Wabah Belum Berakhir, Hepatitis Misterius Mengancam

Ilustrasi

Oleh: S. Maftukhah, SE.

Wabah covid-19 masih belum tampak kapan berakhir. Bahkan di Shanghai terjadi ledakan kasus.

Akibatnya, ibukota China, Beijing, menutup puluhan stasiun metro dan rute bus sebagai upaya menghentikan penyebaran covid-19. Kota lain di China mengumumkan keharusan kerja dari rumah. (gorontalo.tribunnews.com)

Virus corona yang diyakini telah muncul di pasar di kota Wuhan pada akhir 2019, merusak pertumbuhan ekonomi dan merugikan perusahaan internasional yang berinvestasi di sana. Tak cukup itu, bahkan hingga merusak perekonomian dunia.
Termasuk perekonomian Indonesia. Dan belum pulih ekonomi akibat virus ini muncul, kini Indonesia menghadapi penyakit hepatitis misterius yang menyerang anak-anak.

Pemerintah melalui Kemenkes (Kementerian Kesehatan) menghimbau kepada warga Indonesia untuk waspada pada penyakit yang memiliki gejala mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran ini. Himbauan ini muncul setelah kasus tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta meninggal dunia dalam waktu yang berbeda dengan rentang dua pekan terakhir hingga 30 April 2022.

WHO sendiri telah menjadikan kasus hepatitis ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah laporan kasus hepatitis terus bertambah dan tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara. (www.cnbcindonesia.com)

Penanganan covid-19 belum tuntas sehingga menelan korban yang tidak sedikit dan hampir seluruh dunia terdampak, seharusnya membuat seluruh negara yang ada untuk mencari solusi cepat dan tepat agar wabah tak semakin meluas.

Penanganan wabah covid-19 yang selama ini telah dilakukan adalah berdasar Kapitalisme. Sebagai sistem yang mendunia (yang paling banyak dianut oleh banyak negara), Kapitalisme tak mampu mengatasi penyebaran virus ini. Terbukti hingga hari ini, penyebaran virus belum berhenti sehingga berimbas pada sektor-sektor lain termasuk ekonomi dunia yang cenderung mundur.
Karena solusi Kapitalisme masih bersifat tambal sulam dan berorientasi pada keuntungan (baca=materi) semata.

Wajar jika itu yang terjadi. Karena Kapitalisme lahir dari kejeniusan manusia. Artinya, sistem ini adalah sistem buatan manusia. Manusia memiliki keterbatasan dan kecenderungan yang berbeda-beda. Sehingga saat menyelesaikan masalah pun juga berdasar pada ‘sangkaannya’ manusia.

Jika Kapitalisme yang selama ini dianut oleh hampir seluruh dunia tidak mampu menyelesaikan masalah wabah, maka seharusnya dunia mencari solusi alternatif. Solusi itu adalah solusi Islam. Karena solusi Islam berasal dari Dzat yang Maha Tahu, Dzat yang menciptakan manusia termasuk wabah ini.

Dalam Islam, wabah yang menular harus diselesaikan (salah satunya) dengan penguncian. Wilayah sumber wabah harus dibatasi pergerakan keluar masuknya. Harus dikunci wilayahnya, agar orang yang berada di dalam tidak keluar dan yang diluar tidak masuk ke wilayah tersebut.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika wabah terjadi di tempat kalian berada, janganlah kalian tinggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari).

Dengan penutupan atau penguncian ini maka wabah juga tidak akan semakin menyebar.

Kemudian yang sakit diisolasi dari yang lain dan diobati hingga sembuh. Sehingga yang sehat masih bisa beraktivitas. Maka ekonomi masih akan bergerak atau berputar.

Apa salahnya bagi dunia untuk menyelesaikan masalah wabah ini dengan cara Islam, jika ternyata Kapitalisme tidak mampu. Bahkan Kapitalisme lah yang menyebabkan wabah tak kunjung usai. Wallahu a’lam[***]

*) Penulis adalah Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Baca Juga