Permendikbud 30 tahun 2021 Antara Melindungi atau Menyuburkan Kebebasan Seksual?

Yeni Purnama Sari (aktivis muslimah)

Oleh: Yeni Purnama Sari

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim, memberikan pernyataan

"Kita sedang berada dalam situasi darurat kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Bisa dibilang situasi gawat, kita bukan hanya mengalami pandemi Covid-19 tetapi juga pandemi kekerasan seksual. Data dari Komnas Perempuan menyebutkan kekerasan seksual terjadi di semua jenjang pendidikan. Sebanyak 27 persen dari aduan yang diterima terjadi di ajang pendidikan tinggi,” jelas Nadiem dalam peluncuran Merdeka Belajar episode 14 : Kampus Merdeka dari Kekerasan Seksual. (ChatNews.id,Jumat,12/11)

Dari pernyataan tersebut beliau men-sahkan Permendikbud 30 tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual dan menurutnya ini adalah jawaban dari kegelisahan banyak pihak terutama mahasiswa dan mahasiswi diseluruh Indonesia atas kekerasan seksual dilingkungan kampus. Karena menurut Nadiem

Banyak yang Merespon Permendikbudristek tentang kekerasan seksual tersebut. Termasuk di kalangan dosen pun jadi perbincangan. Puluhan akademisi menyatakan dukungan. Banyak pula yang menolak dengan alasan terdapat perlindungan terhadap liberalisasi seksual dalam aturan tersebut.

Melihat dari tujuan permendikbud tersebut terlihat baik karena upaya untuk melindungi korban kekerasan, namun kita tidak bisa langsung Terima mentah-mentah tujuan tersebut karena ketika kita cermati lebih dalam isi dari permendikbud tersebut terdapat upaya menyuburkan kebebasan seksual dilingkungan kampus, terutama pada pasal 5 yang kalau dijabarkan adalah sebagai berikut: (ngertihukum.id)

Memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan Korban;

Mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban;

Mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi Korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan Korban;

Menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi Korban yang bernuansa seksual tanpa
persetujuan Korban;

Menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh Korban tanpa persetujuan Korban;

Membuka pakaian Korban tanpa persetujuan Korban

Dari isi pasal 5 tersebut sebagai orang yang awam pun pasti bisa melihat bahwa dari kata "tanpa persetujuan Korban" memiliki arti bahwa kalau tanpa persetujuan korban berarti pelaku seksual tidak boleh melakukan aktivitas seksual diatas dan ketika melakukannya akan dikenakan hukuman, namun ketika korban setuju tentang aktivitas seksual tersebut maka tidak apa-apa dan tidak akan ada tindakan hukuman, sehingga point penting dari pasal 5 tersebut adanya upaya menyuburkannya kebebasan seksual dilingkungan kampus, ihhh sangat menyeramkan ya!

Ditambah lagi dengan adanya represi agar semua institusi PT mengikuti permendikbud tersebut dan ketika tidak ikut akan di kenai sanksi administratif berupa:
Penghentian bantuan keuangan atau bantuan sarana dan prasarana untuk perguruan tinggi dan/atau penurunan tingkat akreditasi untuk perguruan tinggi.

Ini menjadikan kampus tidak ada celah untuk mengkritisi.

Begitu pula sikap rezim yang mengabaikan kelompok masyarakat yang mengkritisi hingga menolak permen liberal ini dan menjadi bukti bahwa tujuan pemberlakuan bukanlah memberantas kekerasan seksual di kampus, namun lebih dominan menjadi alat makin mengokohkan paradigma kesetaraan gender dan kebebasan pada berbagai lini.

Maka tidak heran ketika terjadi fenomena gunung es kekerasan seksual karena kemendikbud tidak melihat akar masalah tersebut terjadi karena sistem yang diterapkan saat ini masih liberal sekuleris dan diawali dengan dibukanya kran kebebasan berekspresi dan bergaul, terutama hal yang bisa membuka ruang aktivitas seksual dikalangan akademisi dan ditambah tidak ada patokan aturan batasan-batasan yang jelas yang boleh dan tidak seperti halnya dalam aturan islam.

Dalam sistem Islam, setiap aktivitas termasuk dalam hal berekspresi, bergaul dan berfikir manusia harus terikat dengan hukum syara’. Dalam Islam pun mempunyai solusi untuk mengatasinya kekerasan seksual dengan merujuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Islam menjelaskan secara jelas dan benar peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan, serta memberikan pedoman yang rinci tentang bagaimana seharusnya mereka berinteraksi antara satu dengan yang lain dalam setiap aspek kehidupan, terutama dalam kehidupan kampus, Sehingga tidak dikenal adanya penindasan, kekerasan ataupun diskriminasi yang dilakukan oleh salah satu pihak kepada pihak lainnya.
Allah SWT memberikan kewajiban bagi laki-laki dan perempuan sesuai dengan fitrahnya.

Diharamkan bagi laki-laki asing untuk memandang kepada seorang perempuan dengan syahwat. Jarir Ibn Abdullah meriwayatkan: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan yang tiba-tiba (kepada perempuan bukan mahram). Beliau saw memerintahkanku untuk memalingkan pandangan.

Dan adanya perintah menutup aurat secara sempurna bagi perempuan ketika hendak keluar rumah, yakni memakai Khimar (kerudung), jilbab (gamis) serta kaos kaki. Allah SWT berfirman, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 59).

Dan Perintah tentang menutup aurat bagi laki-laki dijelaskan dalam surat An-Nur ayat 30 yang artinya:

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."

Sebagai penutup diatas kekerasan seksual kampus tidak akan bisa diselesaikan dengan hanya permendikbud kekerasan seksual dan justru hanya akan membuka celah liberalisme dan sekularisme kampus. Namun, semua itu hanya bisa dihentikan dan diwujudkan dengan penerapan aturan islam secara kaffah (sempurna) di setiap lini kehidupan masyarakat termasuk di kehidupan kampus serta membuat kehidupan akan aman dan berkah, InsyaAllah.

Wallahu ‘alam bish-shawab (*)

*) Penulis adalah aktivis muslimah

Baca Juga