Racun Ide Kebebasan Perempuan Matikan Fitrah Perempuan

Oleh: Rindyanti Septiana, S.H.I.

Forum Jurnalistik Muslimah Ideologis (FJM.ID) mengumpulkan para aktivis media dari berbagai kampus di kota Medan. Pertemuan yang berlangsung mengangkat tema bertajuk, “Kebebasan Perempuan yang Hakiki” bertempat di Alifa Creative Space, Jl. Brigjend Katamso Medan, (9/10/2021).

Acara berlangsung dalam bentuk diskusi interaktif, dengan narasumber Kakanda Rindyanti Septiana, S.H.I. Ia merupakan anggota tim Empowering Networks Institut Muslimah Negarawan dan aktif dalam jurnalistik sejak kuliah sebagai kontributor di berbagai media pergerakan kampus baik cetak dan digital. Acara dipandu oleh Annisa Djohan selaku anggota FJM.ID.

Rindyanti Septiana menyampaikan bahwa ide kebebasan perempuan merupakan racun yang dapat mematikan perempuan. Karena menjauhkan perempuan dari fitrahnya sebagai istri dan ibu pendidik generasi. Menjauhkan perempuan dari cara pandang dan sistem hidup berlandaskan syariat Islam.

Ide kebebasan perempuan yang disuarakan oleh feminis diklaim mampu membebaskan perempuan dari ketimpangan gender yang konstruksi oleh budaya dan agama. Lalu diangkat sebagai isu global dan diaruskan penerapannya di level negara. Kaum feminis menjadikan point-point konvensi penghapusan kekerasan terhadap perempuan sebagai “kitab suci” mereka.

Padahal ketertindasan dan penderitaan yang dialami oleh perempuan berasal dari penerapan sistem kapitalisme. Kemiskinan, kekerasan, diskriminasi, dan ketidakadilan menjadi potret rapuhnya kehidupan perempuan dalam sistem kapitalisme. Hal itu pun juga dialami oleh laki-laki. 7,5 juta perempuan menjadi tulang punggung keluarga di Indonesia. 4,5 juta buruh migran perempuan yang bekerja ke luar negeri demi menghidupi keluarganya.

Dalam sistem kapitalisme perempuan dijadikan target ekonomi hingga menghilangkan perannya sebagai istri dan ibu pendidik generasi. Semua itu demi mempertahankan hegemoni kapitalisme. Jadi bohong besar jika ide kebebasan perempuan mewujudkan kesejahteraan bagi perempuan.

Rindyanti Septiana, S.H.I.

Perempuan dijadikan sebagai komoditas juga mesin produk para kapital. Kaum perempuan diminta berkiprah di ranah publik menghasilkan pundi-pundi rupiah memakmurkan berbagai korporasi. Kaum perempuan terjebak pula dalam perangkap bisnis kotor seperti pelacuran dan pornografi. Tampak jelas keberbahayaan ide ini jika diadopsi oleh para muslimah.

Media dan para jurnalis jika tidak menyadari racun dan bahaya ide kebebasan perempuan juga dapat terlibat mempropagandakan ide ini. Media merupakan cara yang efektif menanamkan pemahaman kepada masyarakat. Maka arus penyebaran ide kebebasan perempuan bisa setiap detik hadir di tengah masyarakat. Hendaknya semua pihak menyadari keberbahayaannya.

Dalam Islam kehormatan perempuan terjaga dan melarang penghinaan terhadap reputasinya. Dilarang pula mengeksploitasi pesonanya atau menggunakan tubuhnya sebagai komoditas. Lebih dari itu, Islam justru menjamin segala pemenuhan perempuan karena merupakan bagian dari masyarakat yang wajib dipenuhi kebutuhannya oleh negara.

Menjamin kehormatan, kesejahteraan, pendidikan, berpolitik, kelangsungan keturunan (pernikahan), dan berkiprah dalam ranah publik. Artinya, perempuan tidak membutuhkan ide kebebasan untuk mendapatkan segala haknya. Apalagi Allah Swt telah berfirman, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS An-Nisa: 32).

Lantas, apa yang harus dituntut bagi perempuan ketika Islam telah menjamin segala haknya? Namun, yang menjadi masalah ialah ketika Islam belum menaungi umat Islam dan dunia. Perempuan akan terus dalam kondisi menderita dan segala haknya tak didapatkan. Kembali pada Islam merupakan perkara wajib untuk dilakukan, turut memperjuangkannya dengan tegaknya Khilafah Islamiyah.

Acara ditutup dengan memotivasi para aktivis media untuk sama-sama berkiprah demi kemuliaan Islam bukan sebagai penyebar ide kebebasan perempuan. Hal itu disampaikan oleh Yanti Kumala Sembiring, S.Pd. selaku Founder FJM.ID Sumut. Insyaallah diskusi bersama aktivis media dari berbagai kampus di Medan akan terus dilakukan pada kesempatan berikutnya demi menyatukan misi bersama, menjadi penggerak opini untuk kebangkitan Islam.

*) Penulis adalah Tim Empowering Networks Institut Muslimah Negarawan

Baca Juga