Tolak Gaya Hidup Hedonis Ala Barat

Pemerhati masalah Umat, Siti Nur Ainun Ajijah (Ist)

Oleh: Siti Nur Ainun Ajijah

Kepanikan masyarakat terjadi saat Kamis (27/05/2021) lalu, beberapa daerah di Kalimantan Timur mengalami padam listrik. Salah satunya, Kota Samarinda. Kejadian 'blackout' ini disebabkan oleh adanya permasalahan kelistrikan sistem Mahakam di PLN.

Hal ini menyebabkan banyak masyarakat Kota Samarinda yang berbondong - bondong untuk menginap di hotel untuk melarikan diri dari rumah mereka yang mati lampu. Okupasi kamar di Hotel Aston penuh atau 100 persen. Demikian juga yang di Hotel Midtown jalan Hasan Basri. (Hotel di Samarinda Didatangi Banyak Tamu Menginap Saat Pemadaman Listrik - Portal Berita Samarinda Smart City)

Mal dan kuliner atau tempat makan jadi sasaran lain masyarakat saat menunggu listrik nyala. “Mal penuh mulai dari Big Mall, SCP (Samarinda Central Plaza), Mal Lembuswana sampai Samarinda Square.

Masyarakat datang karena menghindari listrik padam di rumah. (Kaltim Blackout, di Samarinda Lilin “Sold Out”, Hotel Penuh, Mal, Masjid dan Kuliner jadi Tujuan I Korankaltim.com)

Mewaspadai Hedonis Merusak Peradaban Mayarakat

Sekilas tampak tidak ada masalah dari sikap masyarakat di Kaltim menghadapi ‘blackout’ beberapa waktu lalu. Tetapi patut diwaspadai bagaimana gaya hidup dan berpikir pragmatis yang mendominasi sikap masyarakat dalam menghadapi dan mengatasi masalah hidupnya. Alih-alih berdiam diri di rumah, bersabar menunggu listrik menyala.

Ternyata kebanyakan mereka memilih dengan mengandalkan materi mencari solusi yang memudahkan mereka, mulai dari pindah bermalam ke hotel dan belanja di Mal untuk mendapatkan ‘penerangan’ dan ‘kesejukan’.

Kondisi masyarakat saat ini yang hidupnya serba instant, yang penting senang dengan mengandalkan kecukupan materi untuk mengatasi semua masalah hidupnya. Inilah cerminan masyarakat yang tidak mau repot dan mengejar kesenangan materi.

Sebagaimana pandangan hidup seseorang akan mempengaruhi bagaimana seseorang menjalani kehidupan ini, karena setiap manusia hidup dengan pandangan dan ideologi yang mereka anut masing-masing. Gaya hidup hedonisme sudah meracuni banyak masyarakat saat ini. Hedonisme yang artinya kesenangan atau pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.

Maka kejadian pemadaman listrik kemarin perlu diwaspadai makin menjalarnya gaya hidup hedonisme. Sikap mengejar kesenangan yang bersifat material dan serba praktis/instan dalam menyelesaikan semua masalah hidupnya. Gambaran kondisi ini merupakan cerminan sistem sekuler yang diterapkan di negeri dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia ini.

Gaya hidup hedonisme jelas bertentangan dengan gaya hidup muslim. Masyarakat dalam kehidupan Islam menjalani menjadi gaya hidup yang taat syariat dan tidak sekedar mengejar kesenangan hidup duniawi. Materi boleh dikejar sebanyak-banyaknya tetapi dengan tujuan untuk semakin taat pada Allah SWT.

Masyarakat tak segan untuk hidup sederhana

Gaya hidup hedonis sekuler hari ini jelas sudah menyumbang pengaruh buruk di masyarakat. Misalnya, banyaknya masyarakat saat ini yang berlomba-lomba untuk memakai pakaian dan barang-barang termahal juga bermerk (Branded). Hal ini dianggap mampu memberikan kepuasan kepada mereka karena mereka anggap lebih up date, lebih keren, dll.

Peradaban Hidup Islam

Islam agama sekaligus ideologi (Pandangan Hidup) sempurna yang Allah turunkan lengkap ketika Allah menciptakan manusia dengan seperangkat aturannya untuk menjadi standar atau rujukan manusia dalam menjalani kehidupan ini. Islam mengatur tidak hanya masalah Aqidah, Ibadah, makan, minum, pakaian, bahkan bernegarapun diatur oleh islam sebagaimana firman Allah :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (Al-Maa-idah: 3)

Begitu juga Islam mengatur bagaimana seharusnya manusia khususnya seorang muslim menjalani kehidupan ini. Islam memiliki standar untuk manusia untuk bergaya hidup taqwa, taat, sederhana (meski boleh kaya-raya dan menikmati kenikmatan dunia).

Manusia pun menyikapi setiap kondisi dan permasalahan dengan sabar dan tentu dari sudut pandang Islam. Tidak hidup dengan gaya hidup serba instan, boros, dan tergesa-gesa dalam menyikapi setiap permasalahan.

Melihat dampak yang tidak baik jika masyarakat terus-terusan dan mungkin tanpa sadar juga masyarakat sudah mengadopsi peradaban barat ini yaitu gaya hidup hedonisme yang  pasti akan semakin merusak peradaban hidup seorang muslim.  Seharusnya seorang muslim ketika sudah baligh memiliki kewajiban untuk mengikatkan diri dengan hukum syariat dengan ketaqwaan dan ketaatan dalam menjalani kehidupan ini dan menjauhi semua yang Islam larang.

Maka tolak gaya hidup hedonisme karena hal ini jelas bertentangan dengan Islam seperti Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8)

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (Q.S. At-Takatsur: 1-8)

Capaian tertinggi seorang muslim adalah mencapai ridho Allah dunia dan akhirat. Maka jalanilah kehidupan ini semua dengan standar Islam. yaitu halal/haram. Firman Allah :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya ketaqwaan dan ketaatan menghiasi hidupnya karena setiap orang pasti menginginkan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Maka tidak ada jalan lain kecuali dengan ketaatan yang totalitas dengan syariat Islam sehingga ridho Allah turun dan keberkahan hidup dunia juga akhirat dapat diraih dan dirasakan. Wallahu a’lam bi as-shawab.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga