Ulama Ditangkap: Terungkap Terorisme Berujung Islamphobia

Alumni Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Rahmi Surainah, M.Pd

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd

Umat Islam di Indonesia terbelah menjadi dua kubu setelah penangkapan tiga ulama. Pro dan kontra, pro yang mendukung kinerja Densus 88 dengan dalih terorisme, dan kontra bubarkan Densus 88 karena kriminalisasi ulama narasi Islamophobia.

Sudah rahasia umum, jelang akhir tahun isu terorisme semakin intensif diangkat. Di-blow up angka keberhasilan penangkapan dan dikaitkan dengan banyak hal yang diasosiasikan dengan Islam. Ulama, dana zakat atau kotak amal, bendera tauhid, ormas Islam, buku keislaman, pemahaman jihad dan Khilafah dsb yang berbau Islam dikaitkan dengan aksi terorisme.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memaparkan setidaknya ada sekitar 216 orang terlibat dalam aksi terorisme sejak Januari hingga Mei 2021. (Kompas.co, 27/5/2021)

Kasus terorisme memang mendunia. Sederet peristiwa aksi teror terjadi dari tingkat nasional hingga internasional seragam menjadikan Islam sebagai tertuduh. Muslim ketika di luar negeri, khususnya di Barat sebagai minoritas akan terjustifikasi teroris. Dalam media lokal pun ketika memberitakan terorisme maka pelaku selalu identik dengan muslim, baik dari segi nama keislaman dan sikap sholeh sering ke mesjid, lulusan pesantren, aktivis rohaniawan, barang bukti buku jihad atau simbol Islam lainnya.

Dua status diemban muslim sekaligus dalam hal terorisme. Pertama, muslim menjadi korban dituduh pelaku terorisme. Kedua, muslim menjadi korban aksi terorisme di dunia internasional, seperti muslim di Xinjiang China, Myanmar, dan Palestina.

Namun, anehnya kejahatan terorisme sesadis apapun meskipun meneror, merusak fasilitas publik, dan membunuh warga dan TNI tidak diakui sebagai tindak terorisme. Sebut saja OPM yang motifnya ingin membentuk negara baru hanya disebut gerakan kriminal bersenjata.

Bagaimana tidak menjadi pembenaran bahwa isu terorisme memang merupakan upaya memojokkan Islam dan umat Islam sebagai sumber dan pelaku teror. Perang melawan terorisme sekaligus islampobia adalah proyek untuk menjauhkan umat Islam dari Islam itu sendiri, memojokkan Islam, dan menghadang kebangkitan Islam.

Oleh karena itu, hendaknya kita tidak boleh terprovokasi oleh propaganda soal terorisme berlatar Islam. Kasus teror di belahan dunia terhadap muslim dan pelakunya bukan muslim menunjukan bahwa tindak teroris bisa dilakukan oleh siapa saja.

Agama apa pun pasti melarang tindak terorisme. Terorisme musuh bersama. Media pun dalam hal pemberitaan hendaknya jangan membuat framing, melebihkan dan menggiring opini terorisme sehingga membuat tersinggung dan melukai umat Islam.

Dengan demikian, penting meluruskan pandangan yang mencederai ajaran Islam. Tidak ada namanya teroris berlatar Islam dan tidak ada perang berkedok melawan terorisme sehingga Islam tersudutkan.

Kaum muslim dijadikan bulan-bulanan. Satu sisi menjadi pelaku teroris dan sisi lain jadi korban tindak terorisme. Darah muslim begitu mudah ditumpahkan, ditangkap tanpa pembelaan meski masih berstatus terduga.

Memang semenjak bom di WTC AS 11 September, islamphobia dan diskriminasi terhadap kaum muslim terus terjadi. Namun, di balik itu Islam justru berkembang pesat di negara Barat. Meski berkembang pesat muslim di Barat tidak diiringi dengan perlindungan dan jaminan oleh negara.

Muslim hanya mengandalkan kekuatan individu untuk menjaga keimanan dan jiwanya tanpa didukung kehidupan masyarakat dan negara. Oleh karena itu, harus ada penguasa dan negara yang melindungi kaum muslim. Negara yang tidak hanya berlabel islami/negara mayoritas Islam.

Kaum muslim perlu negara adidaya yang tentu tidak tersekat oleh nasionalisme. Khilafah adalah negara Islam yakni negara yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh. Negara yang tidak hanya berlabel Islam tapi memang lahir dari akidah Islam dan memancarkan aturan kehidupan.

Khilafah dan Khalifah merupakan sepaket aturan bernegara dan kepemimpinan yang berdasarkan Islam akan mampu menjaga darah kaum muslim seluruh dunia dari tindak teror dan ancaman terorisme. Tanpa Khilafah dan Khalifah kaum muslim akan terus tertuduh sebagai pelaku teroris sekaligus korban perang melawan terorisme.

Rasulullah saw bersabda:
Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai, orang-orang akan berperang di belakang dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya. (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, Abu Dawud dan Ahmad).
Wallahu'alam bishawab.

*) Penulis adalah alumni Pascasarjana Unlam Bjm

Baca Juga