Titik Nol IKN Sokong Pariwisata, Amankah?

IKN

Oleh : Perwita Sari,S.Si

Ahmad Herwansyah selalu kepala Dinas Pariwisata Kaltim berkata saat ini kurva kunjungan pariwisata baik wisatawan dalam negeri, maupun wisatawan mancanegara.

"Jika tahun 2021 yang lalu kunjungan mencapai 4 juta kunjungan. Maka Bulan Oktober ini kunjungan sudah di atas 4 juta. Kami optimis tahun depan jumlah pengunjung pariwisata bisa lebih dari jumlah tahun lalu maupun tahun ini".

Efek dari pandemi memang terasa dari berbagai aspek. Mulai dari daya beli masyarakat yang menurun. Tutupnya berbagai usaha, hingga pendapatan negara yang ikut anjlok dari berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata. (kaltimprocal.co,4/11/2022).

Wajar untuk memanfaatkan peluang. Aspek wisata disasar dalam meningkatkan pendapatan daerah bagi Kaltim. Terlebih karena Kalimantan sebagai titik nol berdirinya IKN, maka kunjungan ke objek Pariwisata naik 300 persen menurut data Dinas Pariwisata Kaltim pada tahun 2018.

Hal ini diharapkan menjadi fokus utama pemda kaltim untuk meningkatkan pariwisata hingga dapat menaikan pendapatan daerah. Potensi-potensi itu dilirik hingga diputuskan akan fokus pada ekowisata yang mampu menaungi berbagai sektor wisata mulai dari wisata bahari, karts, alam,seni,budaya dan buatan.

Meskipun rencana ini sesuai RPJMD (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kaltim 2018-2023. Sejalan dengan kebijakan pemerintah bahwa destinasi pariwisata berbasis kerakyatan,masyarakat serta potensi daerah. Namun, peningkatan pariwisata dalam fokus meningkatkan pendapatan daerah maka tidak bebas dengan nilai atau ada pengaruh yang mampu mempengaruhi cara pandang masyarakat. Baik pengaruh yang ditimbulkan dari pertukaran budaya, gaya hidup, pencampuran agama, serta budaya permisif.

Karena bagaimana wisatawan mancanegara mau berkunjung titik nol IKN jika fasilitas penunjang, kebutuhan dan keinginan mereka tidak tersedia. Contoh saja kebiasan wisatawan asing yang menyukai hiburan diskotik atau dunia gemerlap, menenggak miras, bahkan fasilitas wanita penghibur,atau prostitusi.

Ini adalah hal yang berbahaya. Bahaya tersebut semakin bertambah ketika Sistem Kapitalisme telah diterapkan oleh negeri ini yang memiliki jumlah muslimnya terbesar di seluruh dunia. Bahaya sistem ini adalah dari dari ide dasar yang mengusungnya yaitu pemisahan antara agama dan kehidupan. Agama hanya boleh mengatur dalam hal ibadah yaitu sholat, zakat, naik haji serta amalan sunah lainnya. Namun, ketika berbicara tentang kehidupan maka agama tidak boleh ikut campur.

Maka menjadi hal yang biasa jika melihat di wilayah pariwisata, kadang ditemukan orang yang mengumbar auratnya yang seharusnya menjadi kewajiban bahwa aurat seorang muslimah harus ditutup agar ia terhindar dari pandangan cabul dan kekerasan seksual yang dilakukan orang-orang jahat.

Terkadang karena sifat minuman keras yang memabukkan membuat orang yang mengkonsumsinya menjadi kehilangan kesadaran atau tidak bisa berfikir dengan akal sehat. Sering kali menimbulkan tindakan yang merugikan bagi orang lain. Contohnya pada Januari 2020, ada seorang turis asal Amerika Ryan Mathew umur 48 tahun. Ia dinyatakan dalam kondisi positif mabuk dan menabrak sekitar sepuluh pengendara motor di jalan raya Uluwatu, Jimbaran Bali.

Adanya pariwisata sah saja, namun jangan sampai karena ingin meningkatkan pendapatan daerah lantas melegalkan apa yang sebenarnya tidak di bolehkan oleh Sang Khaliq yaitu Allah SWT. Karena dengan seperangkat aturan Islam semua mengandung kebaikan bagi muslim maupun non muslim. Sehingga bisa menjadi rahamtan lil'alamin atau rahmat bagi seluruh alam.

Sehingga pariwisata bisa menjadikan sarana tempat rekreasi yang aman bagi masyarakat. Karena memperhatikan norma-norma agama dalam pengaturannya. Kerusakan sosial bisa diminimalisir dengan aturan tersebut.

Demikianlah Islam menjaga manusia bahkan memanusiakan manusia. Semua itu tidak lepas dari hukum buatan Allah SWT. Akan sempurna rahmatnya jika di terapkan dalam institusi pemerintahan.
Wallahu'alam bis Showab

*) Penulis adalah Pegiat Literasi

Baca Juga