oleh

Niatnya Arisan, Ujungnya Ditinggal Tanpa Pesan

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Arisan sudah tak asing dikalangan ibu-ibu, berbagai alasan bisa dibuat seketika itu jika ada ajakan arisan. Diantaranya, untuk tabungan, supaya uang tidak ikut aliran jajan dan mata lapar, untuk pendidikan, investasi dan sebagainya. Intinya, yang dulu tak suka arisan jika punya komunitas pasti ingin punya ikatan, salah satunya dengan arisan.

Terutama di masa sulit seperti hari ini, dimana keuangan tak mengalir lancar sehingga kita harus kencangkan ikat pinggang lebih kencang lagi. Namun ada saja orang yang memanfaatkan situasi sulit ini untuk kepentingan perutnya sendiri.

Tega ! Mungkin kata itu yang akan kita sematkan pada perilaku HA di kampung Limbangan, desa Limbangsari, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat , Jumat ,31 Juli 2020. Ratusan orang mendatangi rumahnya untuk menagih paket arisan yang seharusnya cair per 31 Juli 2020. Namun ternyata HA menghilang dari rumahnya.

Anggota arisan yang dikelola HA, diketuai oleh 3 orang masing-masing pegang 100-200 orang anggota dan mereka  bukan hanya warga Cianjur tapi juga luar daerah seperti Sukabumi dan Bandung Barat.  HA Terima setoran Rp 500 Juta hingga Rp 3 Miliar (Kompas.com, 2 /8/2020).

Selain arisan uang,  HA juga menawarkan paket lain mulai arisan investasi barang elekronik hingga paket kurban. Jadi, 3 ketua yang menjadi pihak terlapor sekaligus   sebagai pengelola arisan berupa investasi sejumlah barang, seperti alat elektronik, perabot rumah tangga, hingga paket kurban dan jenis paket arisan lainnya,” jelas Basyir, kuasa hukum ketiganya.

Tentu saja banyak orang yang meradang, dengan jumlah setoran yang tak sedikit mereka sudah pasti benar-benar mengandalkan pencairan dana sesuai kesepakatan. Terlebih di sisi lain ada banyak kepala rumah tangga yang tak bisa menjalankan kewajibannya menafkahi keluarga disebabkan PHK dan sulitnya lapangan pekerjaan.

Permainan ekonomi rakyat kecil sudah menyusahkan banyak orang hanya karena hilang ketakwaan. Arisan yang sudah dikelola sejak 2015 nyatanya kini menyisakan derita saja, jangankan untung, mengetahui kejelasan nasib uang mereka dengan mengandalkan hukum di negeri ini bak mencari jarum yang terjatuh dalam sekam.

Kasus koruptor besar saja jadi bulan-bulanan apalagi koruptor kelas teri begini, sudah jelas tak akan secepatnya mendapat kejelasan. Benarkah hanya salah si bos arisan, bisa jadi ia hanya korban, korban dari lamanya kita dipimpin aturan sekulerisme. Yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sang Bos Arisan sudah pasti punya agama, namun dengan kejadian ini sudah pasti tidak pakai aturan agama yang ia anut.

Terlebih jika ia seorang Muslim, sudah bisa dipastikan tak pernah ia berpikiran bahwa Islam adalah agama yang sempurna, yang tak hanya mengatur kapan ia shalat namun juga mengatur dimana saja ia boleh tidak jujur, ternyata tidak dimanapun. Sebab sebagai muslim ia terikat dengan hukum Allah Sang Khalik dan Mudabbir (pengatur). Sebagaimana firman Allah SWT dalam Quran surat Al- Ankabut: 3, yang artinya:

Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.

Hukum di Indonesia juga menyumbang maraknya pencurian atas nama arisan bodong begini. Tak tegas dan masih bisa disetir uang.  Lihat bagaimana kesudahan para koruptor dipenjara, mereka justru menikmati kemewahan ala bos kecil di sebuah pulau yang menyediakan kebutuhan mereka lengkap dari mulai alat fitnes hingga wanita pemuas nafsu seks.

Maka, harus ada perubahan terkait aturan yang mengatur interaksi antar manusia sekaligus ketika mereka bermuamalah ( berbisnis). Pun ada jaminan tingkat ketakwaan individu-individu masyarakat dari negara agar senantiasa terjaga. Bagaimanapun manusia adalah tempatnya salah dan dosa, sedangkan  takwa itu bukan upaya sehari dua namun terus menerus dengan penjagaan sanksi berupa hudud dan jinayat.

Takwa adalah bagian dari pendidikan, sebab jika kurikulum pendidikannya tidak berbasis akidah yang benar sejak awal juga tak bisa diharapkan mampu mencetak generasi yang baik.

Islam mengatur seluruh kebutuhan rakyat secara komprehensif dan saling bersinergi. Rakyat yang lapar tentu akan dicari solusinya, tak sekedar dihukum atas tindak kejahatannya tapi juga ditelusuri mengapa ia bisa melakukannya, jika karena penguasa yang lalai maka akan diperbaiki secara sistem. Tak sekedar dihukum, dimasukkan penjara tapi tak diberi jaminan pembinaan dan kebutuhan hidupnya agar ia tak mengulang kembali kejahatannya. Wallahu a’lam bish showab.

*)Penulis adalah Insitut Literasi dan Peradaban

(fy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed