Secercah Harapan di tengah Kekecewaan Pembatalan Ibadah Haji

Foto: Annisa Fatimah, Aktivis Mahasiswa (Ist)

Oleh: Annisa Fatimah

Setiap peristiwa pasti bisa kita ambil pelajarannya, baik itu peristiwa yang baik ataupun yang buruk. Hanya saja mungkin hati ini belum siap untuk menyadari dan mengambil pelajaran yang berharga seketika itu juga.

Itulah sebenarnya salah satu dari kelemahan kita sebagai makhluk yang terbatas. Misalnya saja, dalam pembatalan Ibadah Haji umat Muslim di Indonesia pada tahun ini. Sebagaimana yang terlansir dalam bbc.com dengan tajuk “Haji 2021: Saudi 'belum keluarkan kuota', pemerintah Indonesia batalkan keberangkatan jemaah, keputusan yang 'terburu-buru dan mengecewakan'”.

Bukankah fakta tersebut sangat menyayat hati para umat muslim. Apalagi jika mereka  sudah mempersiapkan segala-galanya untuk keberangkatan tahun ini. Ternyata pada kenyataanya tidak dapat terealisasikan karena alasan-alasan yang juga mungkin masuk di akal.

Apalagi dengan fakta terbaru di kumparan.com dengan judul “Arab Saudi: Haji 2021 Hanya 60 Ribu Orang, untuk Warga Lokal dan Ekspatriat”. Maka, sesungguhnya sikap apa yang tepat untuk dilakukan saat ini? Sikap yang pertama adalah diam, merenung dan berpikir sejenak. Sebenarnya ada apa di balik ini semua? Bahkan mungkin selain permasalahan ibadah haji yang ditiadakan, di luaran sana masih banyak masalah yang tak kunjung terselesaikan dengan baik dan benar hingga tuntas ke akar-akarnya.

Mungkin ada juga yang menerima sekedar ikhlaskan saja. Benar, apalagi mengingat bahwasanya diri ini bukanlah siapa-siapa. Hanya masyarakat biasa dan berada dibawah kepemimpinan yang berkuasa. Kita hanyalah masyarakat kecil, yang segala sesuatunya pasti tergantung dengan kebijakan atau peraturan dari yang memimpin.

Ibadah Haji Kewajiban Umat Islam

Pernahkah terbayangkan di dalam pikiran kita bahwasanya beribadah haji itu tidak memerlukan pasport. Pengalaman perjalanan seperti kita berpergian dari suatu tempat ke tempat yang lainnya menggunakan kereta api, akan tetapi masih dalam satu negara yang sama. Sungguh bukan sesuatu yang mustahil.

Hal tersebut pernah direncanakan bahkan telah di bangun dan terealisasi pada masa Kekhilafahan Utsamniyah oleh Khalifah Abdul Hamid II. Beliau membangun jalur kereta api hijaz yang melintasi berbagai wilayah kekuasan pemerintahan Khilafah. Salah satu tujuannya adalah merealisasikan kerinduan umat Islam untuk berangkat ke tanah suci, agar bisa beribadah Haji, dan melaksanakan salah satu kewajiban umat Islam yang ke-5.

Terkungkung Ikatan yang Keliru

Pada saat itu, umat Islam berada dalam naungan Islam. Ikatan yang dibangun dalam pemerintahan Islam adalah ikatan yang paling kuat yaitu ikatan Aqidah. Bukan sebagaimana ikatan yang lemah kala ini yaitu ikatan nasionalisme. Ingatlah pribahasa “bersatu kita teguh, bercerai kita berantakan” ternyata, memanglah benar.

Saat ini kita bercerai-berai jauh dari masa lalu kita yang dahulu pernah bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah. Maka, tidak heran saat ini kita menjumpai berbagai masalah khusus dari berbagai negara yang secara sadar atau tidak terkungkung dengan batas-batas nasionalisme.

Sebagai contoh dengan fakta terbaru di atas bahwa pemerintah Arab Saudi memutuskan kuota haji untuk “mereka yang saat ini menetap di Arab Saudi saja” diluar dari wilayah pemerintahan Arab Saudi maka tidak diperbolehkan untuk mengikuti ibadah haji pada tahun ini. Adalah bukti bahwasanya batas-batas nasionalisme yang memecah belah. Pemahaman ini juga sesungguhnya merupakan cabang pemahaman dari ideologi sekuler-kapitalis. Pemahaman inilah yang menjadi sumber masalahnya.

Sistem sekuler-kapitalis sangat jauh dari Islam. Bahkan sangat bertolak belakang. kata-kata “jangan bawa-bawa agama dalam urusan duniawi” adalah contoh paling sederhana yang dapat kita indra. Bukan hanya pada tingkat individu, keluarga bahkan bernegarapun juga secara global berpikiran demikian.

Saat ini kita bukan hidup sebagaimana manusia seharusnya hidup. Mengapa? Karena kita sesungguhnya tidak berada dalam naungan Islam. Itulah yang semestinya kita sadari. Hanya Islam sajalah yang memiliki peraturan hidup yang lengkap. Seluruh aspek kehidupan diatur di dalamnya dan tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat, perilaku apapun itu di dunia akan kita tuai di akhirat kelak. Jadi, semuanya terhubung dan tidak terpisah sama sekali.

Islam Menyelamatkan Manusia di Dunia dan di Akhirat

Islam memiliki solusi tuntas yang dapat menyelesaikan setiap problematika manusia. Logikanya, seperti ini: “Allah adalah pencipta Manusia. Jika manusia tersendat dengan berbagai permasalahan kehidupan maka, kembali kepada petunjuk yang telah diberikan oleh-Nya adalah sikap yang sangat tepat”.

Menyandarkan segala sesuatu kepada selain Allah adalah tindakan yang keliru dan dapat menghasilkan kemelaratan di dunia bahkan hingga di akhirat. Sehingga, sudah waktunya kita sebagai hamba-Nya yang berharap mendapatkan ketenangan hidup abadi kelak di Surga-Nya. Kita harus bersikap ikhlas untuk terlibat dan saling berkontribusi dalam merealisasikan janji-Nya dan bisyarah Rasulullah dalam suatu hadist yang panjang “....Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian)......” (HR. Imam Ahmad).

Itulah harapan yang semestinya tertanam dalam setiap hamba-Nya kala ini. Sehingga dalam menyikapi berbagai masalah akan semakin menambah semangatnya untuk segera merealisasikan Janji Allah dan bisyarah Rasulullah tersebut.
Wallahu ‘Alam.

*) Penulis adalah Aktivis Mahasiswa

Baca Juga