Penguatan Moderasi Beragama Melanggengkan Penjajahan Barat

Foto, Perwita Sari (Peduli Generasi)

Oleh : Perwita Sari, S.Si

Penguatan Moderasi Beragama

Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengalaman kita dalam beragama

Secuplik kalimat yang di sampaikan pada laman web kemenag. Menandakan arus moderasi beragama kini kian digaungkan. Pasalnya sejak tahun 2018 Presiden Jokowi berkomitmen untuk melakukan program besar-besaran tentang moderasi beragama. Yaitu melalui lembaga pendidikan dan rumah ibadah.

Bahkan Moderasi beragama merupakan salah satu isu bangsa yang dipandang penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024., Seluruh kementerian dilibatkan dalam pengarusutamaan moderasi Islam. Berbagai program pun dilaksanakan, mulai dari kurikulum pendidikan, modul moderasi, duta moderasi, camp moderasi, tahun toleransi, dan sebagainya.

Pasalnya, pengarusutamaan moderasi ini bukan tanpa sebab. Alasannya yang sering dikemukakan adalah adanya kelompok radikal Islam yang dianggap intoleran. Tuduhan itu menjadikan alasan utama untuk menciptakan solusi jalan tengah menciptakan kerukunan maupun toleransi dalam tingkat nasional.

Ide Moderasi Penjajahan Barat Terhadap Kaum Muslimin

Proyek moderasi beragama tidak datang tiba-tiba. Barat menilai, setelah runtuhnya Komunisme, tantangan yang akan datang bagi hegemoni Barat adalah Islam. Sehingga agar tidak menjadi ancaman , Islam harus dibuat ramah terhadap demokrasi dan modernitas dan mematuhi aturan-aturan Internasional untuk mencapai perdamaian global.

Sesuai dengan laporan RAND Corporation (lembaga think tank Amerika) berjudul Building Moderate Muslim Networks yang terbit pada 26 Maret 2007 merekomendasikan, “Amerika Serikat memiliki peran penting untuk bermain di level moderat”.

Barat mendefinisikan “Islam moderat” sebagai lawan dari “Islam radikal”. Sedangkan radikal adalah ‘sikap tidak mau kompromi dengan nilai-nilai Barat’ sehingga Islam moderat adalah yang mau mengikuti arahan Barat. Inilah Islam versi Barat.

Ringkasnya Islam moderat adalah pemahaman Islam yang disesuaikan dengan pemikiran, pemahaman, dan peradaban Barat. Hasilnya, Muslim moderat adalah Muslim yang menerima, mengambil, menyebarkan dan menjalankan pemahaman Islam ala Barat.

Sebenarnya gagasan moderasi Islam cacat secara metodologi. Sehingga ide moderasi dengan jargon tolerannya, berusaha memalingkan ajaran agama Islam yang sahih menuju ajaran sekuler Barat. Sungguh ini bukti penjajahan Barat terhadap kaum Muslimin.

Islam Solusi Hakiki Tidak Butuh Moderasi

Lagi-lagi Islam yang dijadikan tertuduh di anggap sebagai intoleran. Padahal ketika Islam diturunkan, merupakan rahamat lil aalamin. Rahmat bagi semesta alam, kebaikan bagi penganutnya dan akan semakin terasa rahmatnya, jika direalisasikan dalam bentuk negara. Jika dikatakan Islam intoleran justru itu tuduhan yang salah. Karena ajaran Islam ajaran yang penuh dengan kasih sayang mengedepankan akhlak terpuji dan kuat memegang syariat yang tujuannya menjauhkan kerusakan bagi orang yang memeluknya.

Terbukti ketika Rasulullah Muhammad SAW membangun negara Islam di Madinah. Tiga agama Nasrani, yahudi, dan Islam bisa hidup rukun berdampingan. Bahkan Rasulullah mengikat perjanjian terhadap mereka berdasarkan hukum syariat Islam. Artinya seorang muslim tidak boleh melukai penganut agama lain Nasrani dan Yahudi. Kaum muslimin akan menjadi pelindung pertama kali ketika orang Nasrani dan Yahudi diserang.

Islam adalah agama sempurna yang tidak memerlukan lagi intervensi paham dari luar dirinya. Islam, jika diterapkan secara kaffah, akan mewujudkan kebaikan manusia seluruhnya. Islam mampu mewujudkan peradaban mulia sebagaimana telah terjadi pada zaman keemasan. Islam adalah agama damai dan mendamaikan serta sangat memahami keragaman sosiologis maupun teologis untuk tetap hidup berdampingan. Islam sebagai agama anti penjajahan juga terbukti paling berkomitmen membela negara dari segala penjajahan.

Dengan begitu, Islam tidak membutuhkan paham moderasi agama yang justru kontraproduktif dengan Islam. Paradigma moderasi beragama memiliki prinsip jalan tengah, berpaham sekulerisme, mencampuradukkan agama dan tradisi yang batil. Memberikan ruang bagi penodaan agama dan melakukan tuduhan-tuduhan tendensius atas Islam serta merebaknya islamophobia adalah sebuah kesesatan yang wajib ditolak oleh umat Islam.

Islam adalah agama sempurna yang melahirkan cara pandang dan sikap individu sebagai pribadi mulia yang senantiasa menebarkan kebaikan dan perdamaian bagi sesama. Jika diterapkan oleh negara, Islam akan menebarkan rahmat bagi seluruh manusia dan semesta alam. Namun ironisnya, propaganda moderasi beragama justru bermaksud menghalangi penerapan Islam kaffah dalam negara. Moderasi beragama hanyalah kedok untuk terus melanggengkan penerapan demokrasi, nasionalisme, sekulerisme, kapitalisme, liberalisme, dan pluralisme yang merupakan paham-paham dari penjajahan barat atas negeri-negeri Muslim.

Indonesia negara yang memiliki keragaman budaya dan agama. Bahkan memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun sayangnya, oleh para penjajah sumber daya alam ini telah di rampok habis-habisan. Hanya islam agama yang terbukti anti penjajah. Karena penjajah berusaha melumpuhkan semangat perjuangan umat Islam ini. Salah satunya dengan racun akidah bernama moderasi agama.

Karena itu pentingnya memberikan pencerahan kepada umat tentang bahaya imperialisme epistemology Barat ini. Caranya dengan membentengi umat dari narasi moderasi beragama dengan menjelaskan kebatilan dan kerusakannya. Umat Islam harus diberi penjelasan tentang hakikat Islam yang sebenarnya sesuai al Qur’an dan al hadits dan berbagai kesesatan isme-isme yang dipropagandakan Barat kafir. Umat Islam harus bersuara. Tidak boleh diam menyembunyikan kebenaran Islam dan kesesatan kaum kafir.

Penting ditegaskan bahwa Islam adalah metode kehidupan holistik bagi kebaikan manusia seluruhnya. Ia berasal dari sang pencipta manusia. Islam adalah metode kehidupan yang realistik, dengan berbagai, susunan, sistematika, kondisi, nilai, akhlak, moralitas, ritual dan begitu juga atribut syiarnya. Ini semuanya menuntut risalah yang ditopang oleh individu bertakwa serta kekuatan institusi yang dapat merealisasikannya secara kaffah yaitu khilafah Islamiyah.
Wallahu’alam bis Showab

*) Penulis adalah Ibu Peduli Generasi