Pemuda Harapan Bangsa dalam Dekapan Globalisasi Barat

Ilustrasi

Oleh: Siti Mariani

Pemuda di era modern ini dituntut maju dan menjadi pelopor masa depan.

Memiliki sumbang sih terhadap bangsa dan negara, tidak cukup hanya memikirkan diri sendiri tetapi dipundaknya tumpuan kedua orang tua, agama bahkan negara. Mereka dituntut kreatif, berdedikasi tinggi serta cepat tanggap akan semua permasalahan di masyarakat. Notabene masyarakat Indonesia yang beraneka ragam suku dan budaya.

Dikutip dalam sebuah berita (28/10/2022). Puncak Nasional Hari Sumpah Pemuda Ke-94 berlangsung di Titik Nol Nusantara, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Jumat (28/10). Dalam kegiatan bertema “Bersatu Bangun Bangsa” ini menjadi momen spesial bagi bangsa Indonesia karena “mengulang jejak” momen bersejarah yang terjadi 94 tahun silam. Di mana pemuda saat ini berkumpul untuk membacakan Manifesto Sumpah Pemuda Ke-94.

Manifesto tersebut berisi lima komitmen pemuda dan pemudi Indonesia. Yakni pertama, menjaga persatuan dalam keberagaman guna harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua, mendorong pemerataan akses dan meningkatkan kualitas pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ketiga, meningkatkan pemberdayaan ekonomi kreatif pemuda untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Kemudian, berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan. Terakhir, adaptif dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan kebangsaan dan perubahan dunia.

Globalisasi ekonomi adalah desain kapitalisme untuk menjajah dunia Islam. Sasarannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan berbasis industrialisasi menjadi target pembangunan. Karenanya diperlukan pasar besar guna menyerap produksi tersebut.

Generasi muda inilah yang di bidik dalam life style ( gaya hidup ) ala Barat, pemuda-pemudinya diskenario bersifat konsumtif dan hedonis. Para korporasi menyediakan produk demi memenuhi kebutuhan para generasi muda dengan produk itu para korporasi menuai keuntungan besar. Tidak sampai disitu para pemuda dijejali dengan life style (gaya hidup). Barat mulai dari industri fashion, film, food, entertainment dan digital. Pada akhirnya pemuda-pemudi Islam terbawa arus gaya hidup Barat.

Perilaku konsumtif ini tentunya butuh pekerjaan demi mencukupi gaya hidup ala kapitalisme. Dengan bekerja juga akan menunjukkan profesi seseorang, inilah yang menjadi indikator keberhasilan seorang pemuda. Karena sistem kapitalis ini menjadikan kesuksesan seseorang itu hanya dari sisi materi, kemampuan membeli barang mahal, pekerjaan bergengsi, lingkungan sosial yang mapan, dan sebagainya.

Selain itu, mahalnya biaya pendidikan yang telah dikomersialisasi membuat pemuda berorientasi materi. Tujuan mereka ketika bekerja adalah meraih gaji sebesar-besarnya sebagai pengganti biaya pendidikan yang telah dikeluarkan. Ditambah lagi dengan program pendidikan vokasi yang menginginkan agar pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan industri. Ini tentu menjadikan tujuan pendidikan berbelok dari mencerdaskan menjadi sekedar menjadi tenaga buruh.

Para pemuda saat ini tidak sadar telah dimanfaatkan para korporasi sebagai conveyor belt (sabuk penguat) bagi industrialisasi. Sejatinya pemberdayaan pemuda di sistem kapitalis bukan untuk para pemuda itu sendiri, melainkan untuk para korporasi yang memanfaatkan tenaga dan keahlian mereka saja.

Pada akhirnya mereka justru menjadi pembebek setiap pemikiran dan gaya hidup Barat, moral generasi terkikis sedikit demi sedikit bahkan kecerdasan mereka para pemuda digunakan mensuport visi misi Barat. Pemuda yang seharusnya menjadi roda peradaban yang berjuang untuk kemaslahatan umat nyatanya menjadi budak kapitalis dan semakin mengukuhkan penjajahan kapitalisme global. Mereka kaum pemuda-pemudi menjadi target kunci masuknya imperialisme (penjajahan gaya baru) lewat lifestyle Barat.

Pemuda muslim harus sadar akan strategi dan upaya kafir barat menghadang kebangkitan Islam. Wajib bagi mereka membekali diri dengan pemahaman dan keyakinan kuat untuk menolong agama Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam setiap gerak langkah perjuangan. Karena pemuda adalah garda terdepan kebangkitan. Di pundaknyalah estafet perjuangan dan masa depan negara.

Para pemuda muslim seharusnya membekali diri dengan tsaqofah Islam serta melakukan aksi politik demi mewujudkan kesadaran masyarakat terhadap kebenaran ideologi Islam. Sampai akhirnya mereka menginginkan penerapan syariat Islam sebagai solusi permasalahan umat. Dengan demikian umat tersadarkan dan mendukung perubahan menuju sistem Islam. Karena hanya dengan sistem Islam seluruh umat manusia akan hidup dalam keberkahan dan tidak terjerumus dalam arus globalisasi barat.
Wallaahu a'lam bisshowwab

*) Penulis adalah Aktivis Dakwah

Baca Juga