Perkembangan Sepak Bola Indonesia, Naturalisasi dan Efek Terhadap Regenerasi Potensi Lokal Pesepak Bola Indonesia

Poto: Arfino Bijuangsa Koto (Wasekjend PB HMI / Pecinta Sepak Bola Indonesia). (Ist)

Oleh: Arfino Bijuangsa Koto

Dilansir dari bolatimes.com 25/06/2021 bahwa, Sejarah sepak bola Indonesia dimulai pada tahun 1914 di zaman pemerintahan Hindia-Belanda. saat itu, banyak diadakan berbagai kompetisi antar masing-masing kota di Pulau Jawa.

Sebelum berdiri PSSI, saat itu didirikan Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang merupakan organisasi sepak bola. Hingga pada tahun 1927, NIVB berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU).

Pada 19 April 1930 di Yogyakarta secara resmi dibentuklah Persatuan Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) yang kini dikenal dengan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Pendiri PSSI adalah Soeratin Sosrosoegondo yang sekaligus menjadi Ketua PSSI pertama. Selain karena gemar bola, Soeratin menjadikan PSSI sebagai wadah pergerakan nasional melawan penjajahan. Saat berdirinya, PSSI memiliki beberapa kegiatan politik yang menentang Hindia Belanda.

PSSI sebagai badan olahraga nasional yang memiliki tujuan memperkuat olahraga Indonesia melawan Hindia Belanda. Untuk pertama kalinya, pada tahun 1938 berdiri Ikatan Sport Indonesia (ISI) yang menyelenggarakan Pekan Olahraga pada tanggal 15-22 Oktober 1938.

Kembali kepada masa pemerintahan Hindia Belanda. Dilansir dari www.bbc.com 27/09/2013 yang mana tim Hindia Belanda adalah negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia 1938 di Perancis, tetapi gaya permainan serta seluk-beluk tim sepak bola ini tidak banyak tercatat dalam sejarah. Berdasarkan laporan koran Perancis L’Equipe, edisi 6 Juni 1938, “Gaya menggiring bola pemain depan Tim Hindia Belanda, sungguh brilian tetapi pertahanannya amburadul, karena tak ada penjagaan ketat. Sehingga, seperti tercatat dalam sejarah, tim sepakbola Hindia Belanda (sekarang adalah Indonesia) dicukur 6-0 (4-0) oleh tim Hungaria – sekali bertanding dan kalah. Kejadian ini terjadi pada Piala Dunia 1938 di Perancis, yang saat itu memang menggunakan sistem gugur. Artinya, tim Hindia Belanda harus angkat kopor lebih awal.

Pembentukan Liga Amatir

Dilansir dari www.bolatimes.com 25/06/2021 bahwa, Liga sepak bola Indonesia dimulai pertama kali sekitar tahun 1930-an pada masa kolonial Belanda. Penyelenggaraannya amatir dan lebih dikenal dengan sebutan “Perserikatan”. Liga amatir berlangsung hingga tahun 1979.

Selanjutnya pada tahun 1979-1980, diluncurkan kompetisi yang dianggap lebih semi profesional, yaitu Liga Sepak Bola Utama atau disingkat Galatama. Galatama terdiri dari satu divisi tunggal (tahun 1983 dan 1990 ada 2 divisi). Galatama menjadi pionir kompetisi semi-profesional dan profesional di Asia selain Liga Hong Kong.

Kala itu, Perserikatan dan Galatama berjalan sendiri-sendiri. Hingga pada 1994, PSSI menggabungkan Perserikatan dan Galatama lalu membentuk Liga Indonesia. Tujuan penggabungan ini untuk meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia. Sehingga ada istilah “Fanatisme suporter di Perserikatan bercampur dengan profesionalisme dari Galatama”.

Kompetisi Profesional Sepak Bola Indonesia

Sejarah sepak bola Indonesia terus diingat dan dikembangkan hingga kini. Pada tahun 2008, dibentuk Liga Super Indonesia untuk menggantikan Divisi Utama sebagai kompetisi teratas. Selain itu Liga Super Indonesia juga menjadi liga sepak bola profesional pertama di Indonesia. Namun berjalannya waktu tepatnya pada 2011, mencuat dualisme kompetisi dengan pendirian Liga Primer Indonesia.

Kemudian pada tahun 2014 disepakati penggabungan Liga Primer Indonesia dengan Liga Super Indonesia hasil kongres luar biasa PSSI. Namun belum ada setahun berjalan, PSSI justru dibekukan oleh Menteri Pemuda dan OLahraga (Menpora) imam Nahrawi. Alasannya karena PSSI dianggap tidak mematuhi peraturan olahraga nasional.

Hal ini berujung pada pembekuan PSSI oleh FIFA. Satu tahun kemudian, Menpora akhirnya mencabut sanksi pembekuan aktivitas terhadap PSSI. Diikuti pencabutan sanksi oleh FIFA untuk Indonesia pada tanggal 13 Mei 2016. Sekarang, kompetisi sepak bola profesional tertinggi di Indonesia berganti nama menjadi Liga 1 yang diselenggarakan oleh PT Liga Indonesia Baru sejak 2017 sampai hari ini.

Pemain Naturalisasi Indonesia

Dilansir dari www.bolasport.com 27/06/2020 bahwa, Nama Cristian Gonzales akan terus dikenang sebagai pemain naturalisasi yang pernah membela timnas indonesia. Sejak mendapatkan paspor Indonesia pada 3 November 2010, Gonzales aktif menanggapi panggilan untuk membela tim Garuda. Tercatat, dalam periode 2010-2015, Gonzales sudah tampil di 28 pertandingan dan mencetak 12 gol untuk timnas Indonesia.

Cristian Gonzales juga menjadi inspirasi bagi pemain-pemain asing lain untuk ikut program naturalisasi demi bisa mengenakan seragam Merah Putih. Sebut saja Esteban Vizcara, Victor Igbonefo, Alberto Goncalves, hingga Otavio Dutra pernah bermain untuk timnas Indonesia dan sejak itu program naturalisasi semakin marak digalakkan.

Yang terbaru dan sedang Proses ada nama Jordi Amat, Sandy Walsh dan Shayne Pattynama dengan harapan besar mampu meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia yang sebentar lagi akan menghadapi kompetisi Piala Asia yang nama negara ini sudah 16 Tahun tidak berpartisipasi dikompetisi tingkat benua Asia tersebut bahkan untuk menatap kompetisi paling bergengsi yaitu gelaran Piala Dunia diperiode selanjutnya.

Namun ternyata, Cristian Gonzales bukanlah pemain naturalisasi pertama yang pernah dimiliki timnas Indonesia.Jauh sebelum Gonzales, Indonesia pernah memiliki kiper keturunan Belanda yang pernah bermain bersama tim Garuda. Kiper yang dimaksud adalah Van der Vin, seorang kiper asal Semarang yang aktif bermain pada era 1950-an sampai awal tahun 1960.

Di masanya, Van der Vin termasuk kiper yang pernah bermain bersama para pemain terkenal saat itu seperti Suwardi, Raman, dan Noorsalam. Van der Vin mengawali karier profesionalnya dengan bermain untuk Excelsior di Surabaya. Setelah itu, Van der Vin juga pernah membela Persija Jakarta, Fortuna '54 (Belanda), PSMS Medan, dan mengakhiri karier di Penang FA.

Sejatinya Van der Vin beberapa kali mendapat panggilan timnas Indonesia. Namun persoalan kewarganegaraannya membuat Van der Vin tak bisa ikut dalam pertandingan resmi.Van der Vin lantas mengikuti program naturalisasi dari PSSI bersama dengan empat pemain keturunan Belanda lainnya, yakni Van der Berg, Piteersen, Pesch, dan Boelard van Tuyl.

