Perubahan Kurikulum, Potret Buramnya Pendidikan Indonesia

Ilustrasi

Oleh: Nur Rahmawati, S.Pd

Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mendukung opsi penerapan kurikulum prototipe yang digagas Kemendikbud Ristek.

Kurikulum prototipe ditawarkan kemendikbud Ristek sebagai pilihan bagi sekolah dalam mengatasi kehilangan pembelajaran atau learning loss dan mengakselerasi transformasi pendidikan nasional. (Kompas. com, 30/12/2021)

Pendidikan merupakan salah satu instrumen penting yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Dan berkualitas atau tidaknya pendidikan, turut ditentukan oleh kurikulum. Tentu komponen guru, sarana dan prasarana juga termaktub di dalamnya. Semuanya harus terintegrasi sehingga menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

Menyoal kurikulum, negeri ini sudah mengalami perubahan kurikulum secara terus-menerus. Hingga muncul anekdot, ganti menteri pendidikan, kurikulum pun berganti. Mulai dari kurikulum CBSA (Cara Belajar  Siswa Aktif), kurikulum 2006, kurikulum KTSP, kurikulum 2013 sampai yang terbaru adalah kurikulum prototipe. Jadi untuk saat ini pemerintah memberikan tawaran yakni kurikulum 2013, kurikulum darurat dan kurikulum prototipe.

Kurikulum prototipe merupakan kurikulum alternatif yang memuat lebih sedikit materi, tetapi dilengkapi dengan perangkat yang memudahkan guru melakukan diferensiasi pembelajaran. Misalnya, Kemendikbudristek akan menyediakan alat asesmen diagnostik untuk literasi membaca dan matematika. Kemendikbudristek juga akan membekali guru dengan beragam contoh modul yang bisa diadopsi atau diadaptasi sesuai konteks.

Sedangkan bagi siswa diberi kebebasan dalam memilih mata pelajaran apa yang akan dipelajari. Tidak ada pilihan jurusan IPA, IPS atau jurusan bahasa. Semua siswa bebas memilih sesuai minat dan potensinya. Memang sekilas kurikulum ini bagus, menarik dan mungkin cocok bagi pelajar di negeri ini. Namun ada baiknya menganalisis terlebih dahulu tentang kebijakan ini lebih mendalam.

Kurikulum yang didasarkan pada kebebasan memilih bisa saja menimbulkan diskriminatif dalam mata pelajaran. Siswa cenderung lebih memilih mata pelajaran yang mudah dan meninggalkan mata pelajaran yang menurutnya sulit. Sehingga pemahaman siswa bukan berdasar apa yang dibutuhkan siswa di kehidupan mendatang, melainkan apa yang disenangi walau sebenarnya tidak berpengaruh signifikan di dalam kehidupannya. Sebut saja, misal mata pelajaran agama jadi mata pelajaran yang tidak dipilih siswa, alhasil banyak siswa yang tidak paham syariat dan terbentuklah generasi-generasi yang  tak taat syariat. Tidak bisa dibayangkan akibatnya bagi pelajar yang sejak dini tidak ada sentuhan agama atau akidah, kelak ketika sekolah masuk jenjang SMP atau SMA akan seperti apa hasilnya.

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam, pendidikan bertujuan melahirkan peserta didik yang berkepribadian Islam yaitu siswa yang selaras antara pemikiran dan perilakunya, handal juga dalam bidang iptek dan bertakwa. Semua bidang ilmu yang dikuasai wajib dipandu oleh syariat Islam. Misalkan handal dalam bidang kedokteran maka tetap taat dengan syariat. Sehingga lahirlah generasi cerdas bertakwa dan melahirkan peradaban gemilang. Contoh nyata adalah sahabat Rasulullah Mush'ab bin Umair generasi muda yang siap menjadi duta Islam yang berdakwah ke luar negeri dan handal dalam berbagai bidang.

Seperti itulah bukti nyata keberhasilan penerapan kurikulum Islam, yakni terbentuknya kepribadian Islam, Yakni menyatunya pola pikir dan pola sikap Islam yang berhasil membentuk pelajar atau manusia cerdas. Apapun profesinya nanti maka ia tetap mengedepankan syariat dalam mempelajari ilmunya. Maka harapan terwujudnya generasi unggul sekaligus pemimpin peradaban yang agung itu hanya bisa terwujud dalam sistem pendidikan Islam. Karena dengan sistem pendidikan Islam-lah yang akan melahirkan generasi hebat yang siap mengisi peradaban gemilang, InsyaAllah.
Wallahu a’lam bi ash-shaawab

*) Penulis adalah Pendidik

Baca Juga