Ritel Raksasa Tumbang, Akibat Sistem yang Usang

Sri Mulyati, Pemerhati Sosial

Oleh: Sri Mulyati

Disaat indikator penjualan eceran dan konsumsi masyarakat mulai membaik, satu persatu perusahaan ritel besar justru gulung tikar dan beralih fungsi karena terdampak pandemi covid-19.

Pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera merealisasikan rencana pemberian stimulasi pada sektor ritel.

PT. Hero supermarket Tbk atau Hero Group menjadi perusahaan ritel terbaru yang akan menutup semua gerai hipermarket Giant per juli 2021. Menurut rencana gerai Giant akan diubah menjadi gerai baru perlengkapan rumah tangga IKEA, sementara gerai hipermarket Giant lainya akan ditutup.

Langkah Hero Group mengikuti perintel besar lainnya yang sudah terlebih dahulu menutup sebagian atau semua gerainya akibat terimbas pandemi misalnya PT. Matahari Atirw yang menutup 25 gerai pada tahun 2020 dan berencana kembali menutup 13 gerai tahun ini. Ada pula gerai ritel Fashion Centro Departement Store dan PT. Ramayana Lestari Sentosa Tbk (kompas.id/2021/05/28).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyebut beberapa hal yang menyebabkan gerai ritel modern tutup di masa pandemi covid-19, salah satunya disebabkan tingkat konsumsi di daerah tersebut rendah.

Menurutnya, selain adanya pembatasan aktivitas, penutupan gerai ritel modern juga disebabkan tergerusnya konsumsi masyarakat di wilayah gerai itu tutup. Karena konsumen yang biasa berbelanja akhirnya menunda belanja (m.liputan6.com).

Pandemi yang melanda dunia sejak setahun lalu sangat berefek terhadap kehidupan manusia terutama bidang ekonami. Terlihat nyata bagaimana laju perekonomian saat ini mengalami penurunan, terutama di bidang ritel yang juga terdampak pandemi. Banyaknya ritel yang gulung tikar mengakibatkan meningkatnya pengangguran, gelombang PHK masal dan dampak lain yang menyertainya.

Tumbangnya berbagai ritel raksasa tentu tak lepas dari sistem ekonomi ala kapitalisme. Sistem yang usang ini juga yang paling bertanggungjawab atas berlarutnya wabah pandemi hingga memunculkan beragam permasalahan di tengah masyarakat termasuk kesulitan ekonomi.

Pada dasarnya sistem ekonomi kapitalis sangatlah merugikan, karena dibangun dengan pondasi yang lemah yaitu sektor non rill. Pilar ekonomi kapitalis menjadikan pertumbuhan ekonomi tumbuh dengan cepat namun semu. Sebab yang terjadi adalah perhitungan spekulasi terhadap kekayaan sektor non rill yang hanya berputar-putar dengan uang kertas, kertas utang dan kertas saham. Sehingga wajar jika sistem ini secara nyata menimbulkan kerusakan dan kerugian yang sangat besar bagi manusia.

Berbeda dengan sistem ekonomi Islam yang tidak memperbolehkan pembangunan sektor keuangan seperti ribawi dan aktivitas spekulatif lainnya. Ekonomi Islam adalah yang berbasis rill (QS. Al Baqarah ayat 275). Tidak dipolarisasi sektor rill dengan sektor moneter sebab sektor moneter dalam Islam bukan seperti sektor moneter kapitalis yang isinya sektor maya.

Islam memandang kegiatan ekonomi hanya dapat dilakukan dalam sektor rill seperti pertanian, perkebunan, perindustrian, perdagangan dan jasa, dari sektor ini kegiatan perekonomian berkembang maju. Hanya saja hukum-hukum tentang kepemilikan produk, barang dan jasa dan transaksi perekonomian dalam islam bertolak belakang dengan perekonomian kapitalis.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, individu boleh memiliki dan menguasai harta maupun SDA. Namun dalam Islam kepemilikan individu dibatasi oleh kepemilikan negara dan kepemilikan umum. Individu tidak boleh memiliki harta bagian milik negara dan bagian milik umum. Adapun harta kepemilikan umum adalah seluruh kekayaan yang ditetapkan oleh Allah bagi umat muslim sehingga kekayaan tersebut menjadi milik umat muslim. Individu dapat mengambil manfaat dari kekayaan tersebut, namun terlarang menguasannya.

Islam telah membagi 3 jenis kepemilikan publik yaitu, pertama, secara umum yang diperlukan oleh warga negara untuk keperluan sehari-hari, misalkan: saluran irigasi, hutan, pembangkit listrik, sumber daya energi dan seterusnya. Kedua, kekayaan yang asalnya terlarang bagi individu untuk memilikinya seperti: jalan umum, laut, sungai, danau, teluk, lapangan dan masjid.

Ketiga, barang tambang sumber daya alam yang jumlahnya melimpah, baik berbentuk padat seperti emas, besi, berbentuk cair yaitu minyak bumi atau gas seperti gas alam. Rasulullah Saw. bersabda, “Kaum muslim berserikat (sama membutuhkan) dalam 3 perkara yaitu padang , air dan api”. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Selama aturan kepemilikan tidak berdasarkan Islam, maka pertumbuhahan disektor rill tak berdampak positif terhadap kesejahteraan seluruh rakyat secara adil. Sebab peningkatan hasil ekonomi dan penguasaan SDA terkonsentrasi ditangan pemilik modal/kapital. Semakin dioptimalkan pertumbuhan ekonomi, maka eksploitasi terhadap masyarakat dan SDA semakin besar, yang berakibat pada rusaknya alam dan lingkungan.

Pilar penting dari ekonomi Islam berikutnya adalah distribusi harta kekayaan oleh individu masyarakat maupun negara. Ekonomi Islam menjamin seluruh rakyat terpenuhi semua kebutuhan dasarnya. Islam juga memberikan kebutuhan rakyatnya baik kebutuhan sekunder maupun tersier. Jadi hanya ekonomi Islamlah yang mampu menghadapi resesi disaat pandemi karena solusi tersebut berdasarkan pada aturan Allah SWT yang Maha Sempurna. Wallahu’alam bishawab.

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial

Baca Juga