Menolak Perempuan Berdaya Ala Gender

Novianti Noor (Pemerhati Masalah Umat)

Oleh: Novianti Noor

Tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai Hari Ibu setiap tahunnya. Pada Peringatan Hari Ibu ke-93 di tahun ini 2021 ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengusung tema “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju”.

Pesan yang ingin disampaikan melalui tema ini adalah merayakan kemajuan dan keberhasilan yang telah dicapai oleh para perempuan di Indonesia. Momen ini juga menjadi refleksi bahwasanya pekerjaan yang harus dilakukan agar perempuan-perempuan Indonesia bisa terus berperan sejajar dengan laki-laki dalam mengisi lini kehidupan. (itsmp.kemdikbud.go.id)

Peringatan Hari Ibu juga bertujuan mendorong semua pemangku kepentingan dan masyarakat luas untuk memberikan perhatian dan pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan. Namun apakah dengan jargon menjadikan berdaya akan mampu memberikan kesejahteraan kepada perempuan dan mampu meningkatkan taraf hidup perempuan?

Harapannya adalah perempuan dapat berkontribusi penuh dalam konstruksi sosial di tengah masyarakat sehingga kemajuan akan dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Faktanya, tidak sesuai harapan meskipun perempuan terlibat dalam kegiatan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) atau upaya peningkatan ekonomi lainnya. Justru di tengah pandemi covid-19 jumlah penduduk miskin semakin bertambah.

Alih-alih mendapatkan kesejahteraan atau meningkatkan taraf hidup masyarakat, perempuan justru lagi-lagi menjadi korban. Perempuan terus-menerus dieksploitasi layaknya barang. Kesetaraan yang digadang-gadang membawa kesejahteraan bagi perempuan ternyata tak sesuai harapan, karena pada faktanya menambah miris nasib perempuan.

Makna perempuan berdaya dalam perspektif gender dalam sistem sekuler kapitalisme saat ini justru membawa banyak duka bagi perempuan. Tingginya angka perceraian akibat kesenjangan ekonomi, anak-anak yang terjerumus kepada pergaulan bebas dan narkoba akibat hilang kasih sayang dari keluarga, belum lagi maraknya kerusakan moral di tengah masyarakat akibat gaya hidup sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan yang hanya berorientasi kepada materi semata.

Nasib Perempuan Diperdaya Sistem Kapitalisme

Ketidaksejahteraan di Indonesia saat ini bukan karena perempuan tidak berdaya, namun karena penerapan sistem kapitalisme sekuler lah yang menjadi sebab kesengsaraan kaum perempuan. Sistem sekuler kapitalisme memandang perempuan sebagai objek eksploitasi untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya dengan memperangkap perempuan dengan liberalisme, HAM dan kesetaraan gender.

Perempuan dibiarkan sendiri menanggung permasalahan ekonomi. Minimnya negara mengambil peran dalam kepengurusan umat makin menjadikan kaum perempuan tetap dalam ketidakberdayaan. Kapitalisme menjadikan perempuan sebagai objek baru yang bisa dimanfaatkan.

Perempuan dijadikan sebagai lumbung komersial, target baru produk kapitalis yang sangat menjanjikan. Perempuan dimanfaatkan untuk memasarkan untuk memasarkan produk milik kapitalis. Hal ini terjadi tidak hanya dalam bidang ekonomi, budaya, agama, dan politik, namun juga pendidikan. Baliho, pamflet, brosur, dan media promosi lainnya, telah memanfaatkan kecantikan perempuan sebagai capture paling depan lengkap dengan caption seksi untuk menarik konsumen.

Tidak jauh berbeda dengan perjuangan kaum feminis hari ini, mereka mendorong perempuan meraih kebebasan berkarier demi meraup pundi-pundi rupiah dan meninggalkan amanahnya di dalam rumah. Jubah moderasi juga telah menggerus nilai-nilai agama terkait peran utama perempuan. Jelas terlihat bahwa mereka berusaha menjauhkan perempuan dari kodrat sebagai perempuan, menjauhkan muslimah dari Islam dengan dalih kesetaraan gender, kebebasan, dan keadilan. Semua ini tak lepas dari masifnya pengaruh materialisme yang mengukur segala keberhasilan dalam bentuk materi. Jika sudah berhasil, tidak susah untuk berkuasa. Pada akhirnya yang paling banyak membawa materi ke dalam keluargalah yang berkuasa. Mengganggap istri berhak mengatur suami ketika manakala penghasilannya lebih tinggi daripada suami.

Tidak heran jika perempuan tidak mempunyai power ketika di dalam keluarga tidak menghasilkan materi. Menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dipandang sebelah mata. Inilah racun yang diberikan kepada kaum muslimah saat ini. Apalagi jika perempuan bergelar akademis, maka kaum feminis menganggapnya sebagai kesia-siaan. Mereka anggap perempuan dengan tugas reproduksi dengan domestiknya seolah-olah tidak berkontribusi apa-apa dalam pembangunan.

Peran Perempuan dalam Pandangan Islam

Dari sisi penciptaan, Allah SWT menempatkan makhluk perempuan dan laki-laki adalah al-insan yang punya kewajiban untuk meyembah dan taat kepada-Nya (Lihat QS adz-dzariyat: 56). Seperti Allah SWT telah memerintahkan laki-laki untuk melaksanakan sholat fardu lima waktu, berpuasa, berzakat, menunaikan ibadah haji, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya, maka Allah pun telah meyebutkan hal yang sama bagi perempuan.

Adapun dalam kehidupan sosial, Islam memandang bahwa perempuan bukanlah golongan masyarakat kelas dua yang bisa ditindas oleh laki-laki.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya perempuan itu adalah saudaranya laki-laki.” (HR. Ahmad)

Perempuan pun dalam pandangan hukum syara’ adalah orang yang patut dilindungi. Negara akan memberikan penjagaan terbaik bagi perempuan demi menjaga harga dirinya.

Dalam keluarga, tugas utama perempuan adalah ummu wa rabbatul bait atau ibu dan pengatur rumah tangga. Sehingga dengan tugasnya itu, ia tidak dibebani untuk bekerja bagi dirinya sendiri atau mencari nafkah bagi keluarga. Dalam Islam, yang bertugas untuk mencari nafkah adalah suami atau walinya. Sehingga, anaknya tidak terlantar dan kurang kasih sayang yang berpengaruh pada tumbuh kembangnya.

Perempuan juga merupakan kehormatan yang wajib dijaga. Dalam sektor domestik, perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Adapun dalam sektor publik, perempuan tidak boleh menjadi mesin penghasil uang atau komoditas ekonomi atas nama pemberdayaan. Ini karena Islam memuliakan perempuan dan menjaganya dari segala sesuatu yang buruk dengan menetapkan rambu-rambu bagi kehidupan khusus dan kehidupan umumnya.

Begitupun ketika perempuan ingin mengaplikasikan ilmunya, maka hukumnya mubah atau boleh. Dengan catatan tidak melupakan tugas utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Dalam Islam, perempuan wajib menyuarakan opini politiknya. Ia boleh memberi pilihan suara dalam pemilihan Khalifah. Serta menduduki posisi tertentu dalam pemerintahan seperti anggota majelis umat, maupun qadhi hisbah atau hakim pasar.

Demikianlah Islam menjadikan perempuan berdaya sesuai dengan fitrahnya. Bukan dengan sudut pandang kapitalisme. Semua berdasarkan seruan Sang Pembuat Hukum yakni Allah SWT. Dengan demikian, para ibu seyogyanya merenungi ulang perannya dalam ranah domestik dan publik sesuai tuntunan syariat, bukan pada aturan barat. Wallahu a’lamu bish showab.

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat