Seluncuran Ambrol, Akibat Peran Negara yang Kendor

Foto: Seluncuran yang Ambrol

Oleh: Rini Astutik

Beberapa waktu yang lalu musibah kembali terjadi menimpa saudara-saudara kita yang sedang menikmati liburan hari raya idul Fitri di Kenjeran Prak (KenPrak) Surabaya.

Seluncuran air tersebut diduga Sudah Lapuk. Dan ambrol jatuh kebawah dari atas ketinggian 10 meter pada hari sabtu tanggal 7 Mei 2022 sekitar pukul 13:30 Wib yang memakan korban jiwa sebanyak 16 orang. Dari total korban jiwa tersebut empat diantaranya orang dewasa dan sisanya adalah masih anak-anak.

Sejumlah petugas Dinas Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya tengah sibuk saat melakukan evakuasi di sekitar lokasi terjatuhnya sembilan dari seluncuran Kolam Renang Kenjeran Park (Kenpark) Jalan Kenjeran, Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Kota Surabaya, Jatim,

Sementara itu Wakil Wali Kota Surabaya Armuji meminta semua fasilitas hiburan dicek kelayakannya pasca kejadian ambrolnya sambungan seluncuran di Waterpark Kenpark, Kenjeran, Kota Surabaya, Jawa Timur. (www.medcom.id/nasional)

Menurut pihak Pengelola Kenjeran Water Park Bambang Irianto mengungkapkan jika perosotan kolam renang ambruk diduga karena overload. Pengelola mengklaim selalu rutin melakukan perawatan.

Bambang menambahkan, perawatan perosotan ini lazimnya dilakukan setahun sekali. Dia menyebut perosotan sudah dilakukan perawatan 9 bulan lalu, artinya masih ada waktu 3 bulan sebelum dilakukan perawatan kembali. (news.detik.com)

Kejadian naas itu seharusnya tidak perlu terjadi jika pihak pengelola betul-betul mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada pengunjung, dengan cara mengontrol dan mengawasi setiap aktivitas para pengunjung yang membludak agar tidak terjadi overload pada saat menaiki seluncuran tersebut.

Disamping pengawasan pihak pengelola juga harus rutin melakukan perawatan dan pengontrolan terhadap fasilitas perosotan tersebut, agar kejadian seperti ini tidak perlu terjadi dan terulang lagi.

Minimnya pengawasan dan perawatan mengakibatkan terjadi musibah hingga menelan banyak korban jiwa, sehingga dari kejadian tersebut timbul pertanyaan dimanakah peran negara saat ini, akibat lemahnya peran negara dalam memberikan edukasi dan pengontrolan di titik-titik tempat hiburan dan wisata, sehingga kejadian semacam ini akan terus terjadi berulang kali tidak hanya di Surabaya tapi juga dibeberapa daerah dan kota lainnya.

Tak heran jika negara tak berperan dalam menjamin hak dan keselamatan warga negaranya, hal ini disebabkan negara masih mengadopsi sistem ekonomi kapitalis dimana dalam sistem tersebut asas yang dipakai masih menggunakan standar untung-rugi. Yang mana dalam kepemilikan dan pengelolaanya diserahkan pada pihak swasta. Selama itu masih bisa meraup keuntungan yang sebesar-besarnya maka sah-sah saja meskipun nyawa yang jadi taruhannya.

Ironis memang hidup dalam cengkraman sistem demokrasi - kapitalisme untuk mendapatkan kenyamanan dan keselamatan saat berlibur saja sangat susah, boro-boro bisa mendapatkan fasilitas yang gratis, sudahlah harus merogoh kocek yang dalam keselamatanpun sewaktu-Waktu bisa saja melayang akibat tidak adanya jaminan,lagi-lagi rakyatlah yang dijadikan tumbal guna mendulang keuntungan.

Seharusnya saat membangun fasilitas wisata pemerintah lebih mengedepankan standar keselamatan ketimbang keuntungan bukan malah membuat kebijakan yang membingungkan dan berujung makin meyengsarakan rakyat. Sehingga masyarakatpun semakin cerdas menilai, bahwa setiap kebijakan yang dibuat hanya memuluskan dan melanggengkan kepentingan para penguasa dan pengusaha (konglomerat) kapitalis pemilik modal.

Maka tak heran jika untuk mendapatkan ijin membangun tempat wisatapun dipermudah, meskipun mengancam keselamatan rakyat. Seperti yang dipahami bahwa perawatan dan pemeliharaan fasilitas wisata menjadi faktor yang terabaikan pada destinasi wisata yang sudah sangat menjamur.

Jika kita telisik lebih dalam lagi, pihak pengelola hanya berfokus pada usaha pengembangan dan mendatangkan para pengunjung saja. Hal ini dikarenakan faktor pemeliharaan dan perawatan fasilitas wisata cenderung mengeluarkan banyak biaya dari pada keuntungan. Inilah fakta yang sering diabaikan oleh pemilik perusahaan tempat wisata.

Dalam pandangan sistem ekonomi kapitalisme pariwisata dipandang sebagai orientasi bisnis yang sangat menggiurkan dan menguntungkan bagi para pebisnis (kapitalis) sementara itu, negara menganggapnya sebagai devisa yang menguntungkan bagi negara layaknya SDA walaupun nilainya kalah jauh karena salah dalam pengelolaannya, akibat tidak dikelola secara mandiri.

Tentu hal ini sangat berbeda jauh dengan sistem pemerintahan Islam, dimana Islam tidak menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa bagi negara, ini dikarenakan sumber keuangan negara akan diperoleh dari pos Fai, kharaj, ghonima, jizyah harta kepemilikan umum, zakat dan sedekah. Dalam negara Islam pariwisata dibangun dengan tujuan dakwah dan propaganda.

Dimana obyek pariwisata seperti pantai, pegunungan, air terjun dan lain-lain akan dijadikan sarana dalam menyebarkan dakwah Islam.

Sehingga para wisatawan akan diajarkan nilai-nilai aqidah Islam. Negara Islam tidak akan membiarkan pembangunan tempat pariwisata ke tangan pihak swasta, yang tidak mengandung unsur syiar dakwah. Yang hanya berkutat pada kesenangan unfaedah sebagaimana dalam sistem kapitalisme.

Pengelolaan pariwisata dalam islam bukanlah sebagai ajang bisnis, sehingga harus dikelola dengan sudut pandang Islam dimana pemerintahan Islam mewajibkan negara bertanggung jawab secara penuh atas keselamatan dan kenyamanan bagi para warganya. Khususnya bagi anak-anak atas fasilitas rekreasi yang dibuka untuk umum. Sebab mengelola tempat wisata layaknya mengelola SDA.

Sehingga negara bertanggung jawab mengelola dan menyediakan dana pemeliharaanya. Yang mana dana pemiliharaannya akan diambil dari kas baitul mal pos kepemilikan umum. Negara yang berhak dan bertanggung jawab atas standar pariwisata hingga menjamin keselamatan bagi para pengunjung.

Semua disandarkan pada keselamatan nyawa sebagai tujuan penerapan syariah yaitu Hifzhud Nafs atau menjaga nyawa. Dengan menerapkan Islam pariwisata akan dikembalikan fungsinya sebagai syiar Islam yang memberikan kemaslahatan tidak hanya bagi manusia tapi juga bagi seluruh alam. Sehingga negara sangat menjalankan perannya tidak akan kendor seperti sistem saat ini. Wallahu A’lam Bishowabh.

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial

Baca Juga