Tidak Cukup Kata Maaf Untuk Kemaksiatan

Dhiyan Wahyuningsih (Pemerhati sosial)

Oleh: Dhiyan Wahyuningsih

Holywings sedang menjadi sorotan karena mengeluarkan promo minuman beralkohol gratis yang menuai kecaman publik. Kini promosi yang diunggah akun Instagram ofisial Holywings itu dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

Banyak orang geram dengan cara promosi Holywings tersebut. Tak dapat dimungkiri, kejadian tersebut membuat nama Holywing mencuat kembali.

Banyak orang mencari tahu informasi terkait Holywings, mulai dari seputar para pemilik Holywings dan sejarah berdirinya hingga sebesar sekarang dengan puluhan cabang di berbagai kota.

Perusahaan yang bergerak di sektor food and beverages itu sudah tak asing lagi di telinga para generasi milenial. Pasalnya, Holywings dikenal sebagai tempat hangout muda-mudi di Ibu Kota. (money.kompas.com)

Holywings Indonesia kembali menyampaikan permintaan maaf terkait promosi minuman alkohol gratis khusus untuk pelanggan bernama 'Muhammad' dan 'Maria'. Dalam pernyataan terbuka, Holywings berbicara nasib 3.000 karyawan yang bergantung pada usaha food and beverage tersebut.

Holywings mulanya memohon dukungan dari masyarakat Indonesia agar perkara bermuatan unsur SARA itu segera diselesaikan sesuai prosedur hukum. Holywings mengatakan penyelesaian perkara secara segera akan membantu para karyawan serta keluarga mereka. (news.detik.com)

Di Indonesia, penjualan minuman beralkohol diatur ketat dengan sejumlah peraturan. Berbagai peraturan ini memuat banyak hal, mulai dari pengadaan hingga penjualan minuman beralkohol.

Salah satu aturan mengenai minuman alkohol, yakni Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20/M-Dag/Per/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol.

Pasal 14 Ayat 1 sampai 3 membagi lokasi yang dibolehkan untuk menjual minuman beralkohol menjadi dua, yakni tempat penjualan yang dibolehkan untuk minum di tempat dan tidak. (nasional.kompas.com)

Dengan penistaan agama yang dilakukan oleh pihak Holywings tidaklah cukup hanya dengan permintaan maaf saja. Ketika kasus penistaan cukup dengan kata maaf, maka akan semakin banyak penistaan-penistaan lain yang mengikuti.

Sungguh ironis sekali negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, mempunyai undang-undang yang ternyata melegalkan miras walaupun dikatakan dengan syarat-syarat tertentu.

Di dalam Islam miras adalah sesuatu yang haram. Namun dalam negara kapitalis, walaupun haram tetapi kalau ada nilai keuntungannya maka akan berubah menjadi halal. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar yang mana artinya keharaman miras sudah bukan hal yang baru, sebab dalam Islam miras hukumnya haram.

Namun, aturan Allah tidak ada artinya jika negara menerapkan sistem kapitalisme sebagai pengatur kehidupan. Dengan sistem ini, syari'at Allah akan diabaikan jika dianggap menghalangi suatu manfaat terutama manfaat ekonomi. Bahkan ada undang-undang yang semakin membuat konsumsi dan jual beli miras akan tetap ada dengan legal. Mungkin Holywings diberbagai tempat tidak akan ditutup atau ditarik ijin operasionalnya jika tidak ada kasus ini. Karena bisnis seperti ini menghasilkan pajak yang besar untuk bisa beroperasional. Dan ini tidak menutup kemungkinan untuk dibuka kembali ketika hukum di negara ini tidak menindak tegas kasus-kasus seperti ini.

Ironi sekali tidak hanya miras saja, namun seperti yang dijelaskan Holywings adalah club malam, aktivitas dalam club malam adalah aktivitas yang penuh dengan kemaksiatan dan itu diterima oleh masyarakat bahkan mempunyai cabang yang tidak sedikit di Indonesia. Hal ini tentunya semakin menambah potensi kerusakan generasi terutama muslim untuk melakukan kemaksiatan yang dilarang oleh Islam.

Sebagai seorang muslim kita harus peka dengan fenomena seperti ini, penistaan yang semakin merajalela, pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar dengan sistem kapitalis yang liberal. Dimana kebebasan adalah tujuan utama dari sistem ini. Kita memerlukan solusi agar penistaan terhadap agama terutama Islam tidak lagi terjadi. Dan juga kemaksiatan-kemaksiatan mulai dari konsumsi miras dan adanya tempat-tempat maksiat di masyarakat kita tidak ada lagi.

Dan satu-satunya solusi adalah Islam. Islam akan menyelesaikan permasalah tidak hanya secara parsial, namun secara tuntas. Karena melihat suatu permasalahan dari akarnya.

Pelecehan atau penistaan terhadap Allah SWT, Rasul SAW, syiar-Nya, dan ajaran Islam bisa menyebabkan pelakunya murtad. Imam an-Nawawi di dalam Kitab Al-Minhaj menyatakan salah satu ciri riddah adalah melakukan penghinaan terhadap agama secara nyata, "Perbuatan yang mengkafirkan (pelakunya) adalah perbuatan yang disengaja dengan tujuan menghina agama secara terang-terangan atau mengingkari agama, seperti melempar mushaf ke dalam kotoran, sujud kepada patung atau matahari."

Semua bentuk penistaan terhadap Islam merupakan dosa besar. Jika pelakunya Muslim, hal itu bisa mengeluarkan dirinya dari Islam dan menyebabkan dia kembali kafir atau murtad, terutama jika disertai i’tiqad. Jika tidak disertai i’tiqad maka pelakunya minimal telah melakukan perbuatan fasik dan dosa besar. Allah SWT berfirman, "Mereka merusak sumpah (janji)-nya sesudah mereka berjanji. Mereka pun mencerca agamamu. Karena itu perangilah para pemimpin orang-orang kafir itu. Sungguh mereka adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti." (QS at-Taubah [9]: 12)

Dalam ayat lain disebutkan, "Jika kamu bertanya kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, “Sungguh kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?” Tidak usah kalian minta maaf karena kalian kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kalian (lantaran mereka bertobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS at-Taubah [9]: 65-66)

Dalam kasus ini, Islam tidak hanya menyoroti tentang penistaan agama, namun bagaimana miras yang diperjual belikan yang jelas-jelas dalam Islam ini haram.

Berikut contoh bagaimana Islam mengatasi permasalahan tentang miras. Khalifah Umar membuat hukuman yang berat atas pembuat dan pemakai khamr atau minuman keras beralkohol. Khalifah Umar menetapkan hukuman had peminum khamr adalah 80 cambukan. Setelah Umar menjadi khalifah terjadi banyak penaklukan yang dilakukan oleh pasukan Islam dan kesejahteraan masyarakat meningkat.

Jarak antara satu dengan yang lain menjadi jauh. Orang-orang banyak yang memeluk Islam, tetapi mereka tidak mendapatkan bimbingan Islam dan pemahaman terhadap Islam yang cukup seperti para pendahulu mereka. Hal ini menyebabkan di antara mereka ada yang masih minum khamr dan merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh Khalifah Umar.

Khalifah Umar kemudian mengumpulkan para pembesar dari kalangan sahabat untuk bermusyawarah. Mereka sepakat untuk memberikan hukuman had kepada peminum khamr sebanyak 80 kali cambukan. Cambukan sebanyak itu merupakan hukuman had yang paling sedikit. Tidak ada satu pun sahabat yang menentang penerapan hukuman had yang dilakukan oleh Khalifah Umar.

Bukan hanya para peminum khamr yang kena hukuman berat, toko penjual dan pabriknya pun menjadi sasaran Khalifah Umar juga. Diriwayatkan dari Yahya bin Said bin Ubaidillah dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Dia berkata, "Umar menjumpai minuman keras di rumah salah seorang lelaki dari Suku Tsaqif. Kemudian Dia menyuruh agar rumah itu dibakar. Lelaki tersebut bernama Rawisyad. Umar berkata kepada orang tersebut, “Perbuatanmu adalah perbuatan fasik.”

Menurut Ibnul Jauzi, alasan Khalifah Umar membakar rumah Rawisyad karena dia sebagai pembuat minuman keras. Menurut Ibnu al-Qayyim, Khalifah Umar membakar warung minuman keras dan seisinya. Dia juga membakar sebuah kampung yang di situ di jual minuman keras.

Ini bisa jadi alasan, mengapa dalam negara Khilafah selanjutnya jarang ditemui atau bahkan nyaris tidak ada yang mabuk-mabukan. Baik difasilitasi oleh para pelaku bisnis ataukah tidak. Walhasil, kriminalitas dan aksi buruk lainnya bisa ditekan bahkan nyaris tidak ada.

Hal ini berbeda dengan kondisi sekarang. Miras atau minuman beralkohol justru legal diproduksi. Bahkan ada satu daerah yang difasilitasi oleh Pemdanya dengan alasan itu adalah minuman daerah dan akan memajukan pariwisata. Sungguh ironis! Padahal semua juga paham bahwa minuman keras adalah sumber penyakit dan kriminalitas.

Ketidak tegasan pemimpin dan hukuman yang tidak membuat jera, akhirnya justru menumbuhsuburkan minuman keras tersebut.

Maka dari itu, untuk mengatasi persoalan ini dibutuhkan penerapan syari’at Islam secara totalitas dalam bingkai negara sebagai pengganti sistem kapitalisme hari ini yang telah jelas kerusakannya. Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.

*) Penulis adalah pemerhati sosial

Baca Juga