Tarif Listrik Naik, Pelanggan Terima Nasib

RadarKotaNews, Jakarta - Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut bahwa PT PLN (Persero) mengizinkan pelanggan untuk mengajukan penurunan daya listrik jika merasa keberatan dengan kebijakan penyesuaian tarif listrik yang akan diberlakukan per 1 Juli 2022 mendatang.

"Saya Izinkan pindah daya karena ini hak asasi dari masing-masing pelanggan kami," kata Darmawan di Jakarta, Senin (13/6/2022).

Ia menyarankan agar pelanggan yang menurunkan daya dapat menyesuaikan dengan konsumsi listrik harian agar tidak mengalami kendala teknis berupa sekring yang sering turun akibat konsumsi lebih besar daripada daya listrik.

Menurutnya, konsumsi listrik berkorelasi dengan taraf ekonomi dari masing-masing pelanggan, dimana kata dia, pelanggan mampu memiliki pendingin udara atau AC dan pelanggan peta ekonomi memiliki AC di setiap kamar.

Karena itu, pemerintah secara resmi telah mengumumkan penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga di atas 3.500 Volt Ampere (VA) dan pemerintah berdaya 6.600 VA hingga di atas 200 kVA yang mulai diterapkan per 1 Juli 2022 mendatang.

Kebijakan itu berdampak langsung terhadap kenaikan tarif listrik. Sementara saat ini tarif listrik pelanggan rumah tangga golongan 3.500 VA sampai 6.600 VA dan golongan pemerintah 6.600 VA hingga di atas 200 kilovolt ampere (kVA) masih normal.

Namun mulai bulan depan tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga golongan ini akan naik menjadi Rp1.699,53 per kWh atau 17,64 persen. Sedangkan, pelanggan pemerintah dengan daya di atas 200 kVA yang sebelumnya hanya Rp1.114,74 per kWh akan naik menjadi Rp1.522,88 kWh atau 36,61 persen.

Pemerintah beralasan kebijakan menaikkan tarif listrik pelanggan rumah mewah dan pemerintah karena besaran empat indikator ekonomi makro meningkat, terutama harga minyak mentah dunia yang tinggi, sehingga meningkatkan produksi listrik yang dihasilkan PLN.

Setiap kenaikan 1 dolar AS dari harga minyak mentah dunia berdampak terhadap biaya pokok produksi secara keseluruhan hingga Rp500 miliar.

Selain itu kebijakan tarif listrik juga dilakukan agar kompensasi listrik bisa tepat sasaran. Sejak tahun 2017 sampai 2021, pelanggan ekonomi menengah golongan 3.500 VA ke atas telah menikmati kompensasi listrik dengan total angka mencapai Rp4 triliun.

Pemerintah mengajukan kebijakan menaikkan tarif listrik itu akan memberikan dampak inflasi sebesar 0,019 persen dan menghemat kompensasi sebesar Rp3,1 triliun atau 4,7 persen dari total kompensasi yang diberikan pemerintah kepada PLN. (***)

Penulis:

Baca Juga