Mewaspadai Gema Moderasi Beragama

Ilustrasi

Oleh: Nurul Rahmawati,S.Pd

Upaya untuk menyebarkan pemahaman moderasi beragama telah digencarkan serentak melalui Kegiatan Jalan Sehat Kerukunan dan Deklarasi Damai Umat Beragama diseluruh kantor wilayah Kemenag Provinsi di Indonesia.

Adapun tema Hari Amal Bakti ke 77 Kemenag yaitu ”Kerukunan Umat untuk Indonesia”. Termasuk Balikpapan juga mengadakan Jalan Sehat Toleransi, Penajam Paser Utara mengadakan Jalan Sehat Kerukunan Umat Beragama dan Deklarasi Umat Beragama dengan tema: Harmoni Merajut Kerukunan Umat untuk Indonesia Hebat, Bontang pun memberikan berbagai penghargaan pada upacara peringatan Hari Amal Bakti ke-77 tersebut. Upacara terasa unik karena peserta upacara yang hadir menggunakan pakaian adat nusantara, diikuti oleh jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Bontang, jajaran pegawai dan organisasi masyarakat.

Kegiatan Deklarasi Damai Umat beragama ini menyampaikan pesan tentang pentingnya moderasi beragama dalam rangka meningkatkan kerukunan umat beragama juga komitmen menghindari hoak dan tindakan Intoleransi.

Beberapa tahun terakhir, sosialisasi proyek moderasi beragama makin masif diaruskan. Tidak heran, moderasi agama merupakan program pemerintah yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Dalam hal ini, Kemenag ditetapkan sebagai leading sector implementasi penguatan moderasi beragama di Indonesia oleh Badan Perencanaan Nasional (Bappenas).

Kemenag menjabarkan bahwa moderasi beragama masuk dalam rancangan strategis (renstra) pembangunan bidang keagamaan lima tahun mendatang. Demi menunjukkan keseriusan Indonesia sebagai negara role model moderasi untuk dunia, pada 06/01/2021, Presiden Jokowi menandatangani Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE).

Menag Yaqut Cholil Qoumas menyatakan bahwa moderasi beragama bisa mewujudkan kerukunan karena moderasi beragama akan memoderasi cara umat memahami dan mengamalkan agama. Menurutnya, ada empat indikator seseorang dikatakan memiliki pemahaman keagamaan yang moderasi, yaitu (1) komitmen kebangsaan yang kuat, (2) toleransi beragama, (3) menghindari kekerasan, dan (4) penghargaan terhadap budaya lokal.

Dalam Simposium Moderasi Beragama, Menag Yaqut mengatakan, “Moderasi Beragama berakar pada budaya lokal. Jadi, penghormatan terhadap budaya lokal merupakan indikator dari konsep ini.” Konsep moderasi beragama dapat diterapkan dalam konteks semua bangsa sebab nilai-nilai moderasi bersifat universal. Penguatan komitmen persatuan bangsa dan penghormatan terhadap tradisi suatu bangsa juga merupakan keharusan untuk membangun kerukunan. Ke depan, kearifan lokal provinsi-provinsi lain di Indonesia juga bisa terus dielaborasi untuk memperkuat konsep moderasi beragama. (Kemenag[dot]go.id).

Tampak nyata bahwa ada perhatian lebih terhadap budaya dan kearifan lokal. Mereka menilai bahwa budayalah yang mampu mempersatukan keberagaman di negeri ini dan dapat menjaga terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Mereka berpandangan bahwa yang menjadi pemersatu adalah moderasi beragama atau Islam moderat.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang terbentang dari sabang hingga merauke dengan beragam suku bangsa, agama, budaya dan adat istiadat, wajar jika keberagaman ini menjadi keunikan tersendiri. Kita sepakat bahwa keberagaman merupakan hal yang alami dan memang harus dijaga dan dirawat bersama, hanya saja masalahnya adalah bagaimana cara merawat keberagaman dalam rida dan keberkahan Allah SWT?

Sesungguhnya, hubungan Islam dan budaya sangat jelas kaidahnya. Islam menjadi standar, sedangkan budaya adalah objek yang distandarkan. Jika budaya lokal itu sesuai dengan Islam, tidak dilarang mengambilnya. Misalnya, memakai “iket” sebagai penutup kepala khas laki-laki Sunda. Sebaliknya, jika budaya lokal itu tidak sesuai Islam, tidak boleh untuk diamalkan. Misalnya, mengenakan “kemben” bagi perempuan Jawa sebab Islam mengharamkan hal ini karena menampakkan aurat.

Nah, masalahnya, posisi budaya lokal ini (oleh Menag dan para pengusung moderasi Islam) justru menjadi standarnya. Sebaliknya, ajaran Islam menjadi objek yang distandarkan dengan alasan demi terwujudnya kerukunan. Walhasil, Islam pun harus ditundukkan dan dikalahkan di bawah budaya.

Inilah sesungguhnya kekeliruan nyata dan fatal sehingga tidak bisa untuk diterima. Seharusnya, ajaran Islamlah yang diposisikan sebagai furqan (pembeda antara hak dan batil) bagi budaya lokal. Akan tetapi, para penganut moderasi Islam malah membalik posisi budaya lokal yang akhirnya menjadi standar atau tolak ukur untuk menilai ajaran Islam. Jelas ini merupakan penyimpangan.

Inilah salah satu bahaya yang harus umat pahami, termasuk generasi muslim. Atas nama moderasi agama, keyakinan pada ajaran agama dan ketaatan pada syariat-Nya harus tunduk atas nama budaya. Umat dipaksa membiarkan sesuatu yang bertentangan dengan agamanya.

Telah nyata bahwa para pengusung moderasi menghendaki budaya dan kearifan lokal menjadi alat untuk menguatkan arus opini moderasi beragama. Mereka menyatakan bahwa untuk menyatukan keberagaman di negeri ini (termasuk agama dan suku bangsa) adalah dengan sikap inklusif atau terbuka. Ini berarti terbuka terhadap agama lain dan menganggap semua agama adalah sama dan benar, padahal ini jelas-jelas bertentangan dengan Islam.

Tampak nyata pula mereka hendak menggiring umat Islam, termasuk generasi mudanya, untuk semakin jauh dari pemahaman Islam yang lurus. Padahal, dalam pandangan Islam, keberagaman budaya dan suku bangsa tidak pernah menjadi masalah.

Proyek moderasi beragama ini bertujuan untuk menancapkan paham tertentu yang disebut Islam moderat dan menjadikan kaum muslim menjadi muslim moderat. Islam moderat adalah pemahaman Islam yang disesuaikan dengan pemikiran, pemahaman, dan peradaban Barat. Dengan demikian, muslim moderat adalah sosok muslim yang menerima, mengadopsi, menyebarkan dan menjalankan pemahaman Islam ala Barat. Sehingga menjadikan umat Islam tetap sebagai muslim, tetapi cara berpikir dan perilakunya sudah keluar dari pemikiran Islam.

Hakikat moderasi beragama sejatinya sama dengan “Islam moderat”, yaitu sekularisasi Islam. Ini karena proyek moderasi beragama bertujuan melahirkan muslim yang moderat, bukan muslim yang taat kafah. Perlu diketahui pula, istilah “Islam moderat” ini tidak lain dimunculkan oleh para pemikir dan politisi Barat untuk kepentingan mereka.

Proyek moderasi beragama dinarasikan dengan sangat “epik” sebagai jalan tengah yang menyatukan dan membersamakan semua elemen dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa Indonesia. Narasi ini memang sangat indah didengar dan secara teoritis begitu elegan, yaitu dalam beragama kita tidak boleh terlalu ekstrem, baik ke kiri ataupun kanan. Apalagi dalam konteks keindonesiaan yang multikultural dan plural, menurut mereka, moderasi menjadi sebuah keniscayaan. Bahkan, moderasi beragama dianggap sebagai kunci sukses pembangunan negara.

