oleh

Mubazir Parah Bagi Alusista Indonesia

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Menteri Pertahanan, Letnan Jendral Prabowo Subianto berkeinginan memborong 15 unit jet tempur bekas Eurofighter Typhoon dari Austria. Informasi yang dihimpun VIVA, militer dari Krone, senin 7 September 2020, Tanner telah membuat surat balasan yang isinya menyebutkan Austria siap menjalin kerjasama dengan Prabowo termasuk melego 15 jet tempur yang ditaksir Prabowo.

“Sekarang kami memberi tahu Indonesia bahwa kami akan mengurus penjualan tersebut secara legal dan mengadakan pembicaraan dengan semua orang yang terlibat,” tulis Klaudia Tanner ( viva.co.id, 7/9/2020).

Sebagai negara besar dan berdaulat, maka negara wajib memiliki angkatan bersenjata yang mumpuni, pasukan yang terampil dan sistem persenjataan yang kuat dan tercanggih. Agar ia mampu menjadi pelindung bagi rakyatnya, memelihara perdamaian sekaligus mendukung dakwah fi Sabilillah.

Dan kekuatan itu harus berasal dari negara itu sendiri. Terutama dari sisi persenjataan, negara harus mengembangkan industri persenjataannya sendiri tanpa bergantung pada negara lain. Secara logika, mana ada produsen senjata mau begitu saja menjual persenjataannya yang tercanggih, meskipun dibayar dengan harga mahal. Hal itu sama saja dengan upaya bunuh diri.

Negara lain akan dengan mudah mendikte negara kita sebab mengetahui titik lemah persenjataan kita. Juga bisa dibilang sebagai pemborosan. Dengan membeli pesawat tempur ke asing menunjukkan bahwa negeri ini belum berdikari. Padahal, negeri ini bisa membuat sendiri dengan memfasilitasi dan meningkatkan kualitas SDM dalam negeri.

Kita masih ingat saat PT Pindad berjaya, pabrik baja Krakatau Steel dengan kualitas baja terbaik sedunia, atau PT. Dirgantara yang sukses memproduksi pesawat terbaik di dunia, dengan BJ Habibie sebagai pencipta desain berikut rumus-rumus antisipasi badan pesawat agar tahan terhadap gangguan cuaca dan lain-lain.

Mengapa semua itu seakan menguap? Bahkan BJ Habibie hingga akhir hayat mengabdikan dirinya di Jerman, sebab di sana karya beliau dihargai. Buah pikiran beliau dijadikan sebagai salah satu menunjang kekuatan negara itu. Indonesia tak bisa mempertahankan anak bangsa terbaik bukan semata-mata karena tak mampu, namun ini adalah bagian dari dikte dunia internasional agar Indonesia tidak mandiri secara militer.

Meskipun pasukan perdamaian Garuda dari Indonesia amat disegani oleh dunia barat, namun bukan dari sisi kedaulatan negaranya. Tetap saja pada faktanya kekuasaan dan kedaulatan negara tercinta ini pada genggaman kaum kafir, yang dengan tega merampas seluruh kekayaan Indonesia hingga tak bersisa. Bank dunia terus menerus memaksa Indonesia masuk ke dalam jebakan utang sehingga tak ada kesempatan untuk mandiri. Inilah penjajahan gaya baru yang diterapkan di Indonesia yang lebih dikenal dengan Neo Imperialisme.

Di mata dunia, jelas kekuatan persenjataan dan pasukan Indonesia sangatlah terukur. Bandingkan ketika sistem Islam menjadi landasan suatu negara, peristiwa sejarah yang spektakuler yaitu penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih. Dimana ia adalah sebaik-baik panglima dan pasukannya sebaik-baik pasukan. Itu berarti persenjataan yang dimiliki Muhammad Al Fatih dan pasukan adalah persenjataan terbaik yang diproduksi sendiri dengan kecanggihan luar biasa.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al Anfal :60 yang artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya; sedangkan Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian dan kalian tidak akan dianiaya”.

Kiranya peristiwa itu mampu membuka mata kita semua, bahwa perkara persenjataan dan kemiliteran pun kita tak bisa lepas dari pengaturan agama. Sebab jika dibiarkan sekuler maka jatuhnya adalah kapitalisasi persenjataan dan justru menjadi titik lemah terhadap negara lain. Ketergantungan yang berakibat kita akan terus menerus berada di bawah ketiak penjajah. Wallahu A’ lam bish showab.

*)Penulis adalah Institut Literasi dan Peradaban

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed