oleh

Patut Di Curigai YLKI Lembaga Hoax

 

RadarKotaNews – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), sebagai tempat pengaduan para konsumen yang di rugikan oleh para pengusaha dll.

Dari informasi yang beredar sebanyak 400 pengaduan yang masuk dan diterima YLKI namun tidak seluruhnya terkait meikarta.

Staf Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Mustafa mengatakan bahwa dari 400 pengaduan tersebut hanya 10 pengaduan yang diterima secara resmi. Sementara 400 pengaduan sifatnya lebih kepada global mengenai masalah pengembang properti.

Jadi menurut Mustafa, pengaduan tentang Meikarta baru masuk dari juli sampai september 2017. Inti permasalahan yang di pertanyakan konsumen salah satunya terkait booking fee yang mana hal itu tidak bisa dikembalikan.

Sementara kontrak atau perjanjiannya tidak jelas, yang dalam artian pihak pengembang tidak pernah memastikan kapan akan serah terima unit.

Selain itu soal rumitnya proses prosedural pemesanan dari marketing yang satu ke marketing yang lain.

Kemudian sambung dia, hal ini berdampak ke masalah konsumen, dari analisa yang kita pelajari, faktornya tentang proses perizinan yang memakan waktu cukup panjang.

“Rencananya, kita juga akan melakukan pengaduan ke pihak kepolisian dan kementerian. Karena kami melihat disini ada unsur pelanggaran undang-undang dan harus ada tindakan jelas dari pemerintah terkait bahkan juga ancaman pidananya.”terangnya

Selain itu pihaknya juga akan terus mengkaji apakah akan diteruskan ke Ombudsman dan DPR. Karena setau kami DPR pun juga sudah membentuk panja (panitia kerja) hal ini khusus permasalahan Meikarta ini.

“Kami dari YLKI posisinya disini hanya berusaha melindungi konsumen, agar tidak dirugikan. Kami meminta agar pengembang ini mematuhi apa ketentuan yang memang harus dipenuhi.”kata Mustafa saat di konfirmasi di kantor YLKI Jakarta, Selasa (17/10).

Terkait soal izin, beberapa waktu lalu Kementerian Dalam Negeri melalui statmen Menteri Tjahjo Kumolo menyatakan bahwa sudah tidak ada masalah terkait izin, hal tersebut di bantahan oleh YLKI.

YLKI menilai, izin tersebut masih sebatas IPPT yang diselesaikan sebanyak 8,4 hektare. Namun, dalam proses pemasarannya dikatakan sudah mencapai 500 hektare. Dari hal inilah kami melihat adanya ketidak sinkronan informasi yang diterima masyarakat, dengan kenyataaan sesunguhnya.

Sementara IPPT itu sendiri juga belum bisa dikatakan izin. Karena IPPT hanya bersifat izin prinsip, yang padahal banyak proses lainnya harus ditempuh. Dari IMB, Amdal dan lainnya. Masih banyak yang harus dijalankan.

Oleh karena itu, YLKI menyakini karena proses tersebut masih menggantung maka pihak YLKI tidak dapat menjanjikan kepada konsumen kapan unit itu bisa diserah terima kan.

“Dari data yang kita dapat, didalam perjanjian mereka November 2018,”katanya.

Lanjut Mustafa, hal yang akan kita teruskan ke kepolisian, lebih kepada permasalahan pemasaran.  Sedangkan ke DPR dan Kementerian soal Meikarta tidak bisa memastikan kepada konsumen soal serah terima unit atau masalah perizinan tersebut.

Selain itu kita juga mau menyurati Kementerian yang justru malah mengapresiasi proyek ini, yang jelas-jelas masih terkendala permasalahan tekhnis.

IPPT, IMB, Amdal, Penyesuaian RT RW (Tata Ruang Wilayah) dan garansi dari lembaga perbankan.

Meikarta sendiri menurut YLKI, berdalih masih proses pemasaran belum ada proses penerimaan uang atau transaksi. Padahal MUP tersebut sudah termasuk dari bagian pembelian unit.

Ada kesan YLKI hoax. Kalo konsumen mengadu ke YLKI, harusnya YLKI malah membuka data ke Pers agar permasalah semakin cepat diselesaikan..toh, calon konsumen pun tentu setuju karena merasa dibantu secara informasi dari pers.

YLKI tidak transfaran terkait pengaduan, sebab hingga saat ini tidak ada pengaduan resmi yang diterima Ombudsman maupun dari surat pembaca pada koran koran nasional.

Dari 10 pengaduan resmi itu YLKI tidak dapat memberikan data pengaduan tersebut kepada wartawan. Yang mana seharusnya data pengaduan bisa diberikan kepada wartawan sesuai UU Keterbukaan Publik dan UU Pers serta UU Layanan Konsumen.(Adrian)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed