Peringati Hari Perempuan Internasional, Perempuan Indonesia Bangkit Melawan Penindasan

RadarKotaMews, Jakarta - Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) menentang dan mengecam semua perang imperialis dan fasisme yang menyengsarakan rakyat dan kaum perempuan dunia, utamanya yang saat ini bertahan dan berjuang di area perang Rusia - Ukraina.

Demikian di sampaikan Dewan Pimpinan Pusat Gabungan Serikat Buruh Indonesia (DPP. GSBI) Rudi HB Daman dalam siaran pers saat berunjuk rasa dalam dalam memperingati hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2022, di Kemenakertras Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (8/3)

Rudi menegaskan bahwa Perang harus dihentikan. Perdamaian semua pihak harus dilakukan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan prinsip-prinsip de-eskalasi, menghormati kedaulatan Ukraina, dan perdamaian di Eropa Timur dan dunia.

Menurutnya, kepentingan kaum buruh dan rakyat dunia harus diprioritaskan di atas kepentingan kaum imperialis di tengah menajamnya pertentangan diantara kekuatan-kekuatan Imperialisme, hasutan perang Imperialisme USA-NATO, maupun perang yang berkobar di Ukraina, dan penderitaan hidup rakyat di dalam negeri akibat krisis ekonomi dan krisis kesehatan

"Kita menyaksikan Pemerintahan Jokowi sebagai Ketua atau Presiden G-20, tidak berdaya menjalankan amanat Konstitusi Republik Indonesia untuk bersama-sama dengan rakyat dan bangsa di dunia mewujudkan perdamaian dunia serta mengatasi krisis ekonomi dan krisis kesehatan yang membawa kesengsaraan rakyat Indonesia berkepanjangan," tutur Rudi

Padahal sambung dia, dalam situasi krisis, pandemic Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina, rakyat di Indonesia utamanya kaum perempuan di pedesaan dan perkotaan juga mengalami penderitaan hebat.

"Meski tidak dalam situasi perang agresi seperti di Ukraina, masalah kelangkaan dan melonjaknya harga minyak goreng, kedelai, dan harga kebutuhan pokok saat ini telah menjadi serangan telak yang memukul kehidupan kaum perempuan," terangnya

Di saat yang sama harus menelan pahit dari rendahnya upah buruh industrial dan buruh tani, meningkatnya biaya kesehatan dan pendidikan di saat utang kaum tani semakin tinggi, harga komoditas pertanian semakin rendah, serta bencana gempa bumi, banjir, longsor, dan kekeringan di berbagai daerah telah membuat kaum perempuan Indonesia semakin tenggelam dalam penderitaan.

Dengan fakta yang demikian, Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) dalam Peringatan Hari Perempuan Internasional (HPI) 08 Maret 2022 Menyatakan Sikap dan Mendesak serta Menuntut ׃

Pertama, Cabut Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 Beserta Seluruh Peraturan Turunannya.

Kedua, Cabut Undang-Undang SJSN No 40 Tahun 2004. Cabut dan Batalkan secara permanen Permenaker Nomor 02 Tahun 2022 Beserta Permenaker Lainnya Yang Merugikan Buruh.

Ketiga, Ratifikasi Konvensi ILO Nomor 190 Tahun 2019 Tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan Di Dunia Kerja.

Keempat, Sahkan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS ).
Berikan Jaminan Sosial Sejati Bagi Buruh & Rakyat Indonesia

Kelima, Turunkan Harga Minyak Goreng dan Bahan Pokok Lainnya serta berikan jaminan ketersedian pasokannya bagi seluruh rakyat.

Keenam, Batalkan Kenaikan Harga BBM, Gas dan PPN. Berikan Jaminan Kepastian Kerja Bagi Buruh bukan Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

Ketujuh, Hentikan Perang Negeri-Negeri Imperialis, Hentikan Provokasi dan Hasutan Perang Berkelanjutan USA-NATO Di Ukraina dan berbagai kawasan lainnya!!! serta Hentikan Operasi Militer Khusus Rusia di Ukraina!.

Kedelapan, Lindungi, selamatkan dan penuhi hak dasar dan hak demokratis klas buruh, kaum tani, nelayan, masyarakat adat, pemuda, mahasiswa, pelajar dan semua lapisan rakyat paling miskin di Indonesia akibat krisis ekonomi, krisis kesehatan dan akibat yang timbul dari kebijakan perang Imperialis.

Buruh perempuan Indonesia bersatulah bersama Rakyat tertindas dan terhisap seluruh klas dan sector, lawan seluruh kebijakan anti rakyat rezim Jokowi-MA, aktif dalam kerja kemanusiaan anti perang, dalam perjuangan pembebasan rakyat dan kaum perempuan, bahu membahu membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan kaum perempuan dalam organisasi demokratis, maju dan modern dalam rangka memenangkan tuntutan-tuntutan

"Mendesak atas hak-hak demokratis kaum perempuan dan perjuangan jangka panjang mewujudkan land reform sejati dan pembangunan industri nasional serta untuk perdamaian dan keadilan sejati," tutup Rudi. (fy)

Penulis:

Baca Juga