oleh

Seruan Alqur’an dan Hadis Rasulullah SAW

Oleh: Habib Salim Alathas

RKNews – Pada kesempatan hari yang berkah ini saya ingin membawakan kepada saudaraku yang mulia seruan Alqur’an dan Hadis hadis Rasulullah saw, seruan yang dijadikan oleh Nabi muhammad saw sebagai asas utama dalam membangun negara Islam pada permulaan dakwahnya, karena beliau yang diancam dengan pembunuhan telah peroleh izin dari Allah ta’ala untuk berhijrah, dimana pada masa sebelumnya beliau telah lebih dahulu memperintahkan para sahabatnya untuk berhijrah kemadinah.

Ketika beliau tiba dimadinah, beliau melihat ketimpangan ekonomi yang besar pada para sahabatnya, kaum ansor sebagai tuan rumah memiliki harta berlimpah, sedang kaum muhajirin tidak memilki apapun, karena harta mereka semua ditinggalkan demi Allah dan rasulNya, beliau bukan hanya memandang para sahabatnya, tapi lebih jauh beliau melihat kota yang penuh dengan berbagai perbedaan, bahkan dalam tubuh para sahabatnya pada waktu itu, yaitu perselisihan antara kaum aus dan khozroj, beliau juga memandang dari segi agama, dimana beliau saw mendapatkan penduduk kota tersebut terbagi menjadi ampat agama, Islam yahudi nasrani dan penyembah berhala, beliau juga melihat ekonomi yahudi yang mencengkram kota madinah dengan sangat ketatnya, hal ini merupakan tantangan besar dalam membangun negara dan ekonomi ummat islam pada waktu itu, beliau tidak memiliki modal apapun kecuali kepercayaannya kepada Allah Ta’ala yang tentunya telah menyiapkan segala sarana dengan sempurna, tapi sarana tersebut harus diraih dengan perjuangan dan pengorbanan.

Beliau diberikan dua kaum yang telah membaiat siap melakukan apapun demi Allah dan rasulNya saw. Dan inilah modal utama yang dijadikan langkah awal dalam membangun negara dari NOL.

Apa langkah utama yang diambil oleh Nabi Muhammad saw dalam menghadapi tantangan besar tersebut? Jawabnya adalah : menyatukan para sahabatnya menjadi saudara, mengikat mereka satu dengan yang lain menjadi dua saudara yang saling menyayang dan mengasihi, saling membantu dan menjaga.

Pada waktu seruan tersebut dikumandangkan maka para sahabat Ansor membagi hartanya dengan saudaranya dari kaum muhajirin, bahkan yang memilki istri dua dibagi kepada saudaranya. Ketika mereka telah menyatu bagai satu jasad dan bangunan yang saling mengikat, maka mereka akan saling memperhatikan keadaan saudaranya, baik dari gerak geriknya yang tulus dan mencurigakan, juga dari berbagai sisi yang lain.

Hingga mereka menjadi satu mata dan telinga, menjadi satu hati dan fikiran, jumlah mereka tidak banyak, hanya beratus atau 3\4 ratus orang dari orang orang dewasa, ditambah wanita dan kanak kanak yang belum masuk dalam roda pembangunan dan negara dan ekonomi.

Tidak lama kemudian menggeliatlah ekonomi ummat islam, mereka memilki pasar dan pertokoan sendiri, yang mana hartanya berputar pada ummat islam, setelah nampak perputaran yang baik maka Allah mewajibkan kepada mereka untuk mengeluarkan zakat, hal ini membantu lagi ekonomi pada pemerataan hingga mencapai kepada semua lapisan masyarakat.

Mungkin diantara kita pernah mendengar cerita bahwa orang yahudi merupakan saingan berat bagi ummat islam, karena mereka telah menguasai pasar dan pertanian juga sebagai tuan tuan tanah dikota madinah, namun mereka tidak berdaya menghadapi ummat islam, karena semenjak ummat silam masuk maka pasar dikuasai oleh ummat islam, perekonomian mereka menurun tajam, hingga mereka menjual satu persatu toko tokonya kepada ummat islam, karena ummat islam pada kala itu berniaga bukan kepada manusia tapi berniaga kepada Allah, oleh karena itu mereka menjual barang dagangannya kepada ummat islam dengan harga yang murah, lain lagi kepada orang lain maka dengan harga yang baik. Maka lambat laun perokonomian ummat islam melesat pesat.

