oleh

Sisa-sisa Rezim Lama : Penghambat Revolusi Mental, Tri Sakti dan Nawacita

Radarkotanews.com – Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP) Agus Priyono mengatakan, langkah-langkah dari Menko Maritim Sumber Daya, Rizal Ramli, dalam melaksanakan tugas yang menjadi kewenangannya dianggap hanya ciptakan kegaduhan saja. Seolah substansi dari berbagai koreksi terhadap berbagai kebijakan yang menjadi kewenangannya dianggap sebagai pengganggu. Padahal jika kita meletakkannya dalam kerangka perubahan untuk mencapai visi Tri Sakti dan Nawacita yang bernafaskan keberpihakan kepada rakyat, justru apa yang dilakukan oleh Menko Maritim Sumber Daya, Rizal Ramli, adalah untuk menunjukkan pentingnya keberpihakan negara kepada rakyatnya.

Mari kembali kita buka dokumen Nawacita yang menjadi dasar Pemerintah Jokowi-JK dalam melakukan Revolusi Mental.”Tambah dia, Disana jelas diinginkan hadirnya negara ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah yang sedang diungkap kepada publik oleh sosok Rizal Ramli.

Untuk sukses dengan tanggung jawabnya, Agus menilai, Rizal Ramli memang harus menyingkirkan berbagai kebijakan warisan dari masa lalu yang tumpang tindih, birokratis dan berpotensi timbulkan praktek KKN.”Inilah yang juga disadari oleh pemerintah dengan adanya paket kebijakan untuk menghilangkan berbagai kebijakan yang saling bertentangan dalam pemerintahan,”kata agus priyono di jakarta, kamis (17/09/2015).

Pertanyaannya sekarang adalah siapakah sumber dari suara-suara yang hembuskan istilah kegaduhan ini? Suara-suara gaduh yang kini sengaja dihembuskan kepada publik jelas bersumber dari pejabat-pejabat dan koleganya yang selama ini menganggap dirinya santun, namun faktanya menyimpan borok KKN. Sebut saja Sofyan Wanandi, Zulkifli Hasan, Syarief Hasan, Rini Soemarno, RJ Lino dll. Mereka adalah selama 10 tahun terakhir merasa bebas menikmati kebijakan pro pasar dan ramah terhadap KKN, ungkap agus.

Menurut Agus, Mereka ini tentu sangat khawatir dengan implementasi Revolusi Mental yang akan mengungkap boroknya selama di pemerintahan.”Wajar jika kini mereka berlindung dibalik istilah GADUH akan mengganggu investasi.”Tutupnya.(Num)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed