Sangat Tidak Etis Jika Cyber Army yang di Buat MUI untuk Melindungi Anies

Pengamat Politik Karyono Wibowo (Ist)

RadarKotaNews, Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesian Pubic Institute (IPI), Karyono Wibowo, menilai dana hibah untuk sebuah organisasi seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, atau organisasi apapun tidak menjadi persoalan.

Menurut Karyono, selama hal itu tidak melanggar peraturan perundang-undangan, tidak bertentangan dengan peraturan organisasi, serta sesuai dengan tugas pokok dan fungsi MUI.

Namun, lanjut Karyono, yang menjadi persoalan jika dana hibah digunakan membuat Cyber Army, yang secara sengaja untuk melindungi Gubernur DKI Anies Baswedan dari serangan netizen, buzzer atau lainnya.

Tentunya, kata dia, bila itu dilakukan maka sangat tidak etis. Citra Majelis Ulama Indonesia bisa rusak.

"Saya harap MUI on the right track dengan tugas pokok dan fungsinya yaitu melaksanakan berbagai usaha. Memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat," ujar Karyono dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (25/11/2021).

"Kemudian, merumuskan kebijakan dakwah Islam, memberikan nasihat dan fatwa, merumuskan pola hubungan keumatan, dan menjadi penghubung antara ulama dan umara," tutur Karyono.

Sebelumnya Ketua Umum MUI DKI Jakarta KH Munahar Muchtar menuturkan pasukan siber atau cyber army diharapkan mampu melawan buzzer yang menyudutkan ulama dan Gubernur Anies Baswedan.

Alasannya, Anies dianggap sudah bekerja keras demi kepentingan masyarakat Jakarta, tapi hingga kini ada pihak yang menyudutkan dengan menyebar berbagai informasi di Internet.

"Beliau ini termasuk 21 orang Pahlawan Dunia. Berita-berita saya minta MUI DKI yang mengangkatnya karena kita mitra kerja dari Pemprov DKI Jakarta," kata Munahar dalam keterangan tertulis.

Tim cyber army ini bertugas untuk melawan konten yang menyerang ulama dan Anies, caranya dengan mengangkat informasi terkait keberhasilan dicapai melalui internet dan media sosial.

"MUI tidak usah takut untuk katakan yang Haq itu Haq. Saya punya prinsip kalau berkaitan dengan Al-Quran dan As-Sunnah tidak ada tawar menawar bagi saya," jelas Munahar. (fy)

Penulis:

Baca Juga