “ini kok bisa anak muda menggerakkan mogok sekolah jika kita refleksi karena pendidikan di kita tidak cukup membangun kritis.”

Khalisah menilai, bukan hanya keterkuatan lingkungan hidup rusak yang menjadi dampak karena ikatan spiritualitas sangat kuat. Namun Pembanguan yang maskulin hampir disemua di industri extaktif ada di dunia pertambangan.

Dalam konteks perempuan menurut Khalisah, mogok itu bukan konteks formal tetapi suatu malapetaka yang harus diperhatikan, kita sudah capek bicara, menuntut, demonstrasi kemudian yang ditangkap diskon 70 persen, inilah kapitalisme yang seharusnya dibasmi, bagaimana perempuan untuk memperjuangkan hidupnya, kita pakai mogok kita ada dan kita beharga.

“Dampak kerusakan lingkungan akan sangat terasa oleh perempuan, mogoknya itu paling banyak kerja secara gender yang dilakukan oleh perempuan. Untuk melakukan pemogokan ditahun 2020 harus teroganisir dengan cara menggerakkan sosmed untuk mengedukasi gerakan yang besar. Sebab, Krisis ekonomi dan iklim yang di negara kita sudah cukup bisa membuat kemarahan publik, jika tidak juga berarti dibuat pergerakan masyarakat agar turun kejalan, tidak bisa semerta merta dan butuh waktu dengan syarat syarat yang tercukupi.”tutur Khalisah.(wawan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed