Politik Dinasti Menyuburkan Korupsi

Oleh : Perwita Sari, S. Si

Lagi - lagi korupsi, kebiasaan yang sudah mengakar di negeri tercinta ini.

Bagaimana tidak, pejabat mulai mengambil peluang ketika diberi kekuasaan. Seakan akan kekuasaan adalah bancaan segar yang harus dinikmati dan dimiliki. Selama menjabat menjadi ajang untuk menikmati fasilitas, seperti kendaraan, tunjangan, apapun yang di dapat ketika menjadi abdi negara.

Hingga detik ini di dapatkan fakta yang terus berulang. Sudah menjadi kebiasaan, dunia perpolitikan tidak lepas dari jeratan korupsi. Terbukti Bupati Bogor Ade Yasin yang merupakan adik dari bupati Bogor sebelumnya Rachmat Yasin, di tangkap saat OTT (Operasi Tangkap Tangan) pada Rabu 27 April 2022. Dengan tuduhan dugaan kasus suap laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor tahun anggaran 2021 (Suara.com, 28/4/2022).

Sebelumnya juga pernah terjadi kasus seperti ini, yaitu kepada daerah atau gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah tertangkap bersama adik nya Tubagus Chaeri Wardana akibat tindak kasus korupsi.

Ada hal yang harus kita cermati ternyata korupsi sudah sering dan berkali-kali terjadi. Ternyata politik dinasti semakin menyuburkan korupsi. Korupsi dilakukan secara beramai-ramai tanpa kontrol yang kuat karena jabatan di duduki keluarga. Kontrol menjadi lemah, penyimpangan mudah di terima. Karena punya satu visi yang sama menambah kekayaan selama menjabat akibat ganti rugi dalam pilkada.

Jika dievaluasi apa yang salah, orangnya atau sistemnya. Jika yang salah orangnya ternyata banyak kasus korupsi juga menimpa orang yang duduk di kementrian agama contohnya menteri agama Surya Darma Ali terlibat kasus korupsi penyalahgunaan dana operasional menteri dan dana penyelenggaraan haji.

Jika yang salah sistemnya, berarti sistem ini lemah tidak tegas memudahkan orang melakukan tindak korupsi. Meskipun orang yang baik aqidahnya ketika terjebak dengan sistem yang buruk maka ia akan menjadi buruk. Sebaliknya jika sistemnya baik dan sempurna maka orang yang berada di dalam sistemnya akan menjadi baik.

Hanya Sistem Islam yang mampu menjamin orang yang berada di bawah aturannya akan menjadi baik. Islam mengajarkan pemeluknya untuk selalu mempunyai akhlaq yang baik baik jujur, amanah, dan profesional terhadap pekerjaan yang di geluti.

Islam menjaga individu masyarakat agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt. Individu tersebut menyadari bahwa segala gerak-gerik kita senantiasa diawasi oleh Allah Swt. Individu tersebut memahami bahwa semua perbuatan manusia akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah Swt. Bahkan mengetahui adanya pahala dan siksa, yang Allah Swt akan memberikan ganjarannya apakah surga atau neraka.

Karena kesadaran akan hubungannya dengan Allah Swt, membuat individu tersebut, menimbang segala amalnya apakah baik atau buruk. Hingga akan berfikir beribu-ribu kali untuk melakukan korupsi. Ia akan memilih jalan yang di ridhoi oleh Allah Swt.
Bahkan tidak akan dibedakan apakah pelaku korupsi masih kerabat dengan pejabat ataupun rakyat jelata. Maka telah di kabarkan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda yang berbunyi "Demi Allah, Seandainya jika Fatimah binti Rasulullah mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya " hadis riwayat Bukhari.

Jika memang terjadi korupsi, maka akan ada ketentuan yang berlaku. Pejabat yang telah melakukan korupsi akan diminta untuk mengembalikan harta negara yang telah ia ambil. kemudian akan dikenakan takzir bagi koruptor tersebut. Hukum takzir ini dapat berupa di arak di depan umum atau di penjara tergantung hukuman yang di berikan oleh hakim setelah melewati proses peradilan.

Demikianlah Islam menjaga amaliyah hamba agar tidak terjadi tindak pidana korupsi. Sehingga dalam sistem Islam orang tidak mudah melakukan korupsi walaupun hanya 100 perak.

Whallahu'alam bis showab

*) Penulis adalah Ibu Peduli Generasi

Baca Juga