oleh

Pemerintah RI di Kota Kinabalu dan Tawau Imbau Awak Kapal WNI Tidak Melaut, Keamanan Belum Terjamin

RadarKotaNews, Jakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengkonfirmasi kapal ikan milik Malaysia, berawak 8 WNI di perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah, beberapa hari lalu, diculik dilakukan oleh Kelompok Abu Sayyaf.

Konfirmasi Kemenlu tersebut didapatkan ketika kapal ikan dengan nomor registrasi SSK 00543/F terlihat masuk kembali ke perairan Tambisan, Lahad Datu, Sabah dari arah Filipina pada 17 Januari 2020 pukul 21.10 waktu setempat.

“Di dalam kapal terdapat 3 awak kapal WNI yang dilepaskan penculik dan mengkonfirmasi 5 awak kapal WNI lainnya dibawa kelompok penculik,” demikian bunyi keterangan Kemlu, Selasa (21/1/20).

Pemerintah Indonesia sangat menyesalkan berulangnya kasus penculikan awak kapal WNI di kapal ikan Malaysia di wilayah perairan Sabah tersebut.

Pemerintah RI  berkoordinasi dengan Pemerintah Filipina akan berupaya mencari dan membebaskan kelima awak kapal WNI.

Untuk mencegah terulangnya kasus penculikan, Pemerintah melalui Perwakilan RI di Kota Kinabalu dan Tawau mengimbau awak kapal WNI untuk tidak melaut. Karena, situasi keamanan di perairan Sabah belum terjamin.

“Pemerintah RI juga mengimbau kepada calon pekerja migran Indonesia untuk berangkat ke luar negeri sesuai prosedur dan untuk saat ini tidak berangkat bekerja sebagai awak kapal yang beroperasi di wilayah perairan Sabah,” demikian keterangan Kemlu.

Sebagai informasi, kelima WNI yang masih hilang diculik Kelompok Abu Sayyaf ialah Arsyad bin Dahlan (42) selaku juragan, Arizal Kastamiran (29), La Baa (32), Riswanto bin Hayono (27) dan Edi bin Lawalopo (53). Belakangan diketahui, berdasarkan informasi dari keluarga, seorang WNI yang masih berusia 11 tahun, Mohamad Khairuddin, juga ikut menjadi korban penculikan.

Ketika kejadian, ia sedang ikut mencari ikan bersama pamannya Arsyad bin Dahlan. Sebelumnya, tiga orang WNI diculik ketika tengah mencari ikan di perairan Lahad Datu, Malaysia, pada September 2019. Ketiganya adalah Maharudin Lunani (48) dan anaknya, Muhammad Farhan (27), serta kru kapal Samiun Maneu (27).

Mereka berasal dari Baubau dan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Namun kini mereka telah dibebaskan.

Diketahui bahwa sepanjang 2000-2019 ada 39 WNI yang diculik kelompok Abu Sayyaf di Sabah, Malaysia. Satu dilaporkan meninggal dan satu lainnya masih disandera. Mereka rata-rata diculik ketika beraktivitas di laut, di sekitar Pantai Timur Sabah. (fri)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed