Sekularisme Meruntuhkan Fitrah Seorang Anak

Ilustrasi

Oleh: Nur Rahmawati

Kisah pilu lansia kembali terjadi, kali ini dialami oleh ibu Trimah (65) warga Magelang, Jawa Tengah. Ibu Trimah dititipkan ke panti jompo, Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur.

Ia mengatakan alasan dia dititipkan ke panti jompo adalah karena anak-anaknya tidak mampu membiayai orang tua. “Karena anaknya masih menumpang dengan mertua, anak 4, kondisi Covid ini tidak bekerja”, kata bu Trimah. Dalam wawancara dengan tvOne (viva.co.id, 31/10/2021)

Kisah pilu pun menimpa seorang pria lanjut usia (lansia) yang akhirnya meninggal di salah satu lokasi di wilayah kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh sekitar pukul 15.00 WIB, Jumat (3/4/2020). Keberadaan pria lansia yang sedang sakit ini diketahui berdasarkan laporan telepon yang diterima oleh Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK), Dinsos Aceh, Misra Yana.

Merespons laporan itu, tim TKSK Aceh berkoordinasi dengan pihak PMI dan Polsek Meuraxe. Setelah mereka tiba di lokasi memang ditemukan lansia yang diperkirakan berumur 80 tahun dengan postur kurus, lemah, nafas terengah-engah, dan tangan membengkak. Mirisnya, sebelum meninggal dia menyebut telah dibuang anaknya. (Serambinews.com, 03/04/2020)

Akibat Pemahaman Masyarakat yang Sekuler

Masyarakat yang tidak paham agama kemungkinan besar akan lebih “memudahkan” hal-hal yang justru terlarang dalam agama. Pasalnya, tak ada benteng yang bisa menjaga mereka ketika akan berbuat yang dilarang agama, semisal menelantarkan orang tuanya yang bagaimana pun sudah mengandungnya bersusah payah dari buaian hingga lahir ke dunia.

Kondisi ini pun semakin diperparah dengan lingkungan yang terkondisikan dengan suasana sekularisme. Sehingga, manusia kian jauh dari ajaran agamanya. Agama secara sengaja dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Karenanya tak heran jika kita kerap melihat fenomena manusia-manusia yang tak beradab kian hari kian bermunculan di era sekarang.

Manusia jauh dari fitrahnya sebagai seorang manusia. Yakni manusia yang terlahir dalam keadaan bersih, lurus dan tunduk pada aturan Rabb-nya. Manusia justru “dikungkung” atas nama kebebasan. Seakan tampak bebas secara zahir, tapi hakikatnya mereka terjajah oleh kehidupan sekuleristik. Lantas, masihkah kita mengharap keistimewaan pada sebuah sistem yang nyata menimbulkan kesengsaraan, ketidakadilan dan membawa penderitaan yang tak henti?

Bangunan keluarga di dalam Islam menjadikan rida Allah sebagai tujuannya. Maka setiap anggota keluarga haruslah taat pada seluruh aturan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Perlunya keluarga memberikan pemahaman dan pendidikan agama kepada anak-anaknya dari sejak usia dini, agar kelak mereka memahami ilmu akhirat sehingga dapat menghargai dan bertanggung jawab atas apapun yang diperbuatnya, termasuk menghormati kedua orang tuanya sebagaimana yang dititahkan di dalam Alquran. Karena kebahagiaan yang dituju bukan hanya di dunia, tapi kehidupan yang abadi kelak yaitu di akhirat yang kekal.

Firman Allah Swt, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Sistem khilafah menjamin lahirnya insan yang paham menghormati, menyayangi dan bertanggung jawab terhadap orang tua. Bahkan mewajibkan anak untuk tetap “Birul Walidayn” dan memuliakan orang tuanya, bagaimana pun kondisi kedua orang tuanya, selama orang tua tersebut tidak menyuruh melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, bersuara keras mengucapkan kata “ah” saja dilarang apalagi sampai melantarkan dan meninggalkan mereka. Tentu pemuliaan anak kepada kedua orang tuanya, tidak serta merta bisa terwujud jika dalam dirinya tak ada pemahaman agama.

Negara sebagai penjamin urusan rakyat, berperan penting dalam menjamin pemahaman agama itu terpatri dalam tiap individu. Sehingga, negara akan mengondisikan serta mengupayakan bagaimana terwujudnya atmosfer keimanan baik dalam skala individu maupun dalam skala negara. Tentu ini hanya akan terwujud, ketika negara menerapkan support system yakni Islam sebagai institusi pelaksananya dan ini hanya akan terwujud dengan ditegakkannya Khilafah Islamiyyah. Islam dengan sistem khilafah Islamiyah akan memberikan perhatian besar kepada masalah generasi sejak dini. Sehingga ketika ia sudah balig, ia sudah siap menjadi mukallaf yang paham bagaimana ia berperan di dunia ini. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. (*)

*) Penulis adalah Komunitas anggota Revowriter, Anggota Forum Dakwah muslimah.

Baca Juga