Bagaimana tidak akan melesat pesat, kalau saya berjualan apapun akan cepat terjual karena konsumennya adalah saudara yang jujur sayang dan siap berkorban, bukan hanya pedagang yang berkorban tapi pembeli juga berkorban, ketika harga barang dimurahkan oleh penjual, maka pembeli tidak mau menerima kecuali dengan hrga standar, bahkan hal itu pernah diriwayatkan jauh setelah masa para sahabat, yaitu masa imam hasan basry dimana beliau menjual kain dengan harga 5 dirham, ketika beliau terlambat datang ke tokonya, didapatkan penjaga toko telah menjual kain dengan harga sepuluh, ketika beliau mengetahuinya maka beliau memberikan kembalian lima dirham, tapi pembeli telah rela dengan harga sepuluh karena kainnya memang bagus, tapi imam hasan menolak kecuali dengan harga lima dirham.

Lain halnya kalau kita sekarang, jika kedatangan saudara menawarkan barang maka yang kita tuntut lebih murah dari orang kafr, atau orang lain, hingga banyak yang mengeluh, bahkan kalau waktu membayarpun dengan terlambat, atau sebaliknya ketika kita memberikan pekerjaan kepada orang lain, maka pekerjaannya tidak sempurna seperti bekerja kepada orang kafr atau orang lain.

Jadi nilai jihad kita dalam berniaga dan bekerja tidak ada, rasa persaudaraan yang ingin membangun ekonomi saudara tidak kita miliki, yang ada rasa iri dan rasa ingin selalu dibantu, rasa curiga kepada saudaranya dalam mengambil keuntungan yang lebih dan seterusnya.

Wahai saudaraku muslim.

Kembali kepada keimanan yang seharusnya kita rasakan dan miliki, yang mana hal itu tidak dapat kita raih kecuali dengan ilmu dan perjuangan juga pengorbanan, yang dibarengi dengan latihan dan pantauan seorang guru yang arif.

Kadang kita mengira bahwa dikabulkan doa doa kita adalah tanda hubungan dekatnya kita kepada Allah, padahal tidak demikian, bahkan tidak dikabulkannya doa merupakan tanda dekatnya Allah kepada kita, seperti perkiraan kita adanyaaketenangan dalam hidup merupakan tanda dekatnya kita kepada Allah, padahal adanya ujian dan cobaan merupakan tanda dektanya Allah kepada kita, hal ini serupa dengan ketenangan ketika kita tidak kedatangan saudara yang meminta bantuan dalam satu minggu atau sebulan, padahal yang demikian itu pertanda buruk hubungan kita dengan saudara yang seharusnya membuat kita gelisah dan tanda tanya.

Itulah arti dari ucapan para ulama yang berkata; Kalau tiga hari tidak datang ujian dari Allah (ujian dari berbagai rupa dan warna) maka mereka bersedih dan segera memohon ampunan kepada Allah seakan mereka telah melakukan dosa dosa besar.

Karena dunia bukanlah tempat yang aman dan tentram, bukan tempat untuk bersenda gurau,
bukan pula untuk meraih kemewahan dan kesenangan, jadi ketentraman yang kita peroleh bukan ketentraman tapi tipu daya syetan yang melalaikan kita bahwa kita sebenarnya sedang berada dipinggir jurang, bagaimana kita dapat tenang jika berada dipinggir jurang, itulah arti frman Allah Ta’ala yang menjelaskan keadaan orang orang yang khsusyu dalam imannya khusyu dalam ibadah dan muamalahnya.

Mereka selalu meyakini hari esok adalah hari akhir, hidup mereka selalu dalam pantauan malaikat maut, hidup mereka selalu dalam pantauan ftnah dunia dan akhirat, selalu dalam ancaman hilangnya islam dan keimanan mereka. Hingga mereka sedikit berbicara dan tertawa, sedikit bergaul dan berkumpul, kecuali ada keuntungan bagi akhiratnya dan agamanya, selalu memandang semuanya dengan senyum dan tawakkal, menilai semuanya telah diatur oleh Allah sebelum dia diciptakan kealam kehidupan, mereka selalu
hawatir perasaan tersebut akan sirna dan tidak kembali, kadang perasaan tersebut ada beberapa hari lalu menghilang lagi, hal itu tergantung ketebalan keimanan seorang hamba dan tipisnya, usaha seorang hamba dan perjuangannya yang selalu berjuang untuk meraih perasaan tersebut akan menyampaikannya kepada tujuan, yang menyerah akan ditinggal tanpa ada lagi perhatian dan pertolongan dari Allah ta’ala.

Penulis adalah fungsionaris Front Pembela Islam (FPI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed