Menyelesaikan Kasus Kekerasan Dalam Pacaran

Ilustrasi

Oleh: Sri Hartini, S.Pd., M.Pd.

Kasus kekerasan hari ini makin marak terjadi. Meski korban kekerasan bisa menimpa pada siapa saja baik laki-laki maupun perempuan.

Tetapi fakta yang sering ditonjolkan bahwa sebagian besar korban kekerasan terutama di lingkungan domestik merupakan perempuan.
Kekerasan domestik umumnya dapat digolongkan menjadi kekerasan terhadap istri (KTI), kekerasan terhadap anak perempuan (KTAP), kekerasan mantan suami (KMS), kekerasan dalam pacaran (KDP), kekerasan mantan pacar (KMP), maupun kekerasan yang terjadi pada pekerja rumah tangga.

Wakil Ketua I DPRD Berau Syarifatul Syadiah, turut berpendapat mengenai fenomena banyaknya korban kekerasan hingga pelecehan seksual yang melibatkan anak di bawah umur, terutama kekerasan seksual bagi anak perempuan yang menjalin kasmaran. “Kekerasan dalam pacaran seperti fenomena gunung es. Korban malu untuk bercerita, akhirnya hanya bisa memendam sendiri dan bisa berpengaruh pada psikologis korban juga,” terangnya.

“Makanya peran orangtua sangat dibutuhkan, bagaimana mengawasi perkembangan anak. Apalagi saat ini, budaya barat sudah terlalu jauh masuk Indonesia, termasuk Berau. Batasan-batasan pacaran sudah jarang terlihat. Warga dan RT juga harus berperan aktif, begitu juga aparat penegak perda. Peran aparat, agar menertibkan muda-mudi yang masih nongkrong di luar rumah hingga larut malam. Peran ketua RT agar melakukan pengawasan di lingkungannya.,” sambungnya. (Berau.procal.co)

Akar Masalah Kekerasan dalam Pacaran

Kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) makin mencuat ke permukaan hari ini, bahkan ada kasus kekerasan mantan pacar (KMP). Pacaran anak muda yang makin bebas tanpa batas (liberal) ditengarai sebagai salah satu penyebab terjadinya KDP dan KMP ini.

Secara mendasar, KDP dan KMP adalah anak masalah yang muncul akibat masalah pacaran. Tidak akan terjadi KDP dan KMP bila tak ada pacaran. Kata kunci mencegah terjadinya KDP dan KMP adalah meniadakan pacaran dalam pergaulan remaja. Pacaran sehat yang diedukasikan pada remaja, jelas bukan solusi, malah menjerumuskan remaja dalam kemaksiatan pergaulan bebas alias pacaran.

Pacaran adalah bagian dari budaya liberal sekuler yang diadopsi dalam pergaulan anak muda hari ini. Budaya liberal sekuler ini diaruskan oleh barat dan menyebar di seluruh dunia hingga ke negeri-negeri kaum muslim.

Pacaran dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan naluri manusia dan ajang pengenalan calon pasangan sebelum ke jenjang pernikahan. Oleh masyarakat yang hidup dalam tatanan kehidupan sekuler liberal, pacaran dipandang boleh dan menjadi kelumrahan. Ketika masuk di negeri ini, sekuler liberal disesuaikan dengan kehidupan masyarakat timur, bahwa pacaran boleh yang penting tau batas dan jangan bablas.

Padahal dengan bolehnya pacaran ini, godaan syaitan makin besar. Pintu maksiat makin terbuka lebar. Akhirnya terjadi berbagai perbuatan-perbuatan mendekati zina, seperti berduaan tanpa mahrom, berpegangan tangan, pelukan, ciuman. Puncak pacaran ini hingga melakukan zina (hubungan seksual diluar nikah). Masalah lain pun bermunculan pula dalam hubungan pacaran ini, terjadi cekcok, malas belajar, kehamilan tak diinginkan (KTD) hingga kekerasan dalam pacaran dan kekerasan mantan pacar.

Akhirnya disolusikan oleh sistem sekuler liberalisme hari ini dengan Program Genre (Generasi Berencana) dengan edukasi kesehatan reproduksi remaja (KRR) dan pendidikan seks agar remaja bisa bebas narkoba, HIV-Aids, KTD, menghindari pernikahan dini. Bahkan ada edukasi tentang pacaran, bahwa ada pacaran sehat dan pacaran toksik. Pesan liberal yang tersembunyi adalah boleh bebas bergaul (hingga seks bebas) asal sehat.

Hancurlah remaja hari ini disebabkan paham sekuler liberal yang telah merasuk ke pemikiran, sikap dan tingkah mereka. Remaja gaul bebas tanpa batas. Bahkan didukung oleh sistem kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang mengabaikan agama (Islam) dalam mengatur kehidupan. Inilah yang harus direnungkan secara mendalam dengan pemikiran jernih agar bisa tuntas menyelesaikan masalah hingga ke akarnya bukan di permukaan saja.

Islam Solusi Sahihnya

Islam menolak paham sekuler liberal karena paham ini meniadakan Allah SWT sebagai al-khalik al-mudabbir (Maha Pencipta dan Maha Pembuat Aturan). Islam memerintahkan agar manusia beriman dengan melalui proses berpikirnya bahwa Allah lah yang telah menciptakan manusia, alam dan kehidupan ini sekaligus yang paling berhak membuat aturan bagi manusia, alam dan kehidupan.

Karenanya Islam tak mengenal pergaulan bebas dengan pacaran yang membuka pintu zina (seks di luar nikah), masuk ke jurang zina, KDP hingga KMP. Semua perbuatan liberal tersebut diharamkan oleh Islam. Inilah ketetapan syariat Allah SWT. Bagi pelakunya, dianggap sebagai pelaku kemaksiatan yang akan diberi sanksi syariat yang tegas oleh negara.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS Al Isra’: 32)

Allah SWT pun berfirman: "Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman." (QS An Nur: 2)

Hubungan seksual laki-laki dan perempuan yang dibolehkan dalam Islam adalah melalui hubungan pernikahan. Disitulah laki-laki dan perempuan memenuhi kebutuhan nalurinya untuk melestarikan jenis manusia di muka bumi ini. Dengan pernikahan nasab menjadi jelas, peran pasutri pun telah diatur sesuai aturan Allah SWT. Keluarga sakinah mawaddah wa rohmah dengan keturunan yang dinanti pun akan terwujud.

Adapun tindak kekerasan pada dasarnya adalah jarimah (kriminalitas) yang merupakan perbuatan melanggar syariat Islam. Jarimah ini juga akan dihukumi sesuai hukum syariat. Peradilan Islam akan memberikan hukuman tegas. Dalam sistem pendidikan, Islam menguatkan generasi dengan pendidikan berbasis aqidah Islamiyyah. Tujuan pendidikan adalah mencetak generasi shalih dan bertakwa, berkepribadian Islam, faqih fiddin, maju saintek dan menjadi pemimpin umat masa depan.

Generasi shalih ini takut pada Allah dan senantiasa taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka terjaga dari berbagai kemaksiatan dan paham-paham yang menyimpang dari Islam. Termasuk, terhindar pula dari gaul bebas (pacaran), melakukan kekerasan, dan lainnya.

Masyarakat dalam sistem kehidupan masyarakat Islam adalah orang-orang yang peduli terhadap sekitar, peduli keselamatan generasi. Dalam kehidupa sosial, masyarakat senantiasa berammar ma’ruf nahyi munkar dan muhasabah kepada penguasa bila ada aturan yang menyimpang dari syariat.

Negara Islam (disebut Khilafah Islamiyyah) pun berperan besar menerapkan seluruh hukum syariat dalam kehidupan bermasyarakat bernegara hingga hubungan politik dan ekonomi dengan masyarakat dan bangsa-bangsa di luar Islam. Kehidupan yang sejahtera dan barokah dunia akhirat pun akan terwujud. In syaa Allah.

Demikianlah, menuntaskan problem kekerasan dalam pacaran dan kekerasan mantan pacar hanya bisa dilakukan dengan memahaminya dari akar masalahnya, lalu mencari solusi hanya dari Islam saja. Akar masalahnya adalah sistem sekuler liberal yang membolehkan pacaran (yang Islam haramkan) hingga terjadi kemaksiatan-kemaksiatan termasuk KDP dan KMP. Solusinya adalah menolak sistem sekuler liberal, menerapkan Islam kaffah hingga melarang tegas pacaran dan menindak pelaku kekerasan. Wallahu a’lam bis shawwab.[]

*) Penulis adalah IRT dan Pendidik Generasi

Baca Juga