Moderasi Beragama Justru Picu Aksi Terorisme

Staff accounting di Salah satu Perusahaan Swasta, Mutiara Putri Wardana (Ist)

Oleh: Mutiara Putri Wardana

Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Muhammad Abdullah Syukri mendorong tokoh-tokoh agama untuk memberi ajaran moderat kepada jamaahnya demi mencegah adanya aksi teror sebagaimana yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (29/3).

"Kami meminta kepada para tokoh agama untuk terus meningkatkan pola pengajaran agama secara baik dan menekankan pentingnya beragama secara moderat dan Rahmatan lil' alamin (membawa rahmat bagi seluruh umat, Red)," kata Abdullah Syukri sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta.

Dalam pesan tertulisnya itu, ketua PMII juga turut mengutuk serangan teror di Gereja Katedral Makassar dan mengatakan pihaknya akan melawan segala bentuk aksi teror yang mengatasnamakan agama.

"Kami mengutuk keras aksi biadab bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yang dilakukan oleh jaringan kelompok/organisasi tertentu," kata dia. (m.republika.co.id)

Hipotesis yang mengaitkan antara agama dengan aksi terorisme perlu dikritisi. Teroris tidak beragama, sebab tak ada agama yang mengajarkan penganutnya untuk melakukan aksi terorisme. Terlebih saat ini isu terorisme acap kali dihubungkan dengan agama Islam.

Aksi terorisme sepatutnya diusut sebagai bagian dari tindakan kriminalitas dan masyarakat tak perlu termakan hasutan untuk menganut paham Islam moderat.

Dengan adanya moderasi beragama sama artinya dengan berusaha memisahkan agama dari kehidupan. Menganggap agama Islam khususnya tak lebih dari sekedar agama ritual belaka.

Padahal Islam bukan sebuah agama yang hanya mengatur hubungan vertikal semata, yakni urusan manusia dengan Tuhan-nya saja (hablumminAllah). Tapi Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablummbinafsih) dan dengan manusia lainnya (hablumminannas). Islam mengatur urusan manusia dari bangun tidur hingga bangun negara.

Jadi, moderasi beragama adalah salah satu bentuk sekulerisasi. Allah tidak diberikan hak dalam mengatur urusan kehidupan manusia di dunia. Manusia dengan keangkuhannya menafikan Allah sebagai pengatur kehidupan dengan membuat aturan kehidupan berlandaskan akal yang terbatas, penuh dengan kecacatan di sana sini, dan lagi tidak membawa kepada kemaslahatan justru kesengsaraan seperti yang terjadi hari ini.

Arus moderasi yang digencarkan justru menumbuh suburkan virus Islamophobia di tengah masyarakat. Masyarakat semakin menjauhkan diri dari agamanya.

Narasi yang berisikan himbauan untuk tidak mengaitkan aksi terorisme tersebut dengan agama dan golongan umat beragama tertentu, tentunya kontradiktif dengan gencarnya hasutan moderasi.

Jika sadar dan paham tidak ada korelasi antara ajaran agama dengan aksi terorisme tersebut mengapa ajaran agamanya yang dimoderasi?

Justru seharusnya negara sebagai leader untuk menerapkan ajaran agama secara totalitas dalam berkehidupan agar tak ada lagi doktrin sesat yang melabeli diri dengan agama tertentu.

Moderasi berarti mengambil jalan tengah, sementara dalam ber-Islam tidak boleh setengah-setengah haruslah secara kaffah.

Yang seharusnya dijadikan concern utama saat ini adalah memberantas jaringan terorisme yang ada sampai ke akar-akarnya, bukan justru salah fokus ke upaya moderasi beragama yang ujung-ujungnya menjangkiti masyarakat dengan Islamophobia.

Akar dari aksi terorisme tak lain adalah dengan diterapkannya sistem sekuler saat ini. Tak ada satu pun negara di dunia yang menerapkan sistem Islam secara sempurna, sehingga tidak ada role model bagaimana Islam yang sebenarnya adalah Islam yang cinta damai, sangat menghargai nyawa manusia.

Seperti firman Allah dalam Qur'an Surah An-Nisa ayat 93 yang artinya, "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya".

Dan Qur'an Surah Al-Maidah ayat 32, "Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu. sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi".

Aksi terorisme yang sesungguhnya adalah seperti apa yang dialami oleh saudara muslim Rohingya, Uighur, Palestina dll. Namun, dunia bungkam ketika yang menjadi korban adalah muslim. Bahkan korban yang berjatuhan tak sedikit, nyawa melayang seperti tak ada harganya.

Pernahkah mereka yang mendzolimi muslim dibelahan bumi lain dicap sebagai teroris? Padahal terpampang nyata bagaimana biadab dan bengisnya perbuatan mereka.

Tapi jika pelakunya mengenakan atribut muslim maupun muslimah, langsunglah diberi label teroris dengan mudahnya. Lalu, dikaitkan dengan agama kembali.

Isu terorisme yang terus digoreng inilah yang berpotensi digunakan sebagai alat untuk memperkuat hegemoni kapitalisme -sekuler yang memimpin peradaban dunia saat ini. Dan tentunya sebagai langkah untuk membuat manusia takut terhadap Islam terutama kebangkitannya.

Dengan tidak adanya perisai umat Islam semenjak tahun 1924. Umat Islam bak kehilangan induknya, tidak ada lagi yang melindungi. Justru dijadikan bulan-bulanan para pembenci kebangkitan Islam salah satunya dengan isu terorisme yang nyata-nyata bukan ajaran Islam.

Sudah saatnya ummat Islam sadar dan bangkit kembali bersama-sama memperjuangkan penerapan sistem Islam secara kaffah agar Islam mampu kembali memimpin peradaban dunia dan menumbangkan peradaban kapitalisme-sekuler yang merupakan akar berbagai permasalahan yang terjadi hari ini termasuk aksi terorisme yang mengancam. Wallahu'alam

*) Penulis adalah Staff accounting di Salah satu perusahaan swasta

Baca Juga