Penista Agama Menjamur di Negeri Timur

Kristi Widyastuti, Pemerhati masalah sosial (Ist)

Oleh: Kristi Widyastuti

Penistaan agama kembali terjadi, seorang youtubers Joseph Paul Zhang, melalui akun youtube miliknya. Ia menistakan agama Islam dengan mengaku sebagai nabi ke 26 dan menghina Nabi Muhammad serta Menghina Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Swt).

Dalam unggahan yang di beri judul ‘Puasa Lalim Islam’ tersebut, Josep menghina Allah SWT dengan menyebut kalau Allah sedang dikunci di Ka’bah. Joseph juga mengatakan bahwa dirinya nabi ke-26 yang meluruskan kesesatan ajaran nabi ke-25 dan kecabulannya yang maha cabulullah.

Joseph juga menantang agar dirinya dilaporkan ke pihak kepolisian. Dia berjanji memberikan sejumlah uang kepada siapa saja yang bisa melaporkannya ke polisi dengan tuduhan penistaan agama. Hal ini disampaikan di akun youtubenya pada tanggal 17/04/2021 (fokusatu.com).

Seorang pria Husin Alwi telah melaporkan pemilik akun YouTube Jozeph Paul Zhang. Laporan tersebut teregister dengan nomor LP/B/0253/IV/2021/BARESKRIM tertanggal 17 April 2021 (kumparan.com).

Joseph Paul Zhang akhirnya telah ditangkap oleh Interpol Jerman pada Rabu 21 Kamis 2021 (priangantimurnews.pikiran-rakyat.com).

Berdasarkan pemantauan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) selama Januari-Mei 2020, terdapat 38 kasus terkait penistaan atau penodaan agama yang terjadi di berbagai daerah (nasional.sindonews.com).

Penistaan agama bukanlah kasus baru di negeri ini. Mengapa penistaan agama selalu muncul berulang kali?

Buah Liberalisme Indonesia, negeri berpenduduk mayoritas muslim seharusnya menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Terhormat dan dihargai. Kenyataannya berbalik 180 derajat. Islam dan pemeluknya sering kali dihinakan di negeri ini. Mulai dari penghinaan fisik maupun verbal.

Penistaan terhadap Islam dan umatnya kian hari kian kencang. Ironisnya ini terjadi di tengah isu toleransi yang terus didengungkan di kalangan umat Islam. Namun, Islam dan umatnya tak luput dari penghinaan. Mengapa hal ini begitu kontradiktif?

Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi akar permasalahan pemicu penistaan agama yang terjadi di negeri ini.

Pertama, negeri ini menerapkan paham liberalisme (kebebasan) dalam mengatur tatanan hidup bernegara. Liberalisme menjadi asas dari setiap peraturan yang berlaku di negeri ini. Walhasil, liberalisme inilah yang menjadi legalitas setiap warga negara dalam bertindak. Para penista agama bebas berekspresi atas nama kebebasan. Atas dasar liberalisme mereka bebas menghina, menyakiti serta menistakan agama tanpa ada rasa takut.

Kedua, tidak menjadikan Islam sebagai sumber aturan. Karena asas yang berlaku di negeri ini adalah liberalisme, otomatis aturan Islam tidak menjadi sumber aturan kehidupan. Hukum-hukum Islam dipinggirkan. Negara seperti ini merupakan wujud negara sekuler. Negara sekuler merupakan negara yang tidak menggunakan hukum-hukum agama dalam mengatur masyarakatnya.

Dalam kehidupan sistem sekuler, masyarakat bebas melakukan segala hal. Bahkan perbuatan menyimpang dianggap hal yang wajar selama suka sama suka. Maka wajar jika penistaan agama, zina, transgender dan lainnya berkembang pesat di negera sekuler.

Umat Islam hari ini tak cukup percaya diri untuk mengamalkan Islam dalam tataran sosial dan politik. Mereka mencukupkan diri dengan ibadah mahdhoh dan akhlak. Padahal permasalah umat begitu banyak dan beragam yang membutuhkan penyelesaian. Walhasil, ketika menghadapi masalah, mereka mengambil hukum-hukum selain Islam.

Ketiga, tidak menerapkan sanksi tegas untuk penista agama. Hukum-hukum yang berasal dari selain Islam terbukti tak dapat menyelesaikan masalah. Walau pun hukum terhadap penistaan agama sudah ada di negeri ini, namun hukum yang ada tak cukup membuat jera pelaku penista agama. Ukuran baik buruk, terpuji tercela berdasarkan akal manusia. Sehingga hukuman pun mengikuti pertimbangan akal semata.

Islam Rahmat Bagi Semua

Absennya Islam dalam mengatur kehidupan menyebabkan berkembangnya kemaksiatan dan hilangnya kebaikan. Sebaliknya, bila Islam diterapkan dalam kehidupan akan mendatangkan kebaikan dan menghilangkan kemaksiatan.

Islam mengajarkan manusia memiliki budi pekerti yang luhur dan agung. Hal ini diajarkan Allah Swt pada umat Islam. Penistaan agama jelas perbuatan yang dilarang dalam Islam. Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (TQS. Al-An’am (6): 108)

Dalam Sistem Islam sangat jelas hukum bagi penista agama, juga penyimpangan terhadap syariat Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa menghina Allâh Azza wa Jalla , ayat suci dan Rasul-Nya adalah perbuatan kekafiran yang membuat pelakunya kafir setelah iman (Al-Fatâwa, 7/273).

Muhammad bin Syahnun rahimahullah mengatakan, “Para ulama sepakat bahwa orang yang mencela Nabi Saw dan menghina beliau statusnya kafir. dan dia layak untuk mendapatkan ancaman berupa adzab Allah. Hukumnya menurut para ulama adalah bunuh. Siapa yang masih meragukan kekufurannya dan siksaan bagi penghina Nabi Saw, berarti dia kufur.” (as-Sharim al-Maslul, hlm. 9). Dan bila pelakunya orang kafir, maka ia jatuh ke dalam kafir harbi yang boleh diperangi.

Allah Swt berfirman: “Jika mereka merusak sumpah sesudah mereka berjanji dan mereka mencerca agama kalian, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (TQS. At-Taubah (9):12)

Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الأَشْرَفِ، فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ: أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: نَعَمْ

“Siapakah yang mau “membereskan” Ka’ab bin Asyraf? Sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan rasul-Nya.” Muhammad bin Maslamah bertanya, “Apakah Anda senang jika aku membunuhnya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ya”…” (HR. Bukhari)

Hadits dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

.أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ ، فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ ، فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا

“ Ada seorang wanita yahudi yang menghina Nabi Muhammad dan mencela Beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun Nabi menggugurkan hukum apapun darinya (sahabat itu).” (HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid oleh Syaikhul Islam)

Hadis di atas jelas menyampaikan pada kita bahwa penghina Allah Swt dan Rasul Saw hukumannya adalah mati. Begitu pun yang pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad Saw.

Oleh sebab itu jika negeri ini masih menjalan sistem sekuler kapitalis maka akan tumbuh penista - penista agama lainnya. Namun jika negeri ini mau menerapkan syariat Islam secara kaffah, maka siapa pun akan terlindungi agamanya. Wallahu a’lam bishawab.

*)Penulis adalah Pemerhati masalah sosial

Baca Juga