oleh

Mengapa Kita Bermazhab Al Imam Syafi’i RA ?

Oleh : Ust. Dr. H. Miftah el-Banjary

Mazhab secara bahasa artinya adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata zahaba – yazhabu – zihaaban .

Mahzab adalah isim makan dan isim zaman dari akar kata tersebut.

Sedangkan secara istilah, mazhab adalah sebuah metodologi ilmiah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah dan Sunnah Nabawiyah.

Mazhab yang kita maksudkan di sini adalah mazhab fiqih.

Adapula yang memberikan pengertian mazhab fiqih adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu’.

Barangkali selama ini kita hanya mengenal empat imam mazhab dalam Fiqih, yaitu:

1. Mazhab Hanafi yang dinisbahkan pada Al Imam Abu Abu Hanifah atau lengkapnya Al Imam Nu’man ibn Tsabit bin Zuta ibn Marzuban RA.

2. Mazhab Maliki yang dinisbahkan pada Al Imam Malik Ibn Anas Ibn Malik ibn Amr Al-Asbhahi RA.

3. Mazhab Syafie yang dinisbahkan pada Al Imam Muhammad ibn Idris Ibn Abbas Ibn as-Syafi’i RA.

4. Mazhab Hanbali yang dinisbahkan pada Al Imam Aḥmad bin Muḥammad bin Ḥanbal Abū ʿAbd Allāh al-Shaybānī RA.

Padahal selain imam mazhab yang empat itu masih terdapat banyak mazhab fiqih yang dikenal dalam Islam, diantaranya :

1. Mazhab Al Imam Abu Laits bin Sa’ad RA yang juga merupakan guru sekaligus sahabat diskusi Al Imam as-Syafi’i RA sewaktu Beliau RA belajar di kota Makkah.

2. Mazhab ad-Zhahiri
Mazhab ini dinisbahkan pada Al Imam Dawud bin Ali RA, Al Imam Abu Sulaiman Al Asfahani Adh Dhahiri RA.

Di lahirkan di Kufah tahun 202 H dan wafat di Baghdad tahun 270.

Ia termasuk ahli hadis dengan tingkatan Hadifl (yang menguasai hadis dan ilmunya secara keseluruhan) disamping ia seorang ahli fiqh, mujtahid, memiliki madzhab tersendiri.

Sebelumnya ia adalah pengikut madzhab Al Imam Syafi’i RA di Baghdad.

3. Madzhab Ahlul Bait Al Imam Ja’far as-Shadiq RA

Mazhab ini dinisbahkan pada As Sayyidina Abu Abdullah Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin RA (80-148 H).

4. Mazhab Syiah az-Zaydiyyah

Pendiri madzhab ini adalah As Sayyidina Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain RA (W 122 H). Beliau RA adalah Imam Syiah Al Zaidiyah.

Beliau RA seorang Imam di zamannya dan seorang ilmuwan luas.

Sebab ia menguasai ilmu Al Quran, Qira’at, fiqh.

Bahkan Beliau RA terkenal dengan julukan Haliful-Qur’an.

Ia juga memiliki kitab fiqh yang paling dahulu “Al Majmu’” dicetak di Italia kemudian diuraikan (syarah) oleh As Syarifuddin al-Shan’ani RA tahun 1221 H dengan judul Ar Raudlun Nadlir dalam empat jilid.

Dan masih ada banyak aliran mazhab lainnya yang dikenal dalam sejarah peradaban keilmuan Islam.

Namun, mazhab-mazhab itu tak bertahan dan tersebar luas sebagaimana mazhab empat imam yang tersebut diatas.

Lantas pertanyaannya, “Apakah kita wajib bermazhab?

Mengapa kita tidak langsung memahami hukum-hukum Fiqh pada sumbernya langsung; Al Qur’an dan Al Hadits ?

Mengapa kita harus bermazhab ?

Bukankah Imam Mazhab yang empat itu juga manusia biasa seperti kita?”

Pertanyaan seperti ini seringkali dipertanyakan oleh orang-orang yang baru mengenal keilmuan dalam Islam dan saking bersemangatnya kembali pada slogan “Kembali pada Al Qur’an dan As Sunnah”.

Baik! Untuk menjawab pertanyaan orang-orang seperti ini, kita perlu dulu menguji pemahaman mereka terhadap al-Qur’an itu sendiri.

Menguji kemampuan analisa hadits mereka sendiri. Menguji kemampuan bahasa Arab mereka sendiri.

Membandingkan kemampuan mereka dengan para imam mujtahid itu sendiri.

Seberapa jauh pemahaman mereka terhadap istilah “Musytarak” di dalam al-Qur’an ?

Seberapa pemaham mereka terhadap Asabun Nuzul al-Qur’an ?

Seberapa pemahaman mereka terhadap al-Istishab, al-‘am, at-takhsis, am-majaz, almasalih, al-muqayyad dan istilah-istilah ushul fiqh lainnya ?

Lucunya, terkadang orang-orang yang menslogankan “Kembali pada Qur’an dan Sunnah” justru belum menguasai bahasa Arab yang merupakan pondasi dasar dalam memahami al-Qur’an dan sunnah itu sendiri.

Mari kita lihat sejarah, bagaimana al-Imam Nawawi ; Seorang ulama besar di zamannya yang telah mengarang ratusan karya yang menjadi rujukan dan referensi keilmuan pun masih berkenan taqlid bermazhab pada Al Imam Syafi’i RA.

Padahal sekiranya beliau mau membuat mazhab sendiri pun sudah sangat mumpuni dan memenuhi persyaratan sebagai seoran mujtahid.

Namun, Beliau RA masih memiliki adab dan tata krama terhadap keilmuan Al Imam Al Syafi’i RA yang lebih senior dan hidupnya lebih dekat dengan masa kenabian dibandingkan pada masa kehidupan beliau ketika itu.

Pada kitab ‘At-Thabaqat as-Syafi’iyyah” yang berjilid-jilid itu, kita akan mendapati biografi para imam mujtahid yang sangat luar biasa keilmuan serta karya-karya mereka yang beratus-ratus jilid, namun mereka masih berkenan menjadi pengikut mazhab Al Imam Syafi’i RA, disebabkan keilmuan yang telah Allah SWT anugerahkan pada sang Imam Mujtahid Muthlaq itu.

Kita sama-sama mengenal Al Imam Syafi’i RA hidup yang lahir pada rentang tahun 150 H- 240 H yang masih tergolong pada masa Tabiut Tabien.

Dengan demikian, kehidupan Beliau RA masih sangat dekat dengan masa kenabian dibandingkan para ulama sesudahnya.

Beliau RA masih sempat berguru dan mengambil riwayat hadits dari para ulama yang pernah bertemu langsung sejaman dengan periode para sahabat Nabi SAW.

Sehingga dapat dipastikan keotentikan hadits-hadits yang beliau riwayatkan masih sangat murni dan terjaga baik.

Bahkan, Al-Imam Bukhari RA yang kitab haditsnya “shahih Bukhari” dijadikan sebagai referensi kedua setelah al-Qur’an pun masih banyak mengambil periwayatan hadits yang bersumber dari jalur sanad Al-Imam Syafi’i RA.

Sementara ada kalangan salafiyyah yang mempertanyakan “Mengapa dalam ijtihad fatwa Al Imam Syafi’i RA tidak mengambil periwayatan hadits yang bersumber dari Al Imam Bukhari RA ?

Bukankah Al Imam Bukhari RA lebih utama dalam periwayatan hadits?”

Hellow.. Imam Syafie lahir tahun berapa?

Al Imam Bukhari RA lahir tahun berapa?

Asal tahu saja, Al Imam Syafi’i RA lahir tahun 150 Hijriyyah dan Imam Bukhari lahir pada tahun 194 Hijriyyah. Artinya apa ?

Artinya Al Imam Syafi’i RA sudah berumur 44 tahun, Al Imam Bukhari RA baru dilahirkan di Bukhara yang sekarang dikenal dengan kawasan Khurasan.

Al Imam Syafi’i RA ketika itu sudah menjadi Al Imam Mujtahid Muthlaq di Mesir dan telah melahirkan fatwanya yang terkenal dengan nama “Fatwa al-Jadiid”, ketika Al Imam Bukhari RA masih bayi.

Dan ketika Al Imam Syafi’i RA berpulang ke rahmatullah pada usia 54 tahun, Al Imam Bukhari RA masih berusia 10 tahun.

Al Imam Syafie RA di Mesir dan Al Imam Bukhari RA di Khurasan.

Lebih-lebih lagi, Al Imam Bukhari RA baru mengumpulkan dan menyeleksi hadits pada usia 16 tahun atau 6 tahun setelah wafatnya Al Imam Syafie RA.

Apakah Al Imam Bukhari RA pernah bertemu dengan Al Imam Syafi’i RA meski lewat Skype atau Video Calling? Hellow..

Jadi wajar saja Al Imam Syafi’i RA tidak pernah meriwayatkan hadits dari Al Imam Bukhari RA, sebab yang terjadi malah sebaliknya.

Bahkan, Al Imam Bukhari RA-lah yang banyak meriwayatkan hadits-hadits yang bersumber dari Al Imam Syafie RA.

Bahkan, jangan salah!

Al Imam Bukhari RA pun mengikut dan menganut mazhab dari Al Imam Syafi’i RA.

Lihat saja, Al Imam agung selevel Al Imam Bukhari R saja masih bermazhab, apalagi kita, Al Imam Syafi’i RA lagi mazhabnya.

Silahkan baca biografi Al Imam Bukhari RA!

Lantas Mengapa kita harus bermazhab Al Imam Syafi’i RA ?

Perlu dipahami bahwa kata “harus” disini mengandung redaksi ungkapan “penekanan” bahwa kita tidak akan menemukan metode tata cara beribadah yang lebih moderat, dan adil sebagaimana mazhab Al Imam Syafi’i RA.

Dalam biografi Imam Syafie diriwayatkan bahwa suatu malam Imam Syafie pernah bertemu dengan Rasulullah di dalam tidurnya.

Dan disana Beliau RA mempertanyakan tentang pendapat dan fatwanya pada Rasulullah SAW.

Lantas Rasulullah SAW tersenyum dan memberikan timbangan pada Beliau RA sebagai isyarat bahwa fatwa-fatwa yang beliau hasilkan sangatlah adil dan sesuai dengan ajaran Rasulullah shallahu alaihi was salam.

Al Imam Syafi’i RA telah hapal al-Qur’an di luar kepala dengan fasihnya pada usia 7 tahun.

Beliau RA telah menguasai ilmu hadits Muwatha karya Al Imam Malik RA yang berjumlah lebih dari 1.720 hadits di luar kepala dan diberikan otoritas menjadi qadhi (hakim agung ) pada usia 17 tahun. Subhanallah!

Mengapa Mazhab itu bisa sampai ke Indonesia dan mayoritas dianut oleh muslim di Asia tenggara?

Kita sama-sama maklum, bahwa Islam yang pertama kali dibawa oleh para wali songo, bahkan lebih awalnya pada awal abad ke-7 pada masa As Sayyid Jamuluddin RA dan saudaranya berasal dari Islam yang bersumber dari kalangan Ahlul Bait keluarga keturunan Rasulullah SAW yang moyangnya berasal dari negeri Hadramaut Yaman.

Kita juga sama-sama tahu bahwa keislaman di negeri Yaman, khususnya Hadramaut Yaman adalah hasil dari dakwah sahabat Nabi SAW yang paling faqih dan alim di masanya, yaitu As Sayyidina Muadz bin Jabbal RA yang diutus berdakwah menjelang wafat beliau.

Di sanalah Islam Nusantara berasal.

Dan di bumi Nusantara inilah mazhab Al Imam Syafi’i RA bertumbuh kembang melalui pengajaran di pondok-pondok pesantren yang disampaikan dan diajarkan oleh para ulama dan para waliyullah kepada kita.

Bahkan, di Malaysia dan Brunei Darussalam mazhab Al Imam Syafi’i RA dijadikan mazhab fiqh resmi kerajaan.

Para wali songo juga bermazhab Al Imam Syafi’i RA.

Datuk nenek kita juga bermazhab Al Imam Syafi’i RA.

Persatuan umat islam di Nusantara beratus ratus tahun pun diikat dengan kesamaan mazhab Al Imam Syafi’i RA.

Aliran fiqih tradsional keseharian yang kita kenal di hari ini sejak di sekolah-sekolah pun diajarkan Al Imam Syafi’i RA.

Maka akan menjadi rancu dan membingungkan umat ini, bahkan akan muncul potensi konflik jika umat ini dipertentangkan dan dibenturkan dengan pendapat imam mazhab diluar Al Imam Syafi’i RA.

Karena bagi orang awam masih akan sulit menerima perbedaan meskipun hanya sekedar furu’, sebab masih sulit bagi kebanyakan mereka memahami mana perbedaan furuiyyah dan perbedaan ushuliyyah.

Kita sebagai orang awam pun perlu bermazhab Al Imam Syafi’i RA, disebabkan keilmuan dan keulamaan Al Imam Syafi’i RA tak lagi diragukan.

Bahkan Al Imam Malik RA sang gurunya pun memuji kehebatan dan kejeniusan Al Imam Syafi’i RA.

al-Fatihahata ila rouhi al-Imam al-Mujtahid Muhammad bin Idris bin Abbas as-Syafi’i RA…

(HBS)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed