oleh

Pemahaman Nilai-Nilai Pancasila Guna Menangkal Radikalisme

Radarkotanews.com – Munculnya paham radikalisme di kalangan masyarakat khususnya para generasi muda merupakan malapetak bagi bangsa. Hal ini menunjukan kurangnya pemahaman terhadap nilai-nilai pancasila pada sebagian para pemuda. Direktur Perlindungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)Brigjen Pol Drs Herwan Chaidir mengatakan bangsa kita mempunyai falsafa ketuhanan yang maha esa, bahwa bangsa indonesia mempunyai toleransi beragama.

“Dalam pandangan umum nilai-nilai pancasila sudah mulai luntur di mata para pemuda yang sudah dianggap tidak ada fungsinya,” ucap Brigjrn Pol Drs. Herwan Chaidir saat diskusi yang bertajuk “Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Menangkal Radikalisme”di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta (15/6/15).

Menurut Herwan, penanganan terhadap pemberantasan terorisme dengan cara melakukan pendekatan yang lembut dan persuasif sangat penting dalam upaya pemberantasan terorisme.

“Kami melakukan pendekatan di luar maupun di dalam lembaga pemasyarakatan,” ujarnya.

Lanjut Herwan, Dalam penangan yang selama ini dilakukan ada yang berhasil dan ada yang masih terkendala, terkendalanya penanganan tersebut karena idiologi yang sudah terbanguan oleh doktrin.

“Pandangan keagamaan yang eksklusif dan lemahnya nasionalisme serta lunturnya pemahaman terhadap nilai-nilai pancasila, menyebabkan masyarakat menjadi apatis terhadap infiltrasi paham-paham itu,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama Anggota Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Mustofa B Nahrawardaya menyatakan bahwa media di Indonesia dan di dunia yang akhir-akhir ini gencar memberitakan tentang sepak terjang ISIS. Hingga kini juga belum bisa berhasil mendapatkan berita dari sumbernya secara langsung di Suriah yang menjadi basis ISIS.

Mustofa berpendapat bahwa semua terjebak masalah ISIS, dengan pemberitaan yang sangat radikal seperti pasukan ISIS membunuhi para wanita, anak-anak apakah ada pihak media yang bertanya kepada pimpinan tertinggi ISIS mengenai pembunuhan-pembunuhan tersebut.

“Masyarakat selama ini terjebak dengan permasalahan ISIS dari beberapa sumber informasi yang salah,” tuturnya.

Mustofa juga menjelaskan bagaimana kesalahan FBI dalam melakukan perekrutan terhada seorang Agen, kasus bom Boston ternyata salah tangkap agen yang direkrut oleh FBI merupakan seorang pemabuk dengan gaji yang sangat besar.

“Saat ini banyak orang yang ingin mejadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa radikal,” tandasnya.

Mustofa mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan agar tidak menyimpang dari idiologi, meski banyak intel luar yang ingin menghancurkan negara kita untuk mengeruk kekayaan negara indoneia dengan merusak idiologi.

“Perlu digaris bawahi apapun agamanya kita harus tetap berlandaskan pancasila dan jangan malu untuk mengakui bangsa Indonesia sebagai negara kita,” pungkasnya.(Id)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed