Peran Penting Ormas Islam Menyadarkan Umat Bahaya Pluralisme

Pemerhati masalah Umat, Siti Nur Ainun Ajijah (Ist)

Oleh: Siti Nur Ainun Ajijah

Dalam rangka menjaga kerukunan beragama DPRD Balikpapan bersama Muhammadiyah Kota Balikpapan menyelenggarakan Vaksinasi Covid-19 Lintas Agama untuk warga Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.

Untuk tenaga kesehatan selaku vaksinator disediakan oleh Dinas Kesehatan Kota Balikpapan. Drs. Muhammad Hendro selaku Ketua Muhammadiyah Kota Balikpapan menjelaskan bahwa kegiatan vaksinasi lintas agama yang digelar di Kelurahan Sumber Rejo ini bertujuan untuk mempererat hubungan dan toleransi umat beragama serta menjalin kerukunan. (kaltim.tribunnews.com/2021/10/07)

Pemerintah Kaltim pun berpendapat senada. Diantaranya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim berperan penting sebagai pendukung pembangunan daerah, terutama sebagai penengah perbedaan yang terjadi antar umat beragama. Keberadaan MUI juga penting untuk mendukung pengembangan daerah, utamanya bagi Kaltim yang ditetapkan sebagai IKN baru. (rri.co.id)

Indonesia negeri yang kaya akan keberagaman terlebih Kaltim sebagai provinsi yang strategis dan kaya sumber daya alam, sumber daya manusia, bahasa, suku hingga agama. Hal ini semakin melengkapi keberagaman di Kaltim. Sebagai masyarakat Kaltim tentu semua menginginkan kehidupan yang nyaman dan bisa hidup berdampingan dengan berbagai macam suku, adat, budaya, dan agama. Inilah yang melandasi sikap setiap orang dengan cara-cara tersendiri untuk menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat dengan berbagai perbedaan.

Sebagai seorang muslim, sudah tentu perlu untuk kita memilih dan memilah batasan-batasan pergaulan dan toleransi terutama dalam hal beragama. Dasar bersikapnya adalah syariat Islam yang telah mengatur bagaimana toleransi dalam hal beragama.

Toleransi beragama dalam Islam adalah sikap membiarkan, tidak mengganggu penganut agama lain dengan ibadah dan kepercayaan. Sikap demikian diantaranya merupakan pencerminan dari firman Allah SWT dalam QS Alkafirun: 1-6. Toleransi juga bermakna tidak memaksakan penganut agama non-muslim untuk memeluk agama Islam (QS Al-Baqarah: 256).

Sikap bertoleransi itu tidak boleh dimaknai dengan menganggap semua agama sama dan semua agama benar karena ini bertentangan dengan firman Allah SWT dalam QS Ali Imran:19. Bahkan Rasulullah SAW telah melarang keras seorang muslim keluar dari agama Islam (murtad) dalam HR Bukhari: “Barangsiapa yang mengganti agamanya (murtad), bunuhlah.”

Menjadi miris ketika peran MUI dan ormas Islam seolah-olah diaruskan untuk mendukung program moderasi beragama dengan dalih mewujudkan toleransi (kerukunan) antar umat beragama yang jelas-jelas menghalalkan pluralisme agama. Pluralisme agama adalah paham yang menyamakan semua agama adalah benar.

Pluralisme sangat berbahaya bagi aqidah umat Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridhoi di sisi Allah SWT (QS Ali Imran:19). Prinsip inilah yang ditegaskan oleh fatwa MUI tentang haramnya pluralisme, liberalisme, dan sekulerisme di tahun 2005.

Menyikapi fenomena ini maka  penting bagi masyarakat begitu juga ormas Islam dan MUI untuk mendakwahkan Islam secara menyeluruh, menguatkan aqidah umat, dan mengupayakan untuk tegaknya syariat Islam. Karena hanya dengan Islam kebahagiaan hidup dapat terwujud dan merata sebagaimana Islam menjaga agama, akal, jiwa, harta benda manusia dengan sangat sempurna.

Kembali kepada kehidupan Islam dalam negara Islam adalah solusi utama dan paling utama saat ini. Semoga bisa menjadi renungan bersama untuk kembali kepada Islam, menegakkan kalimatullah dengan syariat-Nya dan menjadi amal pemberat timbangan kebaikan di yaumil hisab kelak. Wallahu a’lamu bis-shawwab.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga