Wajah Baru Israel, Angin Segar bagi Palestina?

Oleh : Fani Ratu Rahmani

Sejak 2019, Israel mengalami krisis politik. Krisis Politik ini berlanjut sampai pemilu ketiga diselenggarakan pada awal 2020.

Dari situ, Netanyahu dan Gantz dari partai berhaluan tengah Biru dan Putih sepakat untuk berbagi pemerintahan, Netanyahu akan menjadi PM selama 18 bulan, kemudian Gantz menggantikannya pada separuh periode pemerintahan sisanya. (Tirto.id, 18/6/21)

Pergantian PM Israel ini menyeret nama lain yakni Naftali Bennet, pemimpin partai sayap kanan Yamina. Walaupun berbeda secara haluan politik, Bennett sepakat menjalin kerjasama dengan Yair Lapid. Awalnya Bennett akan menjabat sebagai Perdana Menteri, kemudian Bennett akan memberikan kursinya kepada Lapid pada 2023 nanti. (Tirto.id, 18/6/21)

Hanya saja kita perlu tahu Bennett dengan jagat politiknya tidak bisa dipisahkan dari Netanyahu. Bennett pun vokal dalam menyuarakan sikapnya yang anti-kemerdekaan Palestina. Dalam wawancara, ketika ditanya tentang prospek berdirinya negara Palestina, Ia tidak akan serahkan satu sentimeter pun lahan Tanah Israel. (Tirto.id, 18/6/21)

Melihat pergantian PM Israel terbukti tidak bisa menjadi angin segar bagi kaum muslimin. Kita harus menepis adanya harapan dari pergantian wajah ini. Sebab, siapapun yang memimpin Israel tetaplah memiliki makar dan tujuan yang sama yakni menguasai tanah suci milik kaum muslimin. Mereka pun menginginkan 'pembersihan' atas kaum muslim.

Selain itu, Israel tidaklah sendiri. Israel didukung oleh negara kafir barat terutama negara adidaya AS. Negara adidaya memiliki kepentingan terhadap kaum muslim yakni menjajah secara pemikiran, fisik, ekonomi bahkan menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan, apalagi siapapun presiden AS tetap mendendangkan narasi yang sama yakni mendukung Israel. Dan memerangi muslim Palestina atas nama pemberantasan terorisme.

Hal ini seharusnya disadari oleh puluhan pemimpin muslim. Bahwa kafir barat jelas membunyikan lonceng permusuhan terhadap Islam dan kaum muslim. Namun, pemimpin muslim tetap berdiri di bawah ketiak negara adidaya. Ya, negeri muslim berada dalam cengkeraman negara adidaya yang berstatus negara pengikut. Maka, sulit sekali bagi negeri muslim untuk mengambil sikap selama masih terikat secara perjanjian internasional maupun jeratan ekonomi kepada negara adidaya.

Umat Islam dan seluruh pemimpin muslim harus mengembalikan Palestina sebagai tanah Kaum Muslimin kembali. Kita harus bersatu untuk merebut kembali tanah Palestina dari penjajah zionis Yahudi.

Tanah Palestina adalah tanah kharaj milik Kaum Muslim di seluruh dunia. Statusnya tetap sama hingga hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan tanah kharaj kepada pihak lain, apalagi kepada perampok dan penjajah seperti Yahudi Israel.

Oleh sebab itu, sikap yang seharusnya kaum muslim dan pemimpin muslim lakukan terhadap Israel yang telah merampas tanah Palestina adalah sebagaimana yang telah Allah SWT perintahkan, yakni perangi dan usir. Sebagaimana dalam Surah at Taubah ayat 14 :

"Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman"

Kita harus mewujudkan kekuasaan Islam yang berlandaskan akidah dan syariat Islam. Yang akan membebaskan Palestina kembali ke pangkuan muslim. Hanya Khilafah yang menjadi pelindung umat secara hakiki.

Khilafah akan menyerukan dan memimpin jihad untuk musuh-musuh islam. Tentu dengan kekuatan jihad pula Khilafah akan sanggup mengusir Israel dari tanah Palestina. Wahai pemimpin dunia Islam ! mari bebaskan tanah Palestina dalam bingkai persatuan umat Islam yang agung Khilafah Islamiyyah. Sebagaimana Umar bin Khathab, Shalahuddin Al Ayyubi, dan Sultan Abdul Hamid II yang menjaga tanah Palestina hanya menjadi milik kaum muslim. Wallahu a’lam bish shawwab.

*) Penulis adalah Aktivis Muslimah

Baca Juga