Nestapa di Palestina, Dunia Hanya Bisa Terpana

Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd. Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

Oleh: Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.

Serangan udara Israel di Jalur Gaza menghancurkan beberapa rumah dan menewaskan puluhan warga Palestina di Jalur Gaza. Ada 244 orang tewas, dan 65 anak-anak. Dilansir dari Reuters, serangan itu dilakukan pada Minggu (16/5/2021). Militer Israel mengatakan korban sipil tidak disengaja.

Pesawat jet Israel menyerang sistem terowongan yang digunakan oleh militan Hamas, yang runtuh, merobohkan rumah-rumah. Hamas menyebut "pembunuhan yang sudah direncanakan sebelumnya."

Saat Dewan Keamanan PBB bersidang untuk membahas agresi Israel ke Palestina, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan kampanye di Gaza terus berlanjut dengan kekuatan penuh. Netanyahu juga membela serangan udara Israel pada hari Sabtu yang menghancurkan gedung 12 lantai tempat Associated Press dan jaringan TV Al Jazeera berkantor. Dia mengatakan struktur itu juga menampung kantor intelijen kelompok militan dan dengan demikian menjadi target yang sah. (news.detik.com)

Sejak perampasan tanah Palestina yang dilakukan Israel, makin lama wilayah Palestina makin sempit. Tak hanya itu, serangan Israel telah menciptakan neraka bagi Palestina. Penduduknya banyak yang telah gugur, sisanya makin menderita. Sejak tahun 1938 sampai 2021, sudah 33 serangan brutal Israel ke Palestina. Ribuan orang syahid, luka-luka, dan kehilangan tempat tinggal.

Akar permasalahan di Palestina adalah perampasan tanah Palestina (tempat suci kaum muslimin : Masjidilaqsa, QS Al Isra’ [17]; 1) oleh Zionis. Selanjutnya, Zionis Israel meminta Tanah Palestina dibagi dua wilayah yaitu negara Israel (perampas) dan Palestina. (Iyad Hilal. Palestina, Akar Masalah dan Solusinya. Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, tahun 2003, Cetakan kedua, hlm. 13).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 120 : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." Demikianlah kalam Allah SWT telah mengabarkan. Api kebencian dalam dada mereka terus berkobar ditambah arogansi halu yang dalam tertanam dalam benak mereka, bahkan diwariskan ke keturunan-keturunan mereka, bahwa mereka adalah kaum superior di atas umat mana pun dan tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan Allah SWT kepada mereka. Sehingga mereka tidak pernah merasa merampas tanah Palestina.

Kecaman dan kutukan atas aksi Israel terus bergulir. Donasi maupun bantuan terus maksimal diupayakan oleh kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Namun lagi-lagi, Israel tidak pernah bergeming sedikit pun. Karena sudah menjadi mafhum umum Israel mendapat bantuan negara-negara adidaya serta penguasa kaum Muslimin yang menjadi kaki tangan mereka. Maka tidaklah heran, Israel menjadi besar kepala!

Tentu apresiasi setinggi-tingginya atas kecaman dan kutukan maupun donasi serta bantuan yang diberikan, merupakan tanda perhatian dan kasih sayang atas sesama saudara kaum Muslimin, namun ingat, semua hal tersebut tidak akan pernah bisa mencabut akar masalah yang terjadi di Palestina. Diibaratkan jika ada seseorang yang didatangi orang jahat ke rumahnya dan kemudian memukuli dan menganiaya orang tersebut, dan kemudian kita mengobati luka-lukanya untuk kemudian kita tetap tinggalkan dia di dalam rumah dimana di dalamnya si penganiaya tetap ada dan kembali menganiayanya, dan kembali kita obati dan kita tinggalkan lagi dia dalam rumah dimana si penganiaya akan kembali menganiayanya!

Tahun-tahun telah berlalu, kita hanya bisa nanar menonton Gaza yang dibombardir, setiap tahun kita hanya bisa menggalang dana dan demonstrasi di jalan-jalan. Kekuatan militer hanya bisa dihadapi dengan kekuatan militer juga. Kekuatan militer cuma bisa diakomodir dalam skala negara. Negara yang bagaimana? Jelas bukan negara yang menganut sistem demokrasi, sistem yang berhukum pada akal manusia yang serba lemah dan terbatas serta menihilkan hukum syariat Allah Azza Wa Jalla dalam mengatur negara. Sistem dongeng penuh dusta yang konon melindungi dan menghargai harkat dan derajat tiap jiwa manusia. Terbukti dari solusi pembagian 2 negara antara Palestina dan Israel, tak lebih dari sekadar ilusi, karena wilayah Israel justru terus menerus membesar, sementara wilayah Palestina terus-menerus mengecil.

Hanya negara yang menganut sistem Islam lah yang mampu menyelamatkan, melindungi dan mempertahankan Palestina maupun negeri/wilayah kaum Muslimin lainnya. Di masa peradaban emas kegemilangan Islam, selama hampir 13 abad (1.280 tahun), Palestina aman, damai, sentosa dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah setelah dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab tahun 636 M. Karena para penguasa kaum Muslimin saat itu sangat menyadari sabda Rasulullah SAW :“Sesungguhnya Imam adalah laksana perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya”. (HR Muslim). (muslimahnews.com/2021/05/24)

Sudah saatnya nestapa di Palestina dihilangkan dengan aksi konkrit berikutnya, dari donasi, bantuan, kecaman dan kutukan ditingkatkan dengan pengerahan bantuan militer. Karena solusi penyelesaian penjarahan tanah Palestina oleh Israel yang berhukum pada sistem demokrasi sudah terbukti tidak mampu menuntaskan permasalahan di sana bahkan membuahkan derita tak berkesudahan bagi rakyat Palestina. Sudah saatnya sistem Islam diberikan kesempatan diterapkan dalam level negara sehingga terbukti kepiawaiannya dalam menolong dan melindungi umat manusia. Semoga terwujud dalam waktu dekat. Wallahu'alam.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

Baca Juga