Mengapa Menolak Moderasi Islam?

Pemerhati Masalah Umat, Novianti Noor (Ist)

Oleh: Novianti Noor

Kamis (27/05), Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur menggelar kegiatan Ngopi Morning, Ngopi Toleransi dengan tema “Umat Beragama Kaltim Siap Sambut Ibu Kota Negara (IKN)”.

Acara ini diselenggarakan di Ballroom Hotel Bumi Senyiur Samarinda dan dibuka oleh Wakil Gubernur Kalimantan Timur H. Hadi Mulyadi yang didampingi Kepala Kantor Wilayah kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur H. Masrawan. Hadir pula Kesbangpol Provinsi Kalimantan Timur, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalimantan Timur, Pimpinan Lembaga Tinggi Keagamaan Kalimantan Timur, para pejabat di lingkungan Kemenag Kalimantan Timur serta tamu undangan lainnya sebanyak 90 orang.

Wagub mengapresiasi baik adanya kegiatan ini. “Sebagai wujud kita bersama untuk membangun toleransi umat beragama yang makin kuat dan bersatu, khususnya di Bumi Etam ini,” sebutnya.

Ia menambahkan, pentingnya pembangunan kualitas kehidupan beragama untuk menjaga perdamaian dan keamanan. (kaltim.kemenag.go.id)

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kesekian kalinya yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama yang bertujuan untuk memperkuat toleransi antar umat beragama. Moderasi beragama yang merupakan misi Kemenag ini disosialisasikan dan diaplikasikan di lingkungan Kemenag dan masyarakat secara luas.

Sejalan dengan hal ini, Kalimantan timur yang tenang dari kerusuhan khususnya berkaitan dengan SARA sangat mendukung dalam pemindahan Ibu Kota Negara baru. Kalimantan Timur yang rukun dan kondusif sangat diperlukan guna mendukung pelaksanaan kebijakan program Presiden RI dalam proses pemindahan Ibu Kota Negara.

Berbagai agenda yang mendukung arus moderasi makin gencar dilakukan guna untuk menangkal radikalisme dan ekstrimisme untuk menunjang proses pemindahan IKN. Begitu istimewanya proyek moderasi beragama, khususnya moderasi Islam bagi pemerintahan sekarang. Proyek ini terus digadang-gadang bisa menjadi solusi problem utama bangsa. Bahkan dipandang amat penting bagi kemajuan Islam dan juga dunia secara keseluruhan.

Masalahnya, apa yang dibaca sebagai problem utama bangsa tak lain adalah sikap intoleransi dan radikalisme beragama yang terus menerus ditudingkan kepada Islam. Kedua sikap ini dianggap sebagai akar perpecahan bangsa, sekaligus memicu munculnya aksi-aksi teror atas nama Islam yang mencederai ketenteraman dan persatuan.

Pertanyaannya, benarkah intoleransi dan radikalisme adalah problem utama bangsa hingga pembangunan harus fokus pada moderasi beragama? Jika pun kasus-kasus intoleransi, radikalisme, dan teror memang ada, haruskah Islam kaffah yang dipersalahkan hingga harus menjadi korban proyek moderasi beragama?

Dengan berpikir jujur dan objektif, maka akan tampak bahwa problem utama bangsa ini sejatinya bukan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sebagaimana yang ditudingkan. Selain kasuistik, fakta-fakta itu nyatanya hanyalah satu cabang dari masalah besar berupa penerapan sistem sekuler kapitalisme yang neoliberal.

Sistem ini jelas-jelas telah memproduksi berbagai keburukan di berbagai aspek kehidupan. Termasuk munculnya ketidakadilan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik, dan krisis hukum yang memperlemah posisi kekuasaan. Dampak lanjutannya, kondisi inilah yang memberi ruang lebar bagi munculnya aksi-aksi melawan kemapanan dan pemikiran anti kekuasaan.

Islam moderat merupakan istilah baru. Istilah ini tidak pernah dikenal dalam khazanah keilmuan Islam klasik (baik dalam terminologi pemikiran maupun fikih Islam) ataupun dalam konteks siyasah Islam. Para pemikir Islam maupun para ulama fikih selama berabad-abad tidak pernah memunculkan kedua istilah ini.

Kata “moderat” atau jalan tengah mulai dikenal luas pada masa abad pencerahan di Eropa. Sebagaimana diketahui, konflik antara pihak pemuka gereja (yang menginginkan dominasi agama dalam kehidupan rakyat) dan kaum revolusioner (yang berasal dari kelompok filosof yang menginginkan penghapusan peran agama dalam kehidupan), menghasilkan sikap kompromi. Sikap ini kemudian dikenal dengan istilah sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan publik.

Realitas yang tidak bisa dimungkiri, kecenderungan kaum muslimin untuk kembali dalam kehidupan Islam setelah sekian lama hidup menderita dan penuh konflik akibat cengkeraman ideologi sekularisme kapitalisme makin menggelora. Inilah yang membuat kafir Barat khawatir, sebab mereka mengetahui bahwa ketika kaum muslimin kembali kepada Islam dan berpegang teguh dengannya, niscaya Barat akan kehilangan pengaruh dan dominasinya atas dunia ini.

Ide Islam moderat pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat yang diberi warna baru. Ide ini menyerukan untuk membangun Islam inklusif yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain dan budaya.

Tujuannya tidak lain adalah meragu-ragukan dan menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam, agar nilai-nilai dan praktik Islam, khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan hukum Islam lainnya, dapat dieliminasi dari kaum muslim dan diganti dengan pemikiran dan budaya Barat.

Karena itu, umat Islam wajib menyadari bahwa pemilahan atau pengkotak-kotakkan Islam menjadi moderat, fundamentalis/radikal, tradisional, dan sebagainya adalah demi kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam dan menekan kelompok Islam yang lain. Ide Islam moderat ini telah berhasil memolarisasi umat Islam dalam berbagai faksi pemikiran hingga tataran keyakinan, yang menjadikan umat Islam terpecah belah dan semakin jauh dari Islam. Hal inilah yang akan terus menjadi penghalang perjuangan menegakkan sistem Islam dan justru melanggengkan kekufuran.

Jelaslah bagi kita, Islam moderat tidak akan mampu mempersatukan umat Islam. Malah yang terjadi sebaliknya, yaitu memecah belah bahkan mengadu domba umat Islam dengan cara mengotak-ngotakkan atau mengelompokkan umat Islam semau mereka (Barat). Hal ini sama saja menghalangi terjadinya persatuan Islam di muka bumi ini.

Umat perlu disadarkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaannya hanya akan menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) ketika diterapkan syariatnya secara kaffah. Inilah jaminan kebahagiaan umat manusia di dunia maupun di akhirat.

Umat tak butuh moderasi, juga pemikiran kufur dan rusak lainnya. Tak hanya itu, umat juga perlu disadarkan bahwa penerapan syariat Islam secara keseluruhan tak mungkin dilakukan dalam sistem bermasyarakat dan bernegara hari ini.

Jangankan keseluruhan, sebagian saja aturan Islam ini diformalkan segera saja lisan-lisan para pembenci Islam menyerangnya. Bahkan ketika para ibu memakaikan kerudung ke anak anak mereka, -sebuah perkara yang sangat privat dan sama sekali tak “‘mengganggu” siapa pun ikut dipermasalahkan. Sungguh, demikianlah kondisi umat ketika Khilafah tak ada. Maksiat dipermudah, menjalankan syariat terasa berat.

Inilah perang yang sesungguhnya. Perang antara al-Haq dan al-Bathil yang pasti akan terus terjadi. Kebatilan bisa jadi akan menguasai manusia, sebagaimana yang terjadi saat ini. Tapi itu tak akan lama. Secara sunatullah, kebenaran (al-Haq) itulah yang akan menang. Demikianlah janji Allah SWT dalam firman-Nya, “Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (QS Al Anbiya [21]: 18).

*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Umat

Baca Juga