Pengarusutamaan Gender Menggerus Peran Mulia Perempuan

Pemerhati Masalah Umat, Novianti Noor (Ist)

Oleh: Novianti Noor

Pengarusutamaan gender adalah merupakan program berkesinambungan dari pemerintah supaya pembangunan dapat dilaksanakan bersifat adil bagi laki-laki dan perempuan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mendorong Kabupaten Kutai Barat mendongkrak Indeks Pembangunan Gender (IPG) setempat yang masih rendah, yakni di posisi 6 dari 10 kabupaten/kota di Kaltim.

Pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan program dan kegiatan pembangunan responsif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Perkembangan zaman yang semakin maju, menuntut peran serta perempuan dalam pembangunan, sehingga memunculkan pengertian peran ganda atau mitra sejajar. Seiring berjalannya waktu, perempuan mulai bangkit dan berhasil membuktikan keberadaannya layak untuk diperhitungkan.

Partisipasi perempuan secara khusus pada bidang politik saat ini telah mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, DPR, DPD, dan DPRD, mensyaratkan partai politik peserta pemilu memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen dalam mengajukan calon anggota legislatif. Maka ini sangat berarti dan memberikan kesempatan besar bagi perempuan untuk duduk diparlemen. (kaltim.tribunnews.com/2021/10/11)

Tak hanya dalam hal politik, perempuan juga diharapkan berpartisipasi di dalam ekonomi. Perempuan dianggap sebagai potensi besar sebagai penggerak pemulih ekonomi di tengah masa pandemi Covid-19. Untuk mencapai target peningkatan partisipasi perempuan di dunia kerja, perempuan harus mendapatkan posisi strategis, yaitu sebagai pimpinan di sektor swasta, dalam bisnis-bisnis dan di perusahaan-perusahaan.

Ilusi Kapitalisme Mensejahterakan Perempuan Melalui Pengarusutamaan Gender

Tak dapat dinafikan, kondisi kaum perempuan saat ini masih jauh dari sejahtera. Kemiskinan, beban ganda, kekerasan, stereotif, diskriminasi, dan marginalisasi kerap dialami kaum perempuan. Begitu pula dengan kapitalisasi dan eksploitasi, menjadi hal yang lekat dengan kehidupan sebagai perempuan.

Namun para feminis bersikukuh bahwa biang keladi semua persoalan ini adalah ketimpangan gender yang dikonstruksi oleh budaya dan agama. Kaum perempuan juga didoktrin bahwa budaya dan agamalah yang bertanggung jawab atas penderitaan perempuan saat ini. Oleh karena itu, mereka harus membebaskan diri dari kungkungan agama dan budaya, kemudian mengalihkan loyalitas pada sekulerisme yang mengharamkan keterlibatan agama dalam mengatur kehidupan. Perempuan pun menuntut kebebasan untuk melakukan apa saja tanpa harus terhalang kepada batasan-batasan syariat.

Kaum perempuan hari ini berlomba-lomba keluar rumah untuk berkiprah di ranah publik dan bisa menghasilkan materi sebanyak mungkin. Alhasil, tak sedikit dari mereka yang kehilangan kebanggaan sebagai seorang ibu yang mengurus anak dan rumah tangga. Beratnya beban ganda, peran domestik sebagai ibu dan pengurus rumah tangga dan sebagai perempuan yang fokus pada ranah publik, itulah yang terjadi. Akhirnya tergerus dan tergeserlah peran mulia perempuan sebagai kehormatan yang harus dijaga sekaligus sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Akibatnya perempuan hanya sekedar mesin pencetak uang, keluarga menjadi seperti tak bernyawa, tak ada lagi keharmonisan di dalam rumah tangga, serta segudang masalah rusaknya generasi yang mendera negeri ini.

Kian jelas bahwa kaum perempuan bukan hanya diposisikan sebagai objek pembangunan saja, melainkan ‘diseret’ pula sebagai subjek dalam menyelesaikan persoalan kemiskinan struktural dan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Inilah bahaya gender yang ingin menciptakan dunia berkesetaraan sempurna di tahun 2030, yang disebut sebagai Planet 50:50. Inilah ilusi barat dalam mewujudkan kesetaraan paripurna di semua bidang.

“Kemajuan” gender yang dipropagandakan hanyalah mantra sihir yang menyesatkan mimpi perempuan dan keluarganya untuk menggapai kebahagian semu. Terlihat dari parameternya yang bernilai materialistik. Realitanya, para kapitalis serakah terus-menerus mengekploitasi perempuan demi mewujudkan totalitas hegemoni atas dunia.

Sistem kapitalisme gagal menyelesaikan masalah dunia hari ini, terlebih masalah perempuan akibat bersumber dari ideologi batil. Pengarusutamaan gender tak pernah tulus menghargai bahkan gagal memuliakan perempuan. Keduanya hanya menjadikan perempuan sebagai objek ekonomi dan pelengkap penderita atas permasalahan dunia kapitalistik.

Melalui skenario pengarusutamaan gender, para kapitalis berusaha menghancurkan Islam melalui penghancuran institusi masyarakat Islam. Adanya korelasi positif antara penghancuran masyarakat dengan penghancuran kaum perempuan, karena perempuan merupakan separuh masyarakat dan berfungsi sebagai pilar penyangga masyarakat. Sisi lainnya, ini adalah upaya menjauhkan umat dari ideologi Islam dan penerapan Islam kaffah dalam sistem kehidupan Islam yang mulia.

Dalam kerangka penghancuran keluarga Muslim inilah para muslimah dimanfaatkan. Sebagaimana dahulu Daulah Islam dihancurkan. Upaya meracuni pemikiran untuk menanamkan akidah sekuler di benak-benak para muslimah sebagai strategi utama program ini. Menghilangkan aspek strategis politis peran keibuan, dengan menggambarkan sebagai peran yang tidak penting. Merobohkan peran keluarga sebagai pemelihara ikatan akidah umat dan tempat berlangsungnya pendidikan generasi.

Perempuan Mulia Hanya dengan Islam

Allah telah menetapkan kedudukan perempuan dalam posisi mulia yaitu sebagai kehormatan yang harus dijaga, ummu wa Rabbatul Bait (ibu dan pengatur rumah tangga), penyangga kemuliaan generasi umat, dan arsitek peradaban Islam di masa depan. Dari sisi insaniyah, Islam mendudukkan perempuan sebagaimana halnya laki-laki yaitu sebagai hamba Allah Swt. Perempuan dan laki-laki sama-sama diperintahkan untuk taat kepada Allah, menegakkan sholat, berpuasa, berzakat, menunaikan haji, menuntut ilmu, berdakwah, tolong-menolong di masyarakat, dan sebagainya.

Ketaatan perempuan kepada Allah bukanlah tanda kerendahannya. Islam meletakkan ketakwaan kepada Allah sebagai hal yang utama, baik kepada laki-laki maupun perempuan.

Allah pun dalam menciptakan jenis laki-laki dan perempuan memiliki kekhasan yang berbeda sehingga memberlakukan hukum yang berbeda antara keduanya. Seperti, pada muslimah berlaku hukum hamil, melahirkan, menyusui, mengasuh anak. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang bertugas menjadi kepala keluarga, mencari nafkah, menduduki jabatan penguasa. Termasuk perbedaan waris laki-laki dengan perempuan 2:1, persaksian 1:2, dan lainnya.

Muslimah pun dilarang menduduki jabatan sebagai penguasa, namun Islam tetap memberikan ruang untuk aktivitas politik lainnya, mulai dar pembinaan terhadap sesama perempuan, muhasabah lil hukam (menasihati penguasa), hingga menjadi anggota Majelis Umat.

Kepemimpinan perempuan dan partisipasinya dalam bidang politik serta ekonomi hari ini yang dikemas dalam bungkus gender (bukan dengan syariat Islam) sesungguhnya adalah cara Barat merusak Islam. Juga sebagai jalan menghalangi tegaknya Khilafah Islamiyah. Dikarenakan Khilafah Islamiyah adalah institusi yang menerapkan syariat Islam kaffah dan melenyapkan sekulerisme kapitalisme yang diemban Barat.

Barat ingin melemahkan kaum muslimin dengan menjadikan kaum muslimin tunduk dengan cara hidup mereka.

Allah sudah berfirman dalam QS al Baqarah: 120, ”Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar). ‘Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Kaum muslimin tidak boleh terperdaya dengan janji manis Barat yang berisikan racun mematikan. Umat harus memperjuangkan tegaknya pilar-pilar Islam dalam bangunan Daulah Islam. Kemuliaan Islam hanya akan diperoleh dengan tegaknya Daulah Islam. Wallahu a’lamu bis-shawwab.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga