Pajak Nafas Kapitalisme Rakyat Tercekik Islam Dilirik

Aktivis Muslimah, Devita Deandra (Ist)

Oleh: Devita Deandra

Pajak seolah menjadi nafas sistem Kapitalisme Sekuler hari ini. Tanpa pajak maka mati, begitulah buruknya sistem pemasukan/keuangan dalam negara yang menerapkan sistem Kapitalisme Sekuler. Pajak dijadikan salah satu sumber pemasukan negara.

Baru-baru ini, Kebijakan pemerintah untuk memungut pajak pertambahan nilai (PPN) lebih besar pada 1 April 2022 menjadi perhatian publik. Alasannya rakyat kini sudah cukup menderita. Mengapa pemerintah justru membuat kebijakan demikian.

Berdasarkan Undang-undang (UU) Harmonisasi Peraturan Perpajakan, tarif PPN yang diberlakukan adalah 11%, lebih tinggi dibandingkan saat ini yaitu 10%. Meski kenaikan tarif ini tidak diberlakukan untuk semua barang dan jasa. Melainkan ada pengecualian, khususnya bahan pokok hingga berbagai jenis jasa seperti pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Akan tetapi untuk barang seperti mie instan, pulsa, alat tulis, pakaian dan lainnya akan dikenakan tarif baru. Bukan barang pokok, namun masih bagian dari barang yang sering dikonsumsi masyarakat.

Langkah ini jelas menarik perhatian banyak pihak. Apalagi dalam kondisi sekarang di mana harga barang melejit sejak awal tahun. Ada minyak goreng, elpiji, gula, serta kebutuhan lainnya. Kondisi di mana masyarakat tengah menderita.

"Menaikkan PPN di tengah pemulihan ekonomi sekarang ini, juga dinilai tidak tepat. Apalagi saat ini inflasi dalam trend meningkat. Kenaikan PPN akan menambah tekanan inflasi," terang Ekonom CORE Pitter Abdullah kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin, (15/3/2022)

Penolakan juga datang dari Faisal Basri, ekonom senior, yang menolak kebijakan tersebut dijalankan. Alasan paling utama, tidak ada unsur keadilan yang selama ini disampaikan oleh pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan jajaran.

"Ini tidak menggambarkan rasa keadilan. Adilnya dimana?," ungkapnya saat wawancara dengan CNN TV, dikutip Jumat (25/3/2022)

Tanggapan Islam

Menanggapi kebijakan ini, tentu ada beberapa hal yang harus disadari. Jika pajak hari ini menjadi sumber pendapatan negara, itu adalah sebab dari diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk bernegara. Alhasil ketimpangan-ketimpangan selalu dirasakan, meski kondisi rakyat tercekik kebutuhan hidup, nampaknya pemerintah dalam sistem ini tidak perduli akan hal itu.

Terlebih ketika pajak yang hendak dinaikkan ini juga menyangkut produk-produk yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Hal itu semakin menampakkan bahwa kapitalisme tak pernah memandang rakyat sebagai amanah yang harus diriayah, justru sebaliknya rakyat dalam sistem ini terpaksa menjadi sapi perah. Harapan hidup sejahtera didalam negeri yang kaya, nyatanya hanya mimpi belaka.

Padahal Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam, juga hasil bumi yang melimpah ruah. Namun negeri ini tak segan-segan memalak rakyatnya dengan dalih bayar pajak untuk pemulihan ekonomi dsb. Memanglah sistem kapitalisme, menjadikan pajak salah satu sumber pendapatan utama negara. Sebagai salah satu instrumen fiskal, pajak berperan penting dalam membangun negara dan mendukung jalannya pemerintahan. Selain itu, pajak juga dapat digunakan sebagai instrumen untuk menstimulus bangkitnya sektor ekonomi.

Sayangnya, konsep Kapitalisme yang menempatkan pajak sebagai sumber pendapatan terbesar bersifat baku. Padahal, jika negeri ini mau sedikit saja arif dalam mengelola sumber daya alam yang ada, sesungguhnya kekayaan itu akan mampu memenuhi kebutuhan rakyat juga pembangunan negara. Bukan malah sumber daya alam yang melimpah ruah itu diserahkan pengelolaannya kepada individu maupun asing, sebab itu adalah harta milik umum, maka pengelolaannya seharusnya dilakukan oleh negara dan diperuntukan untuk rakyatnya.

Konsep Islam Dalam Mengelola Sumber Daya Alam

Jika kita menyelami konsep Islam terkait sumber pendapatan, akan terlihat perbedaan signifikan terkait sumber-sumber pendapatan negara.

Dari mana negara mendapatkan dana untuk memenuhi kebutuhan pokok individu dan masyrakat? Abdul qadim zallum dalam bukunya, Al-amwal fi dawlah Al-khilafah (sistim keuangan negara khilafah) telah menjelaskan secara lengkap sumber pemasukan negara yang di kumpulkan oleh lembaga negara islam yaitu baitul mal

Dalam sistem ekonomi islam SDA seperti kekayaan hutan, minyak, gas dan barang tambang lainnya yang hajat hidup orang banyak adalah milik umum (rakyat) sebagai sumber utama pendanaan negara. Kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga:

Pertama, fasilitas umum: semua yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum- jika tidak ada dalam suatu negeri akan menyebabkan kesulitan dan dapat menimbulkan persengketaan. Contoh: air, padang rumput, api (energi) dll.

Kedua, Barang tambang dalam jumlah sangat besar termasuk milik umum(rakyat) dan haram dimiliki secara pribadi. contoh: minyak bumi, emas, perak, besi, tembaga, dll

Ketiga, Benda benda yang sifat pembentukannya menghalangi oleh individu. Contoh: jalan raya, sungai, laut, danau, tanah tanah umum, teluk, selat dan sebagainya.

Pada kepemilikan umum ini negara hanya sebagai pengelola.dalam hal ini, syariah islam mengharamkan pemberian hak khusus kepada orang atau kelompok orang (swasta), apalagi swasta asing. Jika dieskplorasi dan eksploitasi dana dan sarana, pemerintah wajib menyediakannya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mengurusi kepentingan rakyat.

Dengan begitu, Kalau semua potensi SDA milik umum dikelola negara pemerintah tidak perlu membebani rakyat dengan pajak. Rakyat juga sejahtera jika pemerintah benar dalam mengelolanya sesuai dengan tuntunan syariat. Sebab Allah titipkan kekayaan yang luar biasa dinegeri ini. Namun akibat salah kelola dan sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan dalam mengatur jalannya sebuah aturan, baik hidup maupun negara, alhasil rakyatlah yang paling dirugikan, ketika hidup dalam naungan sistem Demokrasi kapitalistik. Sudah saatnya umat sadar bahwa solusi satu-satunya keluar dari problem kehidupan adalah dengan kembali kepada Islam. Wallahu alam

*) Penulis adalah Aktivis Muslimah

Baca Juga