oleh

Merebut Tafsir Pancasila

Oleh: Nurbani Yusuf

Para pemburu tahta di setiap zaman bergantian mengulangnya kembali, seolah sejarah bangsa lewat begitu saja tanpa sukma.

Siapa berhak menafsir Pancasila ketika umat Islam justru mengambil posisi head to head maka bisa jadi Pancasila diambil ‘orang lain’.

Politik Kekuasaan tak mengenal jasa membangun imperium bukan soal tanam saham di perusahaan. Politik Kekuasaan tak bertanya berapa tetes darah telah dikorbankan atau berapa jengkal tanah telah diwakafkan

Para pejuang kerap tak mendapat apa-apa sebab tak cakap saat mengisi kemerdekaan. Revolusi memakan anak sendiri. Semaun–Darsono–Muso–Aidit–Kartosuwiryo–Buya HAMKA–hingga Pram. Dan entah siapa menyusul. Mereka adalah kurban revolusi tepatnya dikurbankan agar revolusi tetap berada di jalan yang benar.

Bersama Menjaga kesatuan, sebaiknya semua menahan diri tidak berkata-kata kecuali yang baik-baik kita butuh ulama negarawan yang mendamaikan, menentramkan dan menyatukan.

Kenapa Ki Bagoes Hadikoesomo dan Kyai Wahid Hasyim bersetuju atas usulan Bung Karno untuk menghapus tujuh kata pada sila pertama? Pengurbanan terbesar merelakan tujuh kata agar kesatuan tetap terjaga, agar saudara-saudara selain yang beragama Islam bisa dengan nyaman mengucapkan sila-sila Pancasila pada saat upacara.

Kita bersaudara meski berbeda agama, warna kulit, rambut, bahasa, adat, bahkan makanan. Setiap agama juga punya perbedaan yang sama dalam berpolitik: ada yang ingin khilafah, ada yang ingin kerajaan, dan ada yang ingin Republik, semua punya alasan dan hujjah masing-masing. Semua perbedaan bisa disatukan oleh perjanjian luhur: Pancasila.

Dalam situasi begini tak elok saling mengunggulkan ras Arab tak lebih unggul dari ras China atau sebaliknya ras Jawa tidak merasa paling dominan dan paling berhak. Apalagi dibarengi dengan menghitung jasa. Bahwa ras China lebih berjasa dalam perjuangan dibanding ras Arab karena telah begitu dan begini atau sebaliknya.

Jika terus dilakukan, bukannya penghargaan dan penghormatan yang di dapat sebaliknya justru akan memecah belah, karena saling merasa paling penting, dan paling berjasa. Ini negeri boeat semoea.

Politik kekuasaan sering melahirkan tragedi kelam. Bahkan Soekarno sang Proklamator itupun harus bernasib serupa di ujung hayat. Ia hidup terisolasi di Wisma Yaso untuk mengakhiri kisah heroik perjuangannya yang panjang, di negeri yang ia dirikan.

Lagi-lagi politik yang mengabdi pada hasrat kekuasaan memakan anak kandungnya sendiri tanpa rasa iba. Hidup dipergilirkan Tuhan bak roda pedati (QS Ali Imran: 140-141), di tengah banyak anak negeri tak pandai mengambil hikmah. Para pemburu tahta di setiap zaman bergantian mengulangnya kembali, seolah sejarah bangsa lewat begitu saja tanpa sukma.

Penulis adalah Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed