Mewaspadai Bahaya Investasi Asing/Swasta di IKN Baru

Pemerhati masalah Umat, Siti Nur Ainun Ajijah (Ist)

Oleh: Siti Nur Ainun Ajijah

Pembangunan IKN Kembali menjadi sorotan masyarakat pasalnya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menetapkan titik nol pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) dan lokasi Istana Negara.

Daerah yang dipilih oleh Bappenas adalah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Mulai dari penetapan titik nol, titik istana Ibu Kota Negara baru di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, hingga persiapan pemindahan IKN telah tercakup dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, meliputi pembangunan fasilitas penyelenggaraan pemerintahan di IKN yang baru serta aktivitas pembangkit kegiatan ekonomi bagi IKN dan sekitarnya.  (economy.okezone.com)

Hal ini juga diperkuat oleh apa yang disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebut pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) baru ke Kalimantan Timur sebagai salah satu strategi pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi COVID-19. Suharso mengatakan target pembangunan ibu kota baru hingga 2024 mencakup pembangunan Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dengan sarana dan prasarana pendukungnya. Hal itu disampaikannya saat melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan istana negara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

"Berada di lokasi titik nol ini, bersama-sama semua generasi, dari generasi tua, generasi muda, saya berharap hal ini dapat menjadi simbol bahwa Kementerian PPN/Bappenas tetaplah sebagai lembaga perencana pembangunan nasional yang memiliki akar kuat dan ibaratkan sebuah fondasi yang menghujam ke bumi, ke IKN Baru ini," kata Suharso dalam keterangan tertulis, Senin (12/4/2021). (finance.detik.com)

Bahaya Investasi Asing
Pembangunan IKN yang kemarin sempat tak terdengar kabarnya karena pandemi Covid-19 kembali menguak fakta baru dengan ditetapkanya titik nol di IKN baru oleh badan pemerintahan. Jelas hal ini membawa angin segar bagi para investor terlebih asing dalam pembangunan IKN baru di Penajam Pasir Utara.

Seperti diketahui banyak negara yang kesengsem berinvestasi di IKN baru mulai dari Jepang, Abu Dhabi, China hingga Jerman. Bahkan pemerintah dengan sengaja mengundang para investor diseluruh dunia untuk berinvestasi di IKN baru. Dengan tujuan ingin mengajak dunia internasional untuk menjadikan IKN sebagai satu showcase, contoh dunia sustainability city (kota yang dalam perkembangan dan pembangunannya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini, mampu berkompetisi dalam ekonomi global dengan mempertahankan keserasian lingkungan, vitalitas sosial).

Sejatinya dengan begitu sebenarnya semakin membuka keran Asing untuk dengan mudah menguasai negeri ini baik SDA (Sumber Daya Alam) dan kekayaan alam lainya. Terlebih kebanyakan dari masyarakat belum memahami betul akan bahaya investasi asing dibalik pembangunan IKN ini. Indonesia yang kaya akan SDA mulai dari tanahnya yang subur, kaya akan minyak bumi, batu bara, gas dll, tentu menjadi makanan yang lezat bagi para kapitalis swasta dan asing. Negeri kaya ini menjadi incaran  banyak negara yang ingin berinvestasi di negeri ini. Begitu juga dalam pembangunan IKN baru. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi kedaulatan negeri ini melihat kondisi saat ini saja yang masalah sudah dimana-mana baik masyarakat, ekonomi, sosial dan lainnya.

Sungguh dengan begitu juga semakin memperlihatkan ketidakmandirian negara ini dalam menangani berbagai persoalan termasuk pemindahan ibukota. Dengan peluang investasi asing maka jelas meneguhkan posisi negara ini yang amat bergantung pada asing dan aseng. Di tambah sistem kapitalisme yang diterapkan membuat ketergantungan negara pada negara kafir penjajah di berbagai aspek kehidupan.

Pemindahan dan Pembangunan IKN Menurut Islam

Islam agama sekaligus ideologi (pandangan hidup) sempurna yang bisa dilihat dari aturan atau syariat Islam yang  lengkap baik masalah aqidah, ibadah, pakaian, makanan, minuman, begitu juga investasi dalam Islam Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (Al-Maa-idah: 3)

Begitu juga dalam Islam bukan tidak boleh membangun IKN atau pindah ibu kota negara, bahkan dalam sejarah Islam pernah terjadi pemindahan ibu kota dengan penuh kemandirian tanpa bantuan negara lain. Ketika ibu kota berada di Baghdad, kota tersebut dibangun besar-besaran dan dijadikan pusat pemerintahan oleh Khalifah Abbasiyyah ke-8 Al-Mu’tashim, kemudian pindahnya ibu kota khilafah dari Baghdad ke turki yang dilakukan tanpa hutang. Pemindahan ibu kota ini orientasinya hanya untuk pengaturan urusan umat yang lebih baik, maka dalam hal ini harus benar-benar difikirkan urgensitasnya. dikarenkan akan ada banyak investor-investor asing yang menanamkan modalnya dalam pembangunan IKN baru. Ini merupakan jalan penjajahan gaya baru, Abdurrahman al-Maliki mengatakan, sesungguhnya pendanaan proyek-proyek dengan mengundang investasi asing adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam.

Investasi Asing semakin membuat umat menderita akibat efek bencana yang ditimbulkan, yang juga jalan untuk menjajah suatu negara.
Padahal Allah SWT telah berfirman :

وَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا

“Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman.” (TQS. An-Nisa: 141)

Sungguh hanya dengan penerapan syariat Islam, umat akan sejahtera, tentram dan nyaman. Karenanya sebagai seorang muslim mestinya bersikap tolak investasi asing. Investasi asing ini nyata bahayanya baik bagi umat terlebih negara ini. Saatnya kembali kepada Islam dalam bingkai negara, untuk hidup yang berkah dunia dan akhirat. Wallahu a’lambishawab.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga