PPKM, Di dalam KO Keluar Penuh Resiko

Pemerhati Sosial Masyarakat, Ratna Munjiah. (Ist)

Oleh: Ratna Munjiah

Kebijakan pemerintah menghadapi tingginya kasus Covid 19 tak henti-hentinya menimbulkan berbagai polemik di kalangan masyarakat, sebagaimana yang diberitakan.

Saya minta satu hal yang sederhana ini, tinggallah di rumah jika tidak ada kebutuhan yang mendesak. Hanya dengan langkah bersama kita bisa menghentikan wabah ini," katanya.

Sepekan setelah pengumuman itu, pemerintah memutuskan mengubah konsep penerapan PPKM dari skala mikro menjadi berat. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat menekan laju penyebaran kasus Covid-19 di Tanah Air yang kian memprihatinkan. PPKM Darurat berlaku mulai 2 Juli hingga 20 Juli mendatang. (merdeka.com).

Tak mengherankan jika akhirnya banyak pakar yang menganggap PPKM Darurat bukan kebijakan yang efektif untuk antisipasi kegentingan dan ledakan covid. PPKM hanyalah merubah istilah dari kebijakan yang sebelumnya yang tidak terbukti ampuh dan justru membingungkan.

PPKM merupakan kebijakan yang melukai hati rakyat. PPKM dibuat karena pemerintah tidak mungkin mengorbankan keuntungan materi atas nama penyelamatan ekonomi. Padahal pemerintah seharusnya berfokus pada penyelamatan nyawa rakyat. Namun kembali di bawah pengaturan sistem kapitalis impian rakyat untuk dicukupkan kebutuhannya oleh negara akan selalu menjadi sebuah mimpi yang tak akan pernah berakhir.

Sejatinya kemelut ini terjadi, karena sampai saat ini negara tak berhenti mengadopsi sistem kapitalis yang merupakan sistem rusak dengan standarnya adalah asas manfaat, tak peduli lagi apakah rakyat diuntungkan atau dirugikan. Sampai saat ini penguasa pun tampaknya semakin menunjukkan ketidak mampuannya dalam mengurus dan menjalankan pemerintahan. Setiap kebijakan yang diambil selalu merugikan rakyatnya. Dan sistem ini tentu sangat berseberangan dalam sistem Islam.

PPKM salah satu bukti bagaimana pemerintah melepaskan tanggung jawabnya terhadap rakyat. Rakyat diminta di rumah, sementara kebutuhan tidak dicukupi oleh negara. Walhasil di Dalam rumah KO keluar rumah penuh resiko. Seharusnya pemerintah berfikir benar bagaimana cara mencukupi kebutuhan hidup rakyatnya. Sejatinya jika kebutuhan dicukupi tentu rakyat akan taat pada kebijakan yang dibuat. Sekali lagi inilah dampak dari rusaknya sistem kapitalis. Situasi ini akan selalu terjadi selama sistem Islam tidak dijadikan sebagai peraturan hidup.

Dalam sistem Islam, pemimpin akan memposisikan diri sebagai pengatur urusan rakyatnya ia akan mengurus rakyatnya dengan tujuan untuk mendapatkan ridha Allah, bukan untuk mendapatkan keuntungan materi dan kebahagiaan dunia.

Sejatinya kepemimpinan adalah dasar dari sebuah tanggung jawab. Seperti yang dinyatakan di dalam Surat An-Nahl Ayat 93-96 :" Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan".

Ayat tersebut menjelaskan tentang tanggung jawab, maka menjadi pemimpin berarti akan memikul tanggung jawab tidak hanya di dunia namun di akhirat kelak. Karena setiap pemimpin nantinya akan dimintai pertanggung jawaban atas setiap kebijakannya.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda " Barang siapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga." (Hr. Bukhari dan Muslim).

Dalam lafadh yang lain disebutkan, "lalu ia mati dimana ketika matinya itu dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan surga baginya."

Demikian tegasnya Islam mengatur kehidupan. Islam memiliki seperangkat aturan untuk menyelesaikan semua problematika kehidupan. Islam akan memastikan bagaimana kesejahteraan rakyat akan terwujud, keadilan akan tercipta, tidak seperti saat ini saat wabah melanda PPKM diberlakukan namun pintu masuk asing dibuka. Kesalahan pengaturan tidak akan terjadi dalam sistem Islam, untuk itu sudah menjadi kewajiban untuk menyadarkan umat agar menerapkan sistem Islam dalam pengaturan kehidupan. Sudah seharusnya sistem rusak yang diadopsi oleh pemimpin saat ini dimusnahkan dan beralih kepada sistem Islam. Agar keberkahan, keridhoaan Allah dapat dirasakan oleh semesta alam. Wallahua'lam

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial Masyarakat

Baca Juga