Potret Buram Generasi, Buah Pahit Sistem Sekularisme

Ilustrasi

Oleh: Nur Rahmawati, S.Pd

Pemuda hari ini tengah dalam kondisi memprihatinkan. Bagaimana tidak, puluhan remaja di kota Tangerang diamankan Polres Metro Tangerang Kota.

Saat diamankan, didapati sebotol minuman keras (miras) di Kampung Karanganyar, Kelurahan Karangsari Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. (Kompas.com, 15/1/2023)

Kuat dugaan sebanyak 72 pemuda yang diamankan ini akan melakukan tawuran usai menenggak miras. Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho menyebutkan, di lokasi tersebut merupakan daerah rawan tawuran. Alhasil, petugas mengamankan 72 remaja tersebut, 61 ponsel, 29 unit motor dan sebotol minuman keras jenis anggur merah. Sebanyak 72 remaja itu berusia belasan tahun. Berdasarkan pendataan, mereka berasal dari Kota Tangerang dan Kabupaten Serang. Kapolres Neglasari membawa mereka untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Seperti inilah potret buramnya generasi muda saat ini. Miris melihat perilaku generasi saat ini yang minim visi, sibuk mengejar duniawi dan eksistensi serta harga diri. Jika kita lihat fakta yang terjadi, kerusakan generasi saat ini jauh dari nilai agama. Kasus serupa terjadi di Medan Sumatra Utara, seorang remaja bernama Zaqi Galang Ramdhan (16) tertusuk panah di bagian dada kiri setelah ikut tawuran di Kecamatan Medan Belawan. Kini remaja itu menjalani operasi bedah toraks, kata Sub Koordinator Hukum, Organisasi dan Humas RSUP HAM, Rosario Dorothy Simanjutak. (Detiksumut.com, 11/1/2023)

Pemuda merupakan aset bangsa yang seharusnya dijaga. Ia adalah tonggak bagi kemajuan dan pembangunan bangsa. Sebagai pemuda ia selayaknya memahami posisinya dalam melakukan perubahan. Sehingga di tangannya-lah maju mundurnya peradaban.

Pemuda selalu menjadi aktor penting dalam sejarah peradaban manusia, tak terkecuali dalam sejarah Islam. Kisah Ashabul Kahfi, ribuan tahun lalu misalnya, menginspirasi pemuda hingga masa kini.

Rasulullah saw. juga menaruh perhatian lebih kepada para pemuda. Mereka menjadi 'backbone' perjuangan masa awal Islam, dengan semangat dan keberaniannya yang tak tertandingi. Pada masa Nabi Muhammad saw., banyak kaum muda yang berjasa dan mewarnai sejarah Islam. Yang paling dikenal pada zaman Nabi, tentu saja adalah Ali bin Abi Thalib, atau Umar bin Khatab.

Saat masuk Islam, mereka masih muda dan terus menunjukkan keberanian dan keperkasaannya untuk membela Rasulullah saw dan Islam. Selain itu, ada lagi banyak pemuda di zamannya yang juga berjasa.

Namun berbeda jauh pada sistem Sekularisme. Dalam sistem Sekularisme, orientasi para pemuda saat ini orientasinya hanya terfokus pada “pemenuhan pribadi”. Ini terbukti ketika ada fenomena Citayem Fashion Week. Saat ditanya apa yang jadi target mereka, jawabannya "ingin menjadi youtuber". Maka siapapun ketika ingin menjadi youtuber tidak perlu sekolah.

Kondisi ini tanpa disadari menjadi potret bobroknya generasi hari ini. Inilah yang harus disadari, tetapi kesadaran ini bukan hanya untuk orang tua atau rakyat, yang harus sadar adalah pengelola negeri ini. Jangan sampai menjerumuskan anak negeri menjadi generasi buruk.

Pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Jika kita ingin mendapatkan pemimpin yang baik berarti kita harus membekali generasi dengan pendidikan yang berkualitas yaitu pendidikan Islam. Dimana pendidikan Islam memiliki orientasi untuk mencetak generasi bersakhsiyyah Islam (kepribadian Islam) dimana pola pikir dan pola sikapnya terintegrasi pada nilai-nilai kebenaran sesuai standar Islam.

Kini para pemuda mulai terkontaminasi arus deras dari dunia barat berupa Sekularisme, Kapitalisme, dan Hedonisme. Padahal, para generasi muda inilah yang kelak akan memegang tampuk kepemimpinan.

Pemikiran barat bukti nyata membuat bobroknya generasi. Ini terjadi karena jauhnya agama dari kehidupan remaja. Ditambah dengan masifnya serangan pemikiran Kapitalisme sekuler di tengah-tengah masyarakat dengan beragam cara mereka gunakan untuk merusak generasi muda muslim, terlebih lagi paham yang menjauhkan agama dari kehidupan manusia dianut oleh negaranya sendiri.

Akibatnya, tidak ada tempat bagi agama untuk mengatur urusan kehidupan masyarakat. Semua yang diambil aturannya manusia yang sangat lemah serta banyak kekurangan. Lebih parah lagi pemahaman yang diambil pemahaman sekuler kapitalis sebagai landasan berpikir, berpendapat dan berperilaku.

Hal ini berbeda dengan ideologi Islam. Islam mengajarkan untuk menjadikan keimanan sebagai pondasi bagi kehidupan manusia sesuai dengan aturan Islam. Dengan demikian setiap muslim siapapun dimana pun dia berada selalu mengimani dan melaksanakan aturan Islam. Karena itu, wajib bagi setiap muslim terikat hukum syara termasuk dalam tataran pemerintahan.
Wallahu a’lam bi ash-shawwab

*) Penulis adalah Pendidik Generasi

Baca Juga