oleh

Pilpres Kali Ini Akan Berujung Pada Konflik Horizontal

RadarKotaNews – Melihat kondisi bangsa Indonesia sekarang ini mengalami Gonjang-Ganjing dan Carut-Marut, dari sabang sampai marauke, dari tingkat Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, kelurahan/Desa, Sampai Media Sosial FB, Twitter, Whatsup grup, dapat menimbulkan Perpecahan panjang dan konflik Vertikal – Horizontal Akibat dari Pilpres.

Demikian pendapat Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Cirendeu Cabang Ciputat, Rahmat Luang saat di wawancarai di Kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta (22/4/2019)

Lebih lanjutnya menurut dia, Ini dapat menimbulkan conflik yang panjang bisa ke ranah Perang Saudara, Hal ini terjadi dikarenakan kedua paslon saling mengklaim satu sama lain, yang akhirnya akan mengakibatkan Konflik Horizontal.

Karena itu, Rahmat menilai, Pasca Pemilihan Pilpres 2019, polarisasi politik makin menguat. Masyarakat mulai terbelah menjadi dua kelompok yang saling berhadapan. Hal ini misalnya terlihat dari peristiwa saling serang antara kelompok pendukung gerakan dari kedua Pasangan Capres dan Cawapres 01 dan 02.

Peristiwa itu bisa jadi merupakan bibit polarisasi yang mengarah pada gesekan fisik yang lebih keras. Padahal, polarisasi itu awalnya terjadi di media sosial namun kemudian berpindah dan merembet ke lapangan. Tentu jika melihat kerasnya daya saing dan saling serang di media sosial sangat mungkin akan terjadi perpecahan dari kedua pendukung Tersebut.

“Asumsi itu didasarkan pada kecenderungan aktor intelektual di balik munculnya polarisasi tersebut adalah orang-orang yang sama. Pilkada DKI Jakarta 2017 harus diakui merupakan puncaknya polarisasi politik masyarakat yang tidak hanya di ranah online melainkan juga offline. Namun perlu diingat, polarisasi Pilkada DKI Jakarta 2017 tidak bisa dipisahkan dari polarisasi Pilpres 2019 yang kian memanas dari dua kutub tersebut.” Ujurnya

Para pendukung prabowo dipastikan akan mengerahkan segala cara untuk dapat memenangkan jagonya. Sebaliknya, para pendukung Jokowi akan mempertahankan dan menghalalkan segala cara sampai titik darah penghabisan supaya Jokowi bisa melanjutkan ke periode berikutnya. 

Munculnya Poros Pemuda dan Mahasiswa, Salah satu alternatif untuk meredam poralisasi yang akan terjadi. Tentu memunculkan poros Pemuda dan Mahasiswa, upaya untuk meredam polarisai dengan memperkuat literasi politik. Yakni, mengajak masyarakat supaya jangan mau dijadikan komoditas politik dengan beragam tipu daya yang ada.

Di saat yang sama, “kita perlu mendorong para elite politik dari setiap partai untuk memandang bahwa pilpres bukan semata-mata bertujuan meraih kekuasaan. Melainkan, merupakan bagian dari pesta demokrasi untuk memilih pemimpin yang dinilai mampu memperbaiki nasib rakyat.”tutup Rahmat.(Adrian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed