Nestapa Tak Usai, Akibat Ketiadaan Khilafah

Ilustrasi

Oleh: Nur Rahmawati

Kemiskinan merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh negara berkembang yang paling menjadi perhatian dunia, khususnya Indonesia. Kemiskinan sendiri merupakan kondisi yang menyangkut ketidakmampuan negara dalam memenuhi tuntutan kehidupan yang paling minimum, khususnya dari aspek konsumsi dan pendapatan.

Menurut Supriatna (1997:90) suatu penduduk dikatakan miskin bila ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas kerja, pendapatan, kesehatan dan gizi serta kesejahteraan hidupnya yang menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan. Berdasarkan laporan UNICEF, lebih dari 2 juta anak akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan jika bantuan sosial untuk rumah tangga dihentikan pada tahun ini, pada 2021," ujar Athia dalam sesi webinar, Kamis (4/3/2021). (liputan6.com, 4/03/2021)

Mengguritanya kemiskinan, bahkan dari tahun ke tahun semakin bertambah. Bukan hanya disebabkan karena faktor individual, melainkan banyak faktor yang jika dirunutkan menjadi faktor struktural yang sulit diuraikan. Sebut saja para petani yang terus-menerus bekerja keras demi mendapat rupiah. Mereka tak malas, tapi mereka tak meraih kesejahteraan. Bukan hanya karena faktor teknologi tak mutakhir, tetapi juga karena harga jual yang dihargai amat rendah. Pun dengan buruh taninya. Sementara harga jual seharusnya pemerintah yang meregulasi. Bukan diserahkan kepada mekanisme pasar.

Tak cukup sampai di situ, impor juga terus-terusan digencarkan, sementara harga tak kompetitif. Lagi lagi, petani dibuntungkan. Di sisi lain pun, rakyat menginginkan harga yang murah. Akhirnya di sini peran pemerintah harus mewujudkan bagaimana para petani bisa menghasilkan harga yang kompetitif dan menjual di pasaran.

Itu hanya sebagian kecil saja. Masih banyak problematika lain yang tak kunjung usai akibat penerapan Sekularisme - Kapitalisme di bumi pertiwi ini. Degradasi moral kian parah, mahalnya biaya pendidikan, tidak meratanya akses pencaharian, banyaknya pengangguran, free sex, pembunuhan, dan sederet kriminalitas lainnya. Hal ini jelas berbeda dengan penerapan Islam 14 abad yang lalu.

Kurang lebih 13 abad lamanya Islam menjadi mercusuar dunia. Kehidupannya penuh keberkahan. Masyarakat hidup dalam balutan ketakwaan dan juga kesejahteraan. Negeri baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur, benar-benar dirasakan kala itu. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin pun benar-benar terealisasi pada masa kehidupan Islam. Bukan hanya jadi bacaan dalam Alquran semata. Begitulah, ketika Islam diterapkan. Apa yang tertera dalam Kalamullah, akan terasa. Bi idznillah, selama kita berpegang teguh pada Rabb Semesta Alam.

Ketiadaan Islam dalam institusi kehidupan akan sangat berakibat dalam berbagai aspek. Di antaranya: 1) keridaan Allah Swt semakin jauh dari capaian seorang muslim. Karena keridaan Allah Swt. hanya dapat dicapai dengan mengikuti seluruh hukum dan aturan-Nya dengan penuh ketaatan sebagaimana dipraktikan oleh nabi kita, Muhammad saw.; 2) hilangnya rasa aman dan jaminan keamanan; 4) kebodohan begitu merajalela, karena pendidikan jadi barang “mewah” yang sulit diakses oleh penduduk miskin;

5) Sektor tambang banyak diprivatisasi swasta maupun asing; 6) Kedaulata negeri terancam karena maraknya investasi dalam berbagai sektor, termasuk aset strategis negara; 7) hukum mampu dibeli dengan uang, sehingga keadilan sulit didapatkan; 8) kaum muslim semakin jauh dari ketaatan kepada Rabb-nya.

Dalam skala internasional, kita dapati bagaimana kaum muslim di Rohingnya, Chechnya, Palestina, Kashmir, Bosnia, dan sederet negeri-negeri muslim lainnya hidup dalam penuh penindasan penjajah. Bahkan, untuk menjalankan ibadah dalam ranah individu saja, di beberapa negara dilarang. Seperti kaum muslim di Cina.

Kaum Muslim telah kehilangan Islam sebagai sistem kehidupan dengan tiadanya Khilafah. Padahal Allah telah menciptakan manusia kecuali sebagai Khalifah di bumi, sebagaimana firman-Nya: “Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 30), untuk tujuan agar memakmurkan bumi dengan menegakkan aturan-Nya. Dengan aturan Allah, bumi menjadi baik, sebaliknya, bumi menjadi rusak tanpa aturan-Nya. Sedangkan untuk mencari khalifah adalah dengan penerapan sistem Islam.
Wallahu a’lam bi ash-shawab

*) Penulis adalah Komunitas anggota Revowriter, Anggota Forum Dakwah muslimah.

Baca Juga