R20 Serukan Agama Sebagai Solusi, Agama Dibingkai Kapitalisme

Pera Verawati (komunitas pemerhati remaja dan pengajar di salah satu TPQ)

Oleh: Pera Verawati

Dunia sedang diambang krisis. Perang Rusia - Ukraina yang berkepanjangan memperburuk keadaan ekonomi dunia dan menyebabkan potensi terjadinya resesi makin besar.

Dunia fokus menyoroti konflik Rusia – Ukraina. Padahal, konflik juga terjadi di berbagai belahan dunia yang lain. Dan klaim yang muncul, bahwa salah satu penyebab konflik adalah sentimen antarkelompok beragama. Sehingga menurut mereka, diperlukan adanya upaya menjadikan agama sebagai sumber solusi global. (merdeka.com, 5/11/2022)

Inilah yang kemudian mendasari terselenggaranya pertemuan antarpemuka agama dunia di Yogyakarta pada Jumat (4/11). Diskusi yang diangkat di dalam forum tersebut, bertemakan Komunike R20 upaya pastikan agama berfungsi sebagai sumber solusi global.

Mereka mengupayakan agar agama muncul sebagai solusi global demi kehidupan yang harmonis bagi semua warga negara di seluruh dunia. Dilansir dari pers rilis, Forum R20 dibentuk dalam rangka berusaha untuk mempromosikan saling pengertian, budaya, damai, dan konsekuensi yang harmonis di antara keragaman agama dan bangsa di dunia.

Selain itu pertemuan tersebut juga menyerukan kepada para pemimpin agama, pemimpin politik dan seluruh masyarakat di dunia untuk bergabung dalam gerakan global yang didasari nilai-nilai peradaban bersama. Forum R20 bermaksud menjadikan agama sebagai sumber solusi global. Dalam hal ini ada 11 poin yang ditekankan. Salah satunya adalah melindungi manusia dari kekerasan dan penderitaan yang dipicu oleh konflik.

Bila ditelisik lebih jauh, forum ini hanya sebatas mengambil nilai-nilai universal dari berbagai agama. Bukan menjadikan agama sebagai landasan hukum. Padahal, sejatinya nilai-nilai tersebut tidak menjadi solusi yang solutif menyelesaikan berbagai permasalahan.

Hakikatnya nilai-nilai yang diambil tentu nilai yang tidak bertentangan dengan ideologi Kapitalisme. Artinya, nilai yang diambil sebatas pada nilai kemanusiaan semata. Bukan nilai asasi yang berasal dari aturan syar’i. Karena bagaimanapun, ideologi Kapitalisme akan selalu bertentangan secara konten dan konsep dengan Islam.

Jika ideologi Islam menentang privatisasi oleh swasta, maka Kapitalisme justru melegalkannya. Jika Islam menentang lokalisasi perzinaan, maka Kapitalisme melegalisasinya. Bahkan dijadikan sebagai bahan pelican untuk memuluskan keberhasilan berbagai proyek kakap.

Alhasil, selama Kapitalisme tetap menjadi asas. Apapun nilai yang diambil dan digadang-gadang sebagai solusi, realitasnya tak akan pernah menjadi solusi. Karena hakikatnya nilai itu merupakan produk dari diterapkannya aturan. Dan ini yang dipahami dalam Islam.

Nilai merupakan produk yang lahir dari diterapkannya aturan secara paripurna. Misal, berakhlak baik. Setiap muslim yang mukmin otomatis memiliki akhlak yang baik karena ia menjalankan syariat Islam secara benar. Ia diperintahkan untuk memuliakan tetangganya, memuliakan tamunya, dsb. Sehingga dengan adanya perintah “memuliakan” ini, maka akhlak baik itu akan otomatis muncul dari dalam dirinya.

Islam merupakan ideologi yang memiliki seperangkat pemikiran dan metode penerapannya secara komprehensif. Jejak rekamnya sudah terbukti selama kurang lebih 13 abad lamanya. Menjadi mercusuar dunia pada masanya. Mengalahkan kedigdayaan Eropa kala itu. Islam bisa menjadi adidaya karena diterapkan secara paripurna. Bukan hanya sekadar nilai, tapi juga aturannya secara menyeluruh. Wallahu a’lam bi ash-shawwab

*) Penulis adalah komunitas pemerhati remaja dan pengajar di salah satu TPQ

Baca Juga