Penghapusan BBM Premium dan Pertalite, Bukti Liberalisasi Migas

Gayuh Rahayu Utami (Anggota Komunitas Penulis Peduli Umat)

Oleh: Gayuh Rahayu Utami

Sejak tahun 2019 hingga tahun 2021, pemasokan BBM jenis premium dan pertalite semakin hari semakin menipis jika kita lihat di berbagai SPBU. Khususnya di kota Malang, BBM jenis premium sudah susah didapat.

Sementara jenis pertalite terlihat sering dibatasi. Pagi ada stok, sore sudah habis. Sampai banyak kendaraan yang antri panjang untuk mendapatkan BBM bahkan menginap di SPBU untuk mendapatkan pasokan BBM. Fakta yang ada, di kota Malang juga sudah terlihat SPBU asing, di antaranya Shell dan BP. Dua SPBU asing ini sudah beroperasi di wilayah kecamatan Lawang Kabupaten Malang dan di daerah jalan Soekarno-Hatta kota Malang. Dan harga BBM nya lebih mahal daripada SPBU Pertamina.

Hal ini sungguh meresahkan jika premium dan pertalite dihapus. Dampaknya merambah kepada harga kebutuhan sembako. Biasanya, jika terjadi kelangkaan BBM, harga pangan semakin mencekik leher. Rakyat kesulitan untuk memenuhi hajat kebutuhan hidupnya akibat jeratan sistem pemerintahan hari ini tidak berlandaskan Islam. Dengan dalih pemerintah untuk mengubah negeri ini menjadi energi hijau, namun nyatanya tidak sinkron dengan kondisi rakyat yang semakin memprihatinkan di samping harga kebutuhan pangan yang semakin meroket.

Pemerintah mengeluarkan dalih seperti itu sejatinya adalah kamuflase kepada rakyat dengan bertujuan agar investor asing semakin mulus untuk menanamkan investasi migas di negeri ini dengan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Akibatnya kehidupan rakyat semakin tertindas dan para korporat yang culas merenggut kekayaan sumber daya alam yang pada faktanya hari diprivatisasi. Rakyat sama sekali tidak menikmati hasil sumber daya alam yang melimpah ruah. Kekayaan diambil oleh korporat yang serakah.

Pengelolaan sumber daya alam di era kapitalis hari ini menimbulkan kerugian yang besar. Kekayaan sumber daya alam dirampas secara besar-besaran oleh para pemodal. Untuk menikmati sumber daya alam di negeri sendiri membutuhkan biaya yang mahal. Padahal jika sumber daya alam dikelola berlandaskan Islam dipastikan bertolak belakang dengan pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan dalam sistem kapitalis.

Dalam Islam, pengelolaan sumber daya alam wajib dikelola oleh negara tanpa intervensi dari asing. Hasil sumber daya alam sepenuhnya diberikan kepada rakyat untuk kesejahteraan yang memadai. Rakyat bisa mendapatkan fasilitas umum secara murah bahkan gratis jika hasil sumber daya alam benar-benar diberikan kepada Rakyat. Pendidikan, kesehatan, sandang, pangan, dan papan akan terjamin. Tidak ada yang merasa kekurangan baik secara lahir maupun batin karena semua hajat kebutuhan dipenuhi secara layak oleh negara yang berlandaskan Islam.

Sudah selayaknya, sistem kapitalis wajib dicampakkan dan dibuang jauh-jauh dalam ranah kehidupan. Terbukti semakin menyengsarakan rakyat secara sistemik dan hidup semakin tercekik. Hanya diterapkan Islam secara totalitas kebutuhan rakyat pasti terjamin dan semua fasilitas umum dapat diperoleh dengan mudah. Sangat layak penerapan Islam sebagai solusi untuk mengatasi semua persoalan umat secara tuntas hingga akar-akarnya. Rakyat memperoleh kesejahteraan yang hakiki bukan kapitalis yang membuat rakyat semakin dibuat gigit jari. Aturan Allah pasti sempurna sedangkan aturan manusia pasti mengalami kecacatan dan didominasi oleh hawa nafsu semata tanpa berlandaskan wahyu Ilahi.

*) Penulis adalah Anggota Komunitas Penulis Peduli Umat

Baca Juga