Ibarat dagangan, moderasi beragama ini dibungkus dengan sangat cantik, dinarasikan dengan sangat indah. Walhasil, banyak orang yang terpincut dengan ide ini dan mereka patuh dengan setiap arahan Barat, termasuk Indonesia. Padahal, hakikat proyek ini adalah agar kaum muslim, termasuk pemuda, menjadikan standar pemikiran Barat untuk mendefinisikan syariat agamanya, dengan kata lain menyekularisasi Islam.

Dari fakta di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa program moderasi beragama sejatinya adalah agenda Barat untuk membendung kebangkitan Islam. Terlebih bagi pemuda, sebab pemuda berpotensi luar biasa yang mampu menggetarkan dunia apabila kembali pada agamanya. Oleh sebab itu, Barat memiliki kepentingan yang sangat besar untuk mengurung potensi pemuda muslim.

Inilah upaya Barat dalam meredam kebangkitan Islam. Musuh Islam benar-benar paham, tatkala para pemuda kembali pada agamanya, hal demikian merupakan kekuatan besar yang dapat menghancurkan peradaban Barat.

Dengan demikian, kita harus menyelamatkan generasi dari moderasi beragama. Pemuda harus disadarkan akan bahaya moderasi Islam serta mendapat gambaran jelas mengenai Islam secara utuh, yakni Islam kafah. Tidak lain agar mereka tidak terjebak dengan upaya Barat merusak generasi.

Hari ini, generasi muda terus didorong untuk menjadi agen utama penguatan moderasi beragama. Pemuda senantiasa didorong untuk terlibat aktif dalam pengarusutamaan nilai moderasi agama. Berbagai karya berbasis kearifan budaya mendapat dukungan penuh dari pemerintah, semisal Fashion Show Kebaya Nasional Lintas Agama, fenomena Citayam Fashion Week maupun Farel si penyanyi dangdut istana yang diangkat menjadi duta kekayaan intelektual.

Saat ini moderasi agama membajak peran pemuda Islam dan merusak identitasnya. Mereka dibentuk menjadi duta pemikiran sekuler Barat dan menghilangkan girahnya untuk memperjuangkan agamanya. Padahal, pemuda adalah poros bagi perputaran dunia.

Lantas, ridhakah potensi pemuda yang kita miliki dibajak oleh Barat untuk kepentingan mereka? Sungguh, kewajiban kaum muslim, terutama generasi muda, adalah menolak tegas proyek moderasi agama, bukan justru turut ikut menyukseskannya.

Oleh sebab itu, umat Islam harus bersatu dan mengalahkan musuhnya. Para pemuda muslim sebagai martir perubahan harus meyakini bahwa kemuliaan itu hanya dengan Islam kafah yang diturunkan Allah Taala melalui baginda Rasulullah saw., bukan yang didefinisikan Barat atau yang disesuaikan dengan kearifan budaya lokal produk akal manusia.

Untuk menghadang moderasi beragama, setiap muslim harus memperkuat syakhsiyyah (kepribadian) Islamnya. “Cara berpikir dan berperilaku setiap muslim mesti berdasar ajaran Islam. Caranya, dengan sungguh-sungguh mengkaji Islam secara berjamaah dan mengencarkan gerakan amar makruf nahi mungkar.

Pemuda muslim harus memahami Islam kafah dan menjadikannya sebagai mainstream pergerakannya. Dengan pemahaman Islam kafah, para pemuda akan mampu membongkar berbagai narasi sesat moderasi beragama. Para pemuda wajib berpegang teguh pada syariat, mendakwahkannya dalam upaya menegakkan Kembali Islam Kaffah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Wallahualam..

*) Penulis adalah Pegiat Literasi Sekolah

Baca Juga