Eks Macan Kemayoran itu lantas menjalani debut pertama bersama timnas Indonesia saat melawan tim asal Hong Kong, Nan Hua, pada 27 Juli 1952. Van der Vin kembali memperkuat timnas Indonesia saat menghadapi timnas Hungaria di Lapangan Ikada, Jakarta, pada 1960. Selama berseragam Merah Putih, pemain yang dijuluki Nol Van der Vin itu tampil sebanyak 15 kali di bawah mistar gawang tim Garuda.

Matinya Potensi Pemain Sepak Bola Indonesia

Kurang jam terbang adalah penyebab utama tidak berkembangnya skil individu yang dimiliki oleh pemain sepak bola asli Indonesia karena secara otomatis mereka sangat minim pengalaman. Sama-sama kita ketahui pengalaman merupakan pelajaran yang sangat berharga, karena disana kita dapat banyak hal termasuk mental tanding.

Dikarenakan dalam sepuluh tahun terakhir ini Indonesia sangat gencar dengan program naturalisasi maka secara otomatis banyak pos-pos pemain Indonesia yang diisi sehingga bakat yang dimiliki oleh anak muda asli negeri ini harus terpendam dibalik bangku cadangan bahkan dirumah sembari menonton timnas kebanggaannya bertanding.

Apakah program ini salah, tentu tidak karena memang lolosnya timnas Indonesia di ajang piala asia dalam 16 tahun terakhir ini merupakan prestasi yang membanggakan karena negeri ini butuh prestasi yang mampu mengangkat harkat dan martabat negeri ini melalui sepak bola. Kita sangat menginginkan bagaimana rasanya mengangkat trofi piala asia tersebut karena jangankan trofi piala asia, trofi piala AFF pun sukar kita dapatkan. Namun kurang tepat rasanya kalau dibandingkan dengan jumlah 273 juta lebih penduduk Indonesia.

PSSI harus lebih serius dalam membina generasi muda sepak bola Indonesia bukan malah bernostalgia dengan menaturalisasi pemain. Letak keberhasilan PSSI bukan seberapa banyak ia menaturalisasi Pemain, tetapi seberapa banyak ia mampu melahirkan pemain muda yang siap berkompetisi baik dalam negeri maupun luar negeri bahkan ke Eropa.

Tidak hanya program naturalisasi yang membuat matinya potensi pemain sepak bola Indonesia tatapi sistem klub-klub di liga indonesia secara tidak langsung juga menghambat proses kaderisasi para pemain Indonesia. kita bisa memperhatikan setiap klub di kompetisi teratas liga Indonesia mempunyai minimal 3 pemain asing yang diantaranya berposisi sebagai Bek Tengah, Gelangdang/pengatur serangan dan striker. Jadi jangan heran kalau pelatih timnas sangat susah mencari pemain diposisi tersebut. Maka sistem yang diterapkan oleh klub di liga Indonesia perlu dievaluasi juga oleh Menpora melalui PSSI yang menjadi induk sepak bola Indonesia tersebut.

Pembinaan Pemain Usia Muda

Menpora melalui PSSI harus lebih serius lagi dalam pembinaan sepak bola Indonesia, Menjaring potensi muda diseluruh Indonesia bahkan ke plosok-plosok negeri. Setelah itu dilakukan pembinaan secara sustainable lalu didistribusikan atau bekerjasama dengan klub-klub peserta liga Indonesia dan diberi ruang atau menit bermain.

Memang program ini membutuhkan waktu yang lama, tetapi program ini sangat ampuh dan memiliki keuntungan jangka Panjang, karena kita sama-sama mengetahui bahwa tidak ada yang sia-sia dalam sebuah pengorbanan yang baik. Bukankah apa yang kita tanam itu pula yang kita tuai. Maka jika ini terus dilakukan maka yakin dan percayalah Indonesia akan memiliki banyak pemain sepak bola yang memiliki potensi luar biasa, sehingga dapat mengharumkan nama Indonesia melalui dunia sepak bola, betapa bangganya kita sudah menjadi bagian dari perjuangan yang Panjang ini.

*) Penulis adalah Wasekjend PB HMI / Pecinta Sepak Bola Indonesia

Baca Juga