Penistaan Agama Terulang Sebab Islam tak Diterapkan

Devita Deandra, Aktivis Muslimah

Oleh: Devita Deandra

Miris. Lagi-lagi kasus penistaan agama terjadi. Baru-baru ini tengah viral di media sosial seorang Youtubers Joseph Paul Zhang, lewat unggahannya telah menistakan agama Islam dengan mengaku sebagai nabi ke-26 dan menghina Nabi Muhammad saw. Bahkan menghina Allah SWT.

Tidak hanya itu dia pun menantang untuk dilaporkan ke pihak kepolisian dan berjanji akan memberikan sejumlah uang kepada siapa saja yang melaporkannya.

Viralnya video itu pun memancing reaksi umat Islam, umat marah, sedih. Ketika Allah dan Rasulnya kembali dinistakan. Terlebih di negeri yang selalu menggembar gemborkan toleransi. Umat Islam dipaksa memaklumi dengan segala pelecehan yang acap kali terjadi, namun umat Islam sendiri selalu tersudut ketika terjadi sesuatu pada tempat ibadah kaum minoritas. Bahkan aksi terorisme pada Gereja Katedral beberapa waktu yang lalu pun Islam yang tertuduh. Dan begitu cepat para aparat bahkan pemerintah untuk menangani kasus tersebut.

Namun mengapa penistaan dan kasus-kasus serupa yang menyangkut agama Islam terus berulang, dan seolah tanpa penyelesaian yang tuntas. Padahal negeri ini negeri muslim terbesar, dengan pemimpin dan penduduk mayoritas beragama Islam. Namun penghinaan, penghujatan atau ketidaksopanan terhadap tokoh-tokoh suci, artefak agama, hingga aksi penyerangan dan teror kepada para pendakwah sering kali muncul bahkan menjadi biasa terlebih di tengah kehidupan yang mendewakan kebebasan berekspresi. Asas kebebasan menjadi dalil pembenaran atas semua tindakan pelaku penistaan.

Liberalisme-Sekularisme Ancaman Beragama

Paham liberalisme, sekularisme dan segala turunannya memang merupakan ancaman yang serius. Karena, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bertentangan dengan ajaran agama Islam. Liberalisme telah mendorong manusia untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Liberalisme adalah paham yang berusaha memperbesar wilayah kebebasan individu. Dalam hal agama, paham liberalisme hanya mau memahami nash-nash agama (Al-Qur’an dan sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas. Penganut paham ini hanya mau menerima doktrin-doktrin yang sesuai akal pikiran semata.

Sekularisme sebagai sebuah paham yang menghendaki pemisahan urusan agama dengan pemerintahan (politik), serta mendorong agama menjadi urusan individu. Akibatnya, manusia disibukkan dengan mengejar kenikmatan duniawi semata, lupa dengan akhirat.

Tindakan penghinaan, pelecehan, dan penistaan ajaran agama, baik melalui ucapan atau perbuatan, bisa disebabkan karenanya. Sekularisme dan liberalisme menjadikan penganutnya mencari hukum buatan manusia sebagai pemutus setiap perkara dan membatalkan hukum syariat.

Anggapan penegakkan hukum hudud terhadap pezina, pencuri, pembunuhan tanpa alasan yang benar dianggap perbuatan yang kejam, bengis dan tidak lemah lembut. Pemikiran untuk menghinakan dan melecehkan ajaran agama Islam terus berulang kali terjadi.Tidak adanya sanksi yang tegas terhadap para pelaku penistaan agama mendorong orang melakukan kesalahan yang serupa. Hal ini terjadi, sebagai dampak karena negara tidak mau menerapkan aturan agama dalam urusan pemerintahannya. Negara lebih memilih sistem pengaturan pemerintahan dan hukum berlandaskan pada kebebasan.

Khilafah Pelindung Agama dari Penistaan

Sebagai agama yang diridhai Allah Islam menjadikan sistem khilafah sebagai kepemimpinan umum bagi seluruh muslimin, untuk menerapkan syariat-syariat agama islam secara kaffah (menyeluruh).

Sebagaimana. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda,

“Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang dibelakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapat pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapat dosa/azab karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dengan adanya negara yang menerapkan Islam secara kaffah akan mewujudkan fungsinya sebagai sebuah institusi yang akan bertindak tegas terhadap para pelaku penista agama Islam dan syariat-Nya. Negara tidak akan pernah menoleransi pemikiran, pendapat, paham dan aliran serta perbuatan yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam.

Tauladan yang paling nyata tentang pentingnya peran negara dalam menghentikan tindakan pelecehan dan penistaan agama dan penganutnya terjadi di masa Rasulullah saw.

Dikisahkan, seorang sahabat buta memiliki seorang budak wanita. Si budak wanita setiap hari menghina Nabi Muhammad saw. Suatu malam, si budak menghina Nabi kembali, maka sahabat buta tersebut akhirnya membunuhnya. Dan keesokan harinya, Nabi mendengar kabar tersebut dan lalu membenarkan sahabat buta itu. (HR. Abu Daud 4363, ad Daruquthni 3242 dan dishahihkan al-Albani)

Ketegasan negara dalam menindak para pelaku penistaan agama mutlak diperlukan. Dengannya, efek jera akan muncul di tengah-tengah masyarakat. Sehingga kejadian serupa tidak akan terulang lagi.

Pentingnya keberadaan negara dalam menjaga agama diungkapkan juga oleh Imam al Ghazali, beliau mengumpamakan agama dan negara ibarat saudara kembar.

“Sesungguhnya dunia adalah ladang akhirat. Tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak punya pondasi akan hancur. Apa saja yang tidak punya penjaga akan hilang. Tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.

Maka dapat dipastikan ketika Islam tidak memiliki junnah atau pelindung juga negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh maka umat mayoritas tetaplah akan menjadi umat yang tertindas, Sebab kesempurnaan agama Islam tak akan pernah bisa diterima oleh sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga umat harus terus merasakan ketidak adilan.
Wallahu a’lam

*) Penulis adalah Aktivis Muslimah

Baca Juga