oleh

Slamet Soebijanto: Pancasila Satu-Satunya Ideologi Yang Rahmatan Lil Alamin

RKNews.com, Jakarta – Indonesia sebenarnya terletak pada puncak strategis dunia, Indonesia sebagai pintu dunia, si Cantik ditengah dunia yang dilewati 7 negara besar. Di Indonesia budaya berkembang dengan penuh etika dan profesionalisme.

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI (Purn.) Slamet Soebijanto memaparkan bahwa dengan adanya nilai-nilai kebenaran yang kita sebut Pancasila, komunis tidak akan ada dibumi nusantara. Sehingga Pancasila sebagai pemimpinnya bangsa ini karena setiap anak bangsa harus mempunyai agama.

Dengan demikian menurut Slamet, setiap orang akan mempunyai rasa keadilan bagi seluruh nusantara. Dengan adanya keadilan itu, maka tidak ada lagi pemuda berdasarkan etnis tetapi putra/i Indonesia. Inilah awal terbentuknya bangsa Indonesia dalam Sumpah Pemuda 1928. Yang selanjutnya tertuang dalam Proklamasi.

“Indonesia terbentuk bangsa terlebih dulu baru negara. Ini berbeda dengan negara-negara didunia lainnya yang dahulu negara dulu baru ada bangsa.
Pancasila sebagai dasar negara bukan pilar. Pancasila adalah azas, sifat, dan jatidiri bangsa.”ujar Slamet dalam acara Peringatan peristiwa 30 S PKI yang bertajuk “Pancasila Satu-satunya Idelogi yang Rahmatan Lil Alamin”
Di Aula sekretariat GPII Menteng Raya, Jakarta, Jum’at (30/09).

Lanjut Slamet, Sesungguhnya komunisme dan liberalisme sudah menghancurkan kita. Ia berhasil mencuci otak anak-anaķ bangsa yang bisa bersekolah disana. Pancasila sebenarnya menjadikan Indonesia sebagai negara yang berkasih sayang dan saling tolong menolong.

“Kita harus kembali pada Pancasila tetlebih dulu, baru kembali pada UUD 1945. Karena kalau ke UUD 1945 dulu, berarti kita ada kepentingan kekuasaan didalamnya.”Terangnya.

Dengan adanya HAM, TNI sebagai pagar negara justru dikucilkan. Liberalisme dan komunisme sebenarnya sama, yakni materialistik. Hanya saja beda caranya, yang satu melalui perorangan, yang satu lagi melalui pemerintah.

Tahun 1965-1998 Indonesia bukanlah negara yang berdaulat karena dikuasai liberalisasi, kemudian 1998 hingga kini Indonesia juga tidak berdaulat karena Indonesia dijadikan rebutan antara Amerika dan Cina. Karena itu kita harus berjuang memerangi sistem. tutupnya.

(SA